Tunggu 5 Hari Lagi, Klaster (Demo UU Ciptaker) Akan Jadi Rekor

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
 
Seorang pekerja yang ikut aksi demo mengatakan tidak takut mati karena covid 19. Tapi saat disinggung UU Cipta Kerja, ia mengaku bisa mati perlahan, "Dengan lahirnya UU Cipta Kerja ini, kami kaum buruh bisa mati perlahan," ujarnya dan diamini rekan-rekan pendemo yang tampak berkerumun tanpa mengindahkan protokol kesehatan untuk menjaga jarak. Bahkan beberapa tampak tidak mengenakan masker.
Hal ini yang disesalkan sekaligus dikhawatirkan masyarakat lain. Di tengah pandemi covid 19, mereka sudah bersedia dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah dan selalu melakukan protokol kesehatan, namun di sisi lain para pekerja dan mahasiswa seenaknya berkumpul berkerumun membuat keramaian.
"Jujur saya jengkel. Kalau mereka bilang gak takut mati ya silahkan mati sendiri saja. Tapi jangan menularkan kepada yang lain. Kami juga capek menjaga kesehatan kami, tapi mereka seenaknya malah berternak virus seperti itu," keluh Rita seorang warga Jakarta.
Apa yang dikatakan Rita juga dibenarkan oleh Rio, yang terpaksa membatalkan kerjanya karena ada aksi demo buruh. Menurutnya, demo memang tidak dilarang, tapi tidak saat pandemi, "Tolong lah pengertiannya. Di tengah pandemi seperti sekarang ini, orang naik kendaraan sendiri tidak pakai masker saja dirazia dan didenda. Lha, ini malah berkerumun tanpa protokol. Saya tidak menolak demo, tapi menolak kerumunannya. Kenapa tidak perwakilan saja sampaikan kepada DPR?" Tanya Rio.
Aksi demo mogok nasional yang direncanakan berlangsung mulai hari ini hingga Kamis besok (6-8 Oktober) menimbulkan banyak pro kontra di kalangan masyarakat. Yang pro lebih ke soal UU Cipta Kerja nya, sedang yang kontra lebih melihat dampak yang ditimbulkan dari aksi demo. Yayat, seorang warga Serang yang ditemui di rumahnya saat ia melihat aksi demo buruh yang tidak jauh dari rumahnya memgatakan aneh.
Lho, kok aneh ya? Ternyata Yayat punya kesimpulan sendiri setelah melihat aksi demo, "Aneh, saja. Dengan virus covid gak takut mati, eh... malah dengan UU itu mereka takut mati. Aneh kan?" Ya, benar juga apa yang dikatakan Yayat. Jadi, siapa sesungguhnya yang Maha mematikan? Covid 19 atau UU Cipta Kerja? Lihat kembali aksi para buruh di Serang yang hanya berlangsung 1,5 jam dan mereka kembali bekerja ke tempat masing-masing.
Apa yang dihasilkan dari demo berkerumun selama 1,5 jam? Yang didapat sangat mungkin adalah, potensi besar terpapar virus. Tidak kah mereka berpikir itu? Pihak pabrik pun dihimbau agar para pekerja yang ikut demo untuk melakukan rapid test, "Pabrik jangan ambil resiko ditutup hanya karena ada pekerjanya yang terpapar," ujar seorang pegawai Pemda Kerawang yang tidak ingin disebut namanya.
Hal ini wajar mengingat kondisi dan status Jabodetabek masuk zona merah dan masih terus menerapkan PSBB. Semakin banyak yang ikut demo, apalagi direncanakan selama 3 hari, maka akan semakin banyak pula penyitas covid 19. Trend kenaikan jumlah kasus semakin bertambah banyak dan akan meluas. Tentu menjadi PR bagi Pemda setempat yang dianggap gagal karena menjadi penyumbang terbanyak kasus positif covid 19.
Aparat sendiri mengaku hanya bisa mencoba menghimbau agar pekerja mengurungkan niat berdemo dan segera membubarkan diri. Mereka juga mengaku bukan membubarkan unjuk rasanya, tapi membubarkan kerumunan karena bertentangan dengan peraturan di tengah pandemi. Bahkan pihak kepolisian menyarankan peserta demo agar melakukan test swab agar tidak membawa virus ke area tempat kerja.
“Kita imbau untuk ikuti protokol kesehatan jadi setiap (pekerja) yang mau keluar (demonstrasi) dari perusahaan itu harus swab,” ujar Kapolsek Pulogadung, Komisaris Polisi Beddy Suwendy ketika dikonfirmasi, Selasa (6/10/2020). Pemerintah Jokowi sudah mengalami dan melalui beberapa kali aksi dan biasa-biasa saja. Demo atau unjuk rasa tetap diakomodir karena itu hak konstitusi rakyat. Tidak masalah meski ada beberapa kali yang berakhir anarkis.
Jadi, pada saat ini. Bukan cara demo nya yang dipersoalkan, namun waktunya yang salah karena di saat pandemi. Siapa yang bisa menjamin jumlah terpapar virus tidak bertambah banyak karena menular? Siapa yang menjamin dirinya sama sekali tidak tertular virus mematikan ini? Dan siapa yang sibuk mengobati? Petugas medis lah yang harus berjibaku. Sama sekali tidak ada akhlaknya, tidak kasihan kepada pekerja medis.
Akan munculnya klaster baru dari kerumunan aksi demo sepertinya sudah tidak terhindar. Para pegiat atau influencer yang kritis akan penanganan pandemi ini sebentar lagi juga akan ngoceh, atau malah diam karena pelakunya adalah fans nya mereka sendiri. Jika pun bersuara maka diyakini tetap menyalahkan pemerintah karena bikin UU tersebut. Yang melakukan demo dan berkerumun adalah orang-orang bebal, yang disalahkan tetap Jokowi. (Awib)
 
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Wednesday, October 7, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: