Tulisan Ngawur Gampang Viral

ilustrasi

Oleh : Lantip Wicaksono

Tumbuhnya media sosial mengakibatkan salah satunya memudahkan sebuah tulisan menyebar kemana-mana dalam sekejap. Rendahnya daya kritis, minimnya literasi, enggannya mengendapkan pemahaman makin memperparah tulisan ngawur bin sesat masuk ke gadget kita tanpa filter. Contoh sederhana tulisan berjudul Pembusukan Politik di Istana yang identitas penulisnya ditulis Sty A.

Jelas sekali narasi yang dibangun di artikel itu menyesatkan namun berhasil menyeruak dalam hiruk pikuk ponsel kita berdesakan dengan isu Corona. Bahkan tidak sedikit teman-teman saya yang menganggap uraian dalam artikel itu masuk akal. Padahal faktanya sampah dan menyesatkan.

Mengapa? Asumsi-asumsi yang coba dibangun oleh penulis artikel itu ngawur bin tanpa basis data jelas. Ditambah lagi baris-baris pemahamannya juga rapuh sehingga menyesatkan. Sayangnya yang model-model begini dianggap valid, bahkan alasannya nama penulis itu sengaja disamarkan dengan dalih membahayakan penulis. Bagaimana bisa begitu? Emang sekarang masih Orde Baru? Tiap orang yang berseberangan dengan pemerintah main angkut saja?

Okey, berikut saya tuliskan bantahan dari tiap poin yang dituliskan oleh Sty A itu.

*PEMBUSUKAN POLITIK DI ISTANA*

------ Sty. A. ( 13.05.2020  )

1. Gaung permintaan Presiden bahwa kurva perkembangan Covid pada bulan perbulan hrs menurun / diturunkan ..

Jawab : Tanggung jawab soal perkembangan Covid ada di Gugus Tugas dan hingga saat ini jumlah pasien Covid masih bertambah sejak Presiden mengungkap permintaan itu. Penulis gagal memahami bahwa Jokowi meminta kurva harus menurun itu adalah upaya yang harus dilakukan Gubernur, Bupati, Masyarakat untuk bergerak bersama mematuhi protocol kesehatan.

2. Spontan di tolak IDI .. sebagai organisasi profesi terkait Covid pastilah lebih tahu keadaan sebenarnya apa yg sedang dan akan terus terjadi.

Jawab : lihatlah berita detik.com 7 Mei 2020, IDI menyatakan berat kurva turun bila tidak disiplin. Artinya, kedisiplinan bersama yang bisa menekan penurunan penyebaran Covid. Jadi bukan asal membantah atau menolak. Presiden itu meminta bukan memerintahkan.

3. Penolakan dr IDI bahwa Covid masih akan berlangsung lama tentu menjadi sangat serius, dan masyarakat pasti akan lebih percaya dengan informasi dr IDI.

Jawab : tidak ada pemberitaan bahwa IDI memastikan Covid berlangsung lama. Lamanya Covid itu tergantung dari kedisiplinan masyarakat. Apalagi ditambah kalimat “masyarakat pasti akan lebih percaya dengan informasi dari IDI”. Sebuah asumsi yang tidak berdasar dan mengadu domba.

4. IDI pasti analisanya berdasar profesi keilmuanya sementara istana hanya berdasar kepentingan politik belaka ... krn Presiden sendiri tdk memiliki data pasti ttg wabah Covid di negara ini.

Jawab : Bagaimana bisa menyimpulkan Istana keilmuannya berdasar kepentingan politik? Ditambah Presiden tidak memiliki data pasti tentang wabah Covid. Apakah selama ini pemerintah punya data sendiri dan IDI punya data sendiri? Semua menggunakan data Gugus Tugas, bukan data dari yang lain.

5. Presiden minta kurva di turunkan di pastikan krn tekanan para oligarki yg tdk mau membantu lagi kalau ada permintaan  penambahan biaya untuk atasi Covid..

Jawab : Asumsi ngawur dan tak berdasar. Target penurunan kurva tentu berdasarkan perkembangan kasus, mitigasi pencegahan dan upaya yang dilakukan semua pihak. Bagaimana bisa didasarkan tekanan oligarki yang tidak mau membantu? Apalagi soal biaya? Kita semua tahu pemerintah sudah mengeluarkan Rp 405 T untuk penanganan Covid. Kurang apalagi?

6. Presiden dalam pikirannya kalau begini biarlah wabah Covid akan selesai dengan sendirinya soal berapa korban yg akan jatuh sdh di luar kemampuan untuk mengatasinya.

Jawab : Bagaimana penulis bisa tahu pikiran presiden? Siapa penulis ini? Malaikat? Atau malah Tuhan sehingga tahu yang dipikirkan presiden? Jokowi tidak pernah membiarkan 1 nyawa pun melayang sia-sia. Ada banyak contoh kasus bagaimana upaya presiden dalam menyelamatkan nyawa rakyatnya. Apa kita lupa ketika awal munculnya Covid di China Indonesia langsung berupaya menyelamatkan WNI yang berada di Wuhan? Di kapal pesiar? Dan diberbagai Negara tetangga entah sebagai TKI, Mahasiswa maupun wisatawan.

7. Kalaulah akan lahir kebijakan baru pasti akan bersifat spekulasi krn anggaran untuk Covid stop , krn dianggap akan mengganggu APBN.

Jawab : Penyusunan APBN dilakukan bersama dengan DPR dan semua ada dasarnya baik undang-undang, ekonomi makro, pertumbuhan, dan tak lupa keadilan sosial. Silahkan sebutkan 1 anggaran saja yang berarti mengabaikan Covid. Sty A pasti akan kelabakan menjawabnya.

8. Lahir dan muncullah pembisik yg sangat beragam ke Presiden yg makin camping camping.

Jawab : Emang mudah jadi pembisik presiden? Memangnya Presiden emak elu yang bisa tiap saat elu temuin di kamarnya?

9. Bukan soal bagaimana mengatasi wabah covid tp sibuk dan ribut bagaimana cara menyelamatkan Presiden dr istana.

Jawab : Ada bukti soal pernyataan ini? Presiden harus diselamatkan dari istana? Memangnya Presiden sedang diteror? Disandera? Terancam keselamatannya? Presiden punya mandat jelas selaku kepala pemerintahan dan kepala negara. Selama tidak melanggar undang-undang ya tidak perlu ada tindakan apapun

10. Presidenpun sekarang berada di simpang jalan krn tekanan para oligarki, krn dialah yg telah melahirkan dirinya menjadi presiden.

Jawab : Memangnya siapa yang melahirkan atau mendorong Jokowi jadi Presiden? Ya rakyatlah yang mendorong serta memilihnya. Apa buktinya presiden berada di simpang jalan? Di persimpangan soal apa? Sebutkan siapa cukong-cukong yang berada dibalik Presiden. Wong menteri yang dicokok KPK saja tak pernah dibela agar selamat dari KPK, apalagi cuma pengusaha yang tidak punya basis dukungan politik. Jokowi tidak pernah takut ancaman manusia.

11. Peran LBP makin nyata dalam pikirannya kalau ingin selamat ikuti petunjuk saya

Jawab : Anda tahu posisi LBP apa? Menteri atau penasehat presiden? Maksud “nyata dalam pikirannya” itu pikiran Jokowi? Coba tindakan atau kebijakan apa yang lahir murni dari bisikan LBP dan bukan dari hasil rapat kabinet.. Sty A pasti akan tidak mampu menjawabnya.

12. Pembusukan di istana meninggi karena hal tersebut pasti korelasi dg legitimasi Presiden yg semakin menurun dan merosot.

Jawab : Pembusukan di istana? Pembusukan apa? Legitimasi presiden makin menurun dan merosot itu dilihat dari mana? Ada survey tentang hal itu? Coba tunjukkan mana

13. Keadaan institusi kepresidenan makin memburuk .. politik kasak kusuk makin parah.

Jawab : Institusi Kepresidenan makin memburuk itu indikatornya apa? Kayak orang gila aja semaunya bicara. Politik kasak kusuk itu yang mana? Kebanyakan dengerin Rizieq, Amien Rais, Eggi Sujana dan para alumni 212 sih, jadi imajinasinya liar bin ngawur tanpa arah.

14. Posisi Presiden mulai berubah fungsi *bukan lagi sebagai presiden tapi sebagai pelaksana tugas dr para oligarki*

Jawab : Makin kebawah narasinya makin menunjukkan kelas bahwa Sty A ini pembual dan tak memiliki data apapun atas narasi yang dibangunnya. Sebutkan saja siapa oligarki yang mengatur presiden? Jika punya bukti tunjukkan saja, misalnya pengusaha A bilang apa, Presiden selang berapa waktu mengeluarkan kebijakan yang mendukung pernyataan pengusaha A itu. Sesimpel itu sebenarnya kalau bicara analisis.

15. Harga diri dan wibawa Presiden bukan saja sdh di pertaruhkan tapi sdh lenyap.

Jawab : Wibawa presiden sudah lenyap? Lalu dia kemana-mana ga digubris? Ah kayak anak ga pernah sekolah. Memangnya ketika presiden memerintah A atau B, para menteri melaksanakan H atau G? Coba tunjukkan yang mana? Soal apa?

16. Presiden sdh di sandera oleh ketidak mampuan dirinya sendiri.

Jawab : Ketidakmampuan? Anda tahu siapa presiden Indonesia yang paling jarang berada di Istana. Mengapa? Justru Jokowi sangat kompeten dalam manajemen mengelola sebuah Negara. Dia tahu apa yang harus di cek dilapangan, dievaluasi lantas diputuskan di istana setelah mendengarkan yang disampaikan menteri. Ini koq dibilang tidak mampu. Sty A sungguh-sungguh pemimpi yang kelasnya tukang obrol di pos kamling kampong.

17. Masyarakat sdh merasahan hidup tanpa masa depan yg pasti, karena legitimasi Presiden sdh menguap.. negara berjalan tanpa arah.

Jawab : Hidup tanpa masa depan? Kesimpulan ini dibangun berdasar apa? Silahkan cek, ada kerusuhan dalam pemilu 2014 dan 2019 yang cukup besar terjadi di tempat selain Jakarta? Setelah pemilu apakah ada pemberontakan atau demo besar-besaran terus menerus? Ada konflik social di masyarakat yang berlarut-larut? Apalagi disebut Negara berjalan tanpa arah. Jangan-jangan Sty A ini tidak faham apa itu RPJPN dan RPJMN nih

18. Bahasa tubuh Presiden sdh hampa bukan saja tidak konsisten , tetapi otoritas dan kejujuran presiden sdh hilang ..

Jawab : Anda itu pengamat bahasa tubuh? Hampa? Anda mengamati dari mana? Anda tidak pernah lihat cara Jokowi blusukan tanpa pengawalan ketat? Berhenti ditengah jalan membagi buku atau sembako? Atau tengah malam mendistribusikan beras seperti yang dilakukan Sahabat Rasulullah Umar Bin Khattab? Itu semua bermakna, bukan hanya sumbangannya tapi cara yang dilakukannya belum pernah terjadi sebelumnya.

19. Presiden sdh tidak mampu lagi mengatasi kekacauan negara saat ini

Jawab : Tidak mampu? Kekacauan? Anda tahu apa indikator “ketidakmampuan” Presiden yang dimaksud undang-undang? Jika tidak, baca dulu deh undang-undangnya. Supaya ga kayak rektor sebuah universitas yang ngawur bicara data. Kekacauan dimana? Kacau karena apa?

20. Pembusukan politik di Istana makin membesar dan sangat mungkin makin tidak terkendali.

Jawab : Siapa pelaku pembusukan? Yang membusuk apanya? Di Istana baik-baik saja. Memangnya ada kegentingan disana? Anda tahu dari kasak kusuk, lihat sendiri atau dengar dari tetangga anda yang kebetulan tukang kebon istana? Jangan-jangan anda tidak tahu Istana yang anda maksud yang dimana. Atau jangan-jangan anda tidak tahu di istana mana Jokowi beristirahat. Lalu kalimat sangat mungkin tidak terkendali itu berdasar apa? Penulisnya benar-benar level sesat akut dan narasi yang dibangun sungguh-sungguh memprihatinkan.

 

Thursday, May 28, 2020 - 01:45
Kategori Rubrik: