Uang dan Emas

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dulu sekali awalnya umat manusia tidak kenal uang. Kalau mereka butuh sesuatu, jual-belinya dengan cara barter atau tukar menukar barang.

Kemudian mulai digunakan alat tukar dengan bermacam benda. Namun yang terus leading di hampir semua peradaban manusia hanya dua, yaitu emas dan perak. Perunggu, kuningan, besi, alumunium pernah juga digunakan. Tapi tidak disepakati.

Maka jadilah emas itu alat tukar dan disebut sebagai uang. Di Eropa, Asia, Afrika dan semua peradaban, manusia sepakat menjadikan emas dan perak sebagai uang alias alat tukar.

Di masa berikutnya manusia masih menggunakan emas perak sebahai alat tukar, namun mereka tidak lagi membawa emas perak secara fisik. Yang mereka bawa hanya secarik kertas, yang isinya pernyataan dari pihak bank, bahwa yang bersangkutan punya emas atau perak dengan jumlah sekian.

Maka kertas mulai digunakan sebagai 'wakil' dari emas dan perak. Yang beredar di tengah masyaralat adalah kertas terbitan dari pihak bank.

Lama-lama kertas itu sendiri malah disebut sebagai uang. Padahal sebenarnya masih merupakan wakil resmi dari emas dan perak yang disimpan di bank.

Masuk pertengahan abad ke-20, uang kertas yang beredar jauh melebihi emas dan perak yang sesungguhnya. Dan akhirnya hubungan antara emas perak dengan uang kertas benar-benar putus tus tus.

Uang kertas yang beredar sama sekali tidak ada kaitannya lagi dengan emas dan perak. Tapi semua orang mengakuinya sebagai alat tukar. Posisinya benar-benar menggantikan emas dan perak secara 100 persen.

Menarik untuk ditelaah bahwa Allah SWT mewajibkan zakat hanya sebatas emas perak saja. Dan para ulama sepakat bahwa fulus tidak terkena kewajiban zakat.

Padahal fulus itu sebenarnya alat tukar juga. Masih termasuk uang namun bukan logam mulia sebagaimana emas perak. Maka siapa pun yang memiliki fulus meski jumlahnya banyak, tidak dikenakan kewajiban zakat.

Sebagaimana tidak ada kewajiban zakat atas kekayaan lain non emas perak, seperti tanah, rumah, kuda tunggangan, senjata, baju besi, budak, kebun, ladang, dan alat-alat pertanian dan benda lainnya.

Maka ketika hari ini sudah orang tidak lagi menyimpan harta dalam bentuk emas perak, tapi dalam bentuk fisik uang kertas, muncul pertanyaan :

Apakah uang kertas yang kita miliki ini terkena zakat sebagaimana emas dan perak? Ataukah tidak terkena zakat sebagaimana fulus?

Sebagian ulama kontemporer menyatakan bahwa kewajiban zakat emas dan perak itu sifatnya ta'abbudi alias ibadah ritual yang tidak bisa dicerna nalar logika.

Allah hanya mewajibkan zakat atas kambing, sapi dan unta. Tidak ada kewajiban zakat atas ternak ikan, udang, kerang, burung, ayam, walet, dan lainnya.

Semua hewan itu tidak boleh diqiyas begitu saja seenaknya dengan kambing, sapi dan unta. Sebab ketentuan zakat itu bersifat ta'abbudi.

Namun sebagian kalangan ngotot ingin menerapkan qiyas pada zakat. Maka hampir semua zakat modern di masa sekarang ini didasarkan pada qiyas. Qiyas pada masalah ubudiyah.

Sayangnya agak sulit mengqiyas zakat ikan lele, mau diqiyaskan ke kambing kok rasanya gak nyambung, apalagi sapi dan unta. Malah sangat tidak nyambung. Apanya yang mau diqiyas?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, December 15, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: