Uang Pada Dasarnya & Pada Akhirnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Tentu saja ilmu saya masih sangat cethek, dibanding para kyai sepuh di beberapa pesantren sohor Indonesia. Dan ketika para kyai ngendika; dunia ini berputar karena pusat segalanya ada di selangkangan, mungkin ilmu kadonyan saya, terutama soal selangkangan, masih sangat cethek. Tak sebanding.

Waktu itu, saya pikir, pusat segalanya adalah uang. Karena uanglah, menurut Voltaire, agama semua umat adalah sama. Tapi, ketika para kyai berkata masih ada yang lebih hakiki, yakni selangkangan tadi, saya terpana. Mungkin dari sinilah lahir fatwa; nikmati seks setelah muhrim. Karena kalau bukan muhrim ada dua kemungkinan; sama-sama pengen atau karena uang.

 

 

Ketika suara rakyat diperebutkan, untuk kursi bupati, gubernur atau presiden sekalipun, apa sesungguhnya yang hendak diberikan? Kesejahteraan rakyat jelata? Semuanya akan ngomong demikian. Semuanya akan ndakik-ndakik ngomong keindahan dunia akherat. Tetapi, bagaimana setelah kekuasaan diraih? Jangankan setahun, beberapa hari saja kita melihat beda bulus dan tulus.

Di Indonesia sudah ada klaim “pemerintahan gerindra”, sebagai tandingan pemerintahan formal yang diakui rakyat Indonesia dan konstitusi. Tentu saja wajar saja dalam politik, apalagi oleh partai oposisi. Namun hal itu menjelaskan dengan jelas, dan mengaburkan dengan kabur, bahwa orientasi parpol' itu' memang mau menggulingkan pemerintahan yang sah. Baik dengan cara sah maupun apapun.

Partai Gerindra, juga PKS (dan kemudian PAN), tampaknya mulai percaya diri merebut Indonesia, dengan kemenangan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Ahok telah berhasil digulingkan begitu rupa. Dengan segala macam cara.

Ahok dalam hal ini, terlalu lugu dan naif. Apakah hanya ‘orang muslim tanda petik’ saja yang ingin menjungkalkan Ahok? Tentu tidak. Karena barisan konglomerat, yang selama ini ditudingkan kubu lawan berada di belakang Ahok, hanyalah tehnik pengelabuan, yang dalam istilah sepakbola disebut diving. Di mana sesungguhnya 9 Naga? Ada di pihak penguasa yang mendukung kepentingannya. Amien Rais tahu soal itu.

Dengan tersingkirnya Ahok, maka proyek reklamasi Teluk Jakarta justeru makin menguntungkan mereka, karena ‘upaya penyelamatan’ yang hendak dilakukan Ahok tak disukai semua pihak. Reklamasi yang dasar hukumnya kuat, dan tak bisa dilawan itu, justeru dipakai untuk melawan Ahok. Menjungkirbalikkan segalanya.

Kini kita tahu 9 Naga ada di mana, dan kesepakatan-kesepakatan baru apa, yang terjadi dengan gubernur baru soal reklamasi dan Meikarta? Pada akhirnya, uang juga yang bicara. Terlalu naif Ahok yang hanya punya panggung di depan, dan tak punya panggung di belakang. Juga kasihan rakyat keseluruhannya, termasuk yang mengaku para demonstran, dan aktivis (fesbuk). Sila menangisi uang, yang ternyata juga tak didapat.

Tak ada yang salah dalam berhubungan dengan uang. Hanya soal niat, cara, tindakan dan tujuannya sajalah, yang jadi ukuran terhormat atau terbangsat. Hidup selangkangan!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Wednesday, October 25, 2017 - 22:15
Kategori Rubrik: