Tumbangnya Sang Raksasa

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Banyak perusahaan raksasa di masa lalu yang kini bertumbangan. Meski tidak seluruhnya, karena sebagian ada yang bertahan dan tetap eksis.

Secara keseluruhan, saya melihatnya sebagai bagian dari sunnatullah. Ada yang pergi dan ada yang datang, meski juga ada yang tetap bertahan.

Menarik juga untuk mencermati mereka yang bisa bertahan. Apa faktor kekuatannya, trik apa yang dimainkan, kendala apa yang dihadapi, semua menarik untuk diulas.

1. TV Teresterial

Salah satu yang sedang meregang ajal dalam pengamatan saya adalah industri televisi teresterial, yang hidupnya mengandalkan rating iklan.

Ancamannya adalah media sosial yang berbasis video, seperti Youtube, Facebook, Netflix dan lainnya.

Terus terang anak-anak saya tidak kenal RCTI, SCTV, atau pun TVRI. Bahkan tidak ada antena atau pun parabola TV di rumah saya. Di TV saya tidak ada kabel antena yang nancep.

Pokoknya anak-anak saya aman dari pengaruh negatif siaran TV.

Bukan berarti di rumah saya tidak ada pesawat TV. TV punya, tapi isinya Youtube, Facebook dan Netflix.

Nampaknya fenomena ini juga mulai merambah kemana-mana. Bukan hanya pada mereka yang tinggal di tengah kota saja, tapi di desa pun sudah mulai menggejala.

Salah satu potensi keuntungannya adalah kita bisa memproduksi siaran TV sendiri. Tapi kerugiannya, karena siapa pun bisa bikin produksi, maka pengawasannya jadi tidak mudah.

Konten-konten negatif jelas lebih bebas berkeliaran. Di TV tidak mungkin ada siaran teknik bikin bom, lalu melahirkan pasukan teroris yang siap membunuh nyawa atas nama kitab suci.

Kalau pun TV sampai menayangkan konten yang dianggap negatif, masih ada komisi penyiaran. Sedangkan konten yang ada di media sosial, sama sekali aman dari intervensi.

Disana seorang warga negara bisa saja membakar bendera negaranya sendiri. Memaki-maki pemerintahnya sendiri. Bahkan seorang santri bebas mengoblok-goblokkan kiyainya sendiri.

Memang ada UU ITE, namun mengingat begitu masiv-nya konten di media sosial, tentu tidak semua bisa terkover. Ibarat menangkap sekawanan ikan pakai kail, dapatnya ikannya hanya satu dua.

Beberapa Stasiun TV akhirnya ada yang kompromi, mereka 'bermain' juga di media sosial. Padahal media sosial itu tanpa modal, sifatnya gratisan 100%.

Bahkan untuk bisa punya akun di media sosial sama sekali tidak perlu izin apa pun. Termasuk tidak butuh izin dari yang punya platformnya.

Misalnya saya bikin akun di FB ini, sama sekali saya tidak perlu surat pengantar RT/RW, stempel lurah dan camat, juga tidak perlu SKKB, foto kopi KTP/SIM atau ijazah.

Saya bikin bikin akun kapan pun terserah saya, bahkan meski akun anonime atau akun abal-abal sekalipun.

Uniknya peminat medsos ini kemudian selalu bertambah terus hingga melampaui pemirsa televisi. Fenomena ini kemudian ditangkap dengan jeli oleh kalangan dunia usaha yang sibuk mempromosikan dagangannya.

Alih-alih bayar biaya iklan di TV yang harganya tidak masuk akal, mending mereka bikin iklan di media sosial. Selain harganya bisa lebih kompromistis, sasarannya pun juga lebih segmented.

Kita tidak perlu memperdebatkan akurasi data dari AC Nielsen yang hanya mengandalkan sample, karena data dari media sosial jauh lebih nyata, akurat dan pasti. Setidaknya bukan berdasarkan metode sampling, tetapi benar-benar apa ajanya.

Ingat kah kita sewaktu bikin akun, diminta mengisi tanggal lahir dan beberapa data lain. Nah, data inilah yang dijadikan sasaran iklan. Ingat juga kan kalau pas nonton Youtube tiba-tiba nongol iklan?

Atau sadarkah kita ketika tiba-tiba muncul iklan di akun kita, iklannya itu ternyata sesuai dengan apa yang pernah kita cari di mesin pencari Google.

Teknis pemasaran model media sosial ini rupanya jauh lebih tepat sasaran ketimbang model beriklan di TV yang sudah mahal, tapi kurang terlalu jelas sasarannya.

Munculnya media sosial jelas sebuah ancaram kebangkrutan buat TV Teresterial. Oleh karena itu kalau mau bertahan, harus bisa membuat terobosan-terobosan baru yang sesuai dengan zamannya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, September 10, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: