Tusuk Keputusasaan

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Pembunuhan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pisau dari jarak dekat, adalah jerit keputusasaan dalam politik. Sekali lagi, kalau kita melihatnya dari kacamata politik.

Pembunuhan kadang memang bagian dari permainan politik. Itu kasar, itu rendahan, itu pukimak buriapus. Karena itu, selama ditujukan sekadar untuk bikin peringatan, biasanya dilakukan dari jarak jauh.

Di USA orang mulai berpikir lain tentang penderita kelainan jiwa, yang datang ke sekolah atau ke bioskop, atau ke keramaian lain, untuk menghambur tembakan. Ketika ditangkap, pelakunya diketahui delusional, pemuja kehidupan entah-entah. Di banyak kasus di masa lalu, cerita berhenti di situ. Si pelaku, either kemudian dirawat di RS Jiwa, atau dijebloskan ke dalam penjara. Titik.

Belakangan analisis terkini berkata lain. Pembunuhan itu direncanakan. Mereka menyewa pasien berpenyakit jiwa untuk melakukannya. Tembakan dihambur ke segala arah. Salah satu yang tewas adalah anak atau istri atau adik atau ayah atau suami dari rival politik yang ingin dijatuhkan. Pelakunya tertangkap dan terbuktikan menderita gangguan mental, salah satu korban tewas adalah bidikan utama. Cerita ditutup. Perancang di belakang layar melenggang bebas.

Dari beberapa sumber saya mendapat kabar bahwa Wiranto mengerjakan banyak tugas di akhir masa jabatan 2014 - 2019. Tak jelas apakah dia ingin meninggalkan legacy atau kepingin terpilih kembali. Yang pasti, dia sibuk pergi ke sana—ke mari.

Dan pagi ini dia ditusuk. Latar belakang langsung mengemuka. Pelaku adalah simpatisan ISIS. Gampang, kan? Kita dengan mudah percaya. Itu memberi kepastian hukum bagi upaya pemerintah yang sesegera mungkin ingin melibas HTI, khilafa, 212, FPI, dan lain-lain. Saya tak ingin membantah.

Yang mau saya katakan, periksa juga kemungkinan bahwa hal tersebut dilakukan rival politik Wiranto. Seperti pasien berpenyakit mental, ISIS dan khilafah adalah tameng. Kelasnya sama dengan stigma PKI yang dulu digunakan para pelacur untuk mendekat ke Soeharto.

Saya tak ingin mengatakan bahwa Wiranto harus dipilih lagi di masa pemerintahan 2024 — 2029. Saya hanya mau bilang, nyang ono harap ditelisik serinci-rincinya sebelum mengambil keputusan bagi jabatan Menko Polhukam.

2024 jadi panggung paling mendebarkan. Semua tahu dan yakin bahwa Jokowi akan membawa Indonesia ke tingkat berikutnya. Penggantinya di 2024 punya kesempatan emas membawa Indonesia ke 3 besar perekonomian dunia. Dia berpeluang untuk dikenang abadi.

Semoga Wiranto segera pulih.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, October 11, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: