Tweet Menyesatkan Hilmi Firdausi

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Menanggapi ini, saya mencatat ada dua poin kekeliruan dalam tweet:

1. Tweet ini seolah ingin menyandingkan gelar Mualaf zaman ini dengan Mualaf zaman Nabi. Gak fair. Jelas berbeda dari segi apapun. "Mualaf" zaman Nabi, yakni para Sahabat, belajar LANGSUNG kepada Rasulullah SAW. Sehingga SANAD KEILMUANNYA JELAS. Sedangkan mualaf zaman sekarang? Mau bilang belajar ke Rasulullah langsung? Ngayal.

Dari mana bisa belajar langsung sedangkan kita tidak sezaman dengan Beliau? Saya tidak percaya kalimat "belajar langsung kepada Nabi" jangan-jangan nanti belajar Al-Qur'an juga "belajar langsung dari Allah SWT" tanpa melalui perantara guru ngaji. Padahal tanpa peran Guru ngaji, Kyai dan Ulama, kita mungkin gal bakal kenal Islam, gak bisa ngaji, dll.

Sekali lagi, para SAHABAT setelah masuk Islam belajar LANGSUNG kepada Rasulullah, barulah berdakwah. Sedanglan di zaman kita, hanya bisa belajar melalui perantara TIDAK LANGSUNG. Yakni melalui perantara para Kyai dan Ulama. Nggak bisa otodidak. Segala sesuatu butuh guru, butuh waktu. Nggak ada yang instan, Mie instan aja ada prosesnya dulu sebelum bisa dimakan, apalagi belajar agama? Kalau nggak benar-benar serius, ngalamat keblinger.

Mualaf dan ustad baru hijrah zaman sekarang, baru di Islamkan tetiba sudah dikasih panggung untuk ceramah. Awal-awal hanya bercerita bagaimana proses pencarian jati diri, oke itu bagus! Bisa jadi pembelajaran bersama soal bagaimana hidayah itu datang kepada manusia. Tetapi kalau kebiasaan terus, sama aja ngasih panggung.

Lama-lama mereka akan merasa nyaman dan akhirnya menyematkan gelar "Ustadz" pada dirinya. Padahal gelar Ustadz kalau di TPQ disematkan pasa Guru ngaji, bahkan di negara lain gelar Ustadz digunakan untuk menyebut gelar Profesor. Nah ini? Baru Mualaf, baru "hijrah", belajar ngaji ke siapa nggak jelas, nyantri dimana juga nggak jelas atau bahkan nggak pernah; tiba-tiba dikasih mic suruh bicara tentang agama. Alhasil, ngomongnya ceplas-ceplos, cocoklogi dalil, cocoklogi tafsir, dan semuanya rata-rata NGAWUR.

Belum lagi kalau dakwahnya bukan semata-mata untuk syiar Islam, melainkan untuk kepentingan komersil. Pastinya bakal tambah ngawur, seperti mengaku sebagai anak Kardinal. Jelas ini menyesatkan umat. Sejak kapan Islam membolehkan berdakwah dengan kebohongan, meskipun hanya soal identitas diri. Lha kalau identitas diri saja dipalsukan, gimana konten-konten dakwahnya?

2. Membela Agama itu nggak harus dengan hijrah lalu ceramah di panggung-panggung dakwah tanpa berbekal ilmu yang mumpuni. Buat kita-kita yang awam ini serta buat orang-orang yang baru Mualaf dan baru "Hijrah", membela agama ya dengan cara ngaji. Ngajinya ke Kyai, ke Ulama, ke orang-orang yang ilmunya mumpuni dan memiliki sanad perguruan yang jelas, syukur-syukur mau nyantri di Pesantren. Gak bisa otodidak. Sekali lagi, yang namanya belajar pasti butuh proses dan waktu yang nggak sebentar. Nggak bisa belajar agama seperti belajar bahasa melalui les privat.

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Tuesday, July 7, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: