Uang dan Legitimasi Negara

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Uang adalah lambang legitimasi negara. Legitimasi ini di ongkosi dengan sangat mahal. Proses pembuatannya pun di lakukan dengan sangat hati hati. Dari penentuan bahan baku kertas, tinta, sampai penomoran seri harus memperhatikan sekuriti dari segala kemungkinan bisa di tiru dengan tekhnologi cetak yang ada. Apabila sekuriti terpenuhi maka mulai dibuat design dari cetak. Soal design ini tidak bisa dibuat sembarangan. Karena dasarnya adalah UU 7/2011. Gambar apakah yang akan di tampilkan pada uang kertas. Itupun BI tidak buat sembarangan. Karena harus berdasarkan Kepres. Itu uang baru sekarang berdasarkan Keppres Nomor 31 Tahun 2016.

Nah kalau ada yang mempertanyakan , bahkan ada yang mau laporkan ke Mabes Polri, Gubernur BI, Menteri Keuangan, juga Peruri sebagai pencetak dan desain, atas ada dugaan bahwa pada uang kertas itu ada mirip lambang palut arit. Sebetulnya targetnya adalah Presiden karena uang di cetak dasarnya Kepres dan keberadaan negara ini dimana design uang dibuat berdasarkan UU. Bagaimanapun itu hak pelapor. Yang penting apapun di lakukan untuk menjatuhkan reputasi pemerintah dan selalu ada alasan untuk itu, padahal pemerintah sedang berjuang keras mengatasi kondisi ekonomi dalam negeri karena ekonomi global yang tidak ramah akibat krisis yang masih berlanjut. Yang pasti, Pollsi berpihak kepada Hukum dan UU, dan mungkin karena tersudut, Pelapor minta dukungan dari DPR dan di terima oleh wakil Ketua DPR , Fadli Zon,Fahri Hamzah.

Semua karena paranoia terhadap asing atau aseng. Padahal dampak instabilitas politik bisa berakibat hengkangnya investasi aseng dan asing. BIla itu terjadi, hanya hitungan tahun negeri ini bisa ambruk. Benarkah ? Saat sekarang kita mengalami defisit primer dan DSR yang sudah diatas 40%. Tahu artinya? penerimaan negara tidak cukup menutup ongkos , apalagi untuk bayar bunga dan hutang. Setiap seratus penerimaan ekspor , lebih setengahnya untuk bayar hutang. Kalaupun bisa menjatuhkan Pemerintah ini ditengah jalan, tidak akan bisa mengatasi keadaan. Bahkan tambah hancur negeri ini. Karena untuk sampai mencapai stabilitas dan menumbuhkan kepercayaan international butuh waktu lama.

Dan selama itu, situasi akan semakin kacau, pihak marhaen akan melawan, pihak islam pendukung khilafah akan menghadapinya , non islam yang kaya raya akan dengan mudah hijrah ke singapore dan malaysia. Sementara di dalam negeri terjadi battlefield. NKRI bubar, menjadi negeri kecil kecil. Yang gembira ya Australia, Amerika untuk bagi bagi kavling. Papua di ambil mereka dan lainnya jadi negeri kecil yang menjadi pengemis kepada asing untuk membangun. Karena tidak ada kas untuk biaya anggaran.. Sangat mengerikan bila membayangkan akibat sikap sebagian orang dan sangat prihatin bila melhat pemerintah tak henti di goyang dan di rusak reputasinya...

Pak Jokowi tetaplah kuat dan sehat.! Hadapi mereka dengan cepat agar momentun pertumbuhan ekonomi terjaga dan kita bisa keluar dari krisis global. Semoga Polisi dan TNI tetap istiqamah menjaga NKRI dari segala rongrongan dalam bentuk apapun. Now or never..

 

(Sumber: Status Facebook Erizeli)

Thursday, January 12, 2017 - 05:30
Kategori Rubrik: