Tukang Icip-Icip Di Restoran Mekah Itu Telah Berpulang

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Kisah Mbah Moen atau KH Maimun Zubair pernah pura-pura jadi kerja di rumah makan di Mekah ini diceritakan oleh KH Yahya Kholil Staquf. Ceritanya Mbah Moen selalu berusaha menuaikan ibadah haji hampir setiap tahun. Keterbatasan kuota haji tidak menghalangi niat beliau untuk selalu berupaya mendapatkan visa ke Arab Saudi dalam bentuk apapun. Entah Visa haji, Visa kunjungan bahkan Visa sebagai tenaga kerja di Arab Saudi.

Pada saat beliau menggunakan Visa sebagai TKI, beliau pernah diinterogasi berjam-jam di imigrasi Arab Saudi. Karena petugas imigrasi disana tidak percaya orang yang sesepuh itu akan menjadi TKI. Selama diinterogasi petugas dengan menggunakan bahasa Arab, beliau diam saja, pura-pura tidak mengerti padahal beliau sangat fasih berbahasa Arab. Setelah diinterogasi berjam-jam akhirnya dijemputlah beliau oleh petugas haji Indonesia. Saat petugas haji tersebut ditanya oleh petugas imigrasi Arab Saudi :
+ " Benarkah orang ini akan kerja disini?"
- " Bener Pak, sumpriit deh"
+ " Kerja dimana ?"
- " Di Rumah Makan bagian icip-icip"
Entah petugas imigrasi itu percaya atau sekedar kasihan, akhirnya Mbah Moen dilepas.

Mbah Moen adalah ulama besar di Indonesia. Beliau pemimpin Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang. Beliau adalah putra dari KH Zubair. Beliau dilahirkan di Sarang Rembang pada 28 Oktober 1928. Beliau adalah salah satu ulama yang paling dekat dengan Presiden Jokowi selain Habi Luthfi. Pada Pilpres 2019 beliau sangat gigih mendukung Jokowi. Bahkan saat kampanye akbar Jokowi-MA pada tanggal 13 April 2019 Mbah Moen hadir bersama Habib Luthfi dan mendoakan Jokowi dengan khusyuk

Kyai NU sederhana yang menjadi Ketua Majelis Syariah PPP ini mempunyai 10 anak. Salah satunya adalah Gus Yasin yang sekarang menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah. Pengalaman Mbah Moen menjadi wakil rakyat di DPRD maupun MPR sangat panjang merentang. Dan Mbah Moen adalah sosok ulama Merah Putih yang sangat toleran dan sangat mencintai Indonesia.

Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan sementara dari kakeknya beliau meneladani kedermawanan dan rasa kasih sayang. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati sering berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir utara pantai Jawa tidak membuat sikapnya ikut mengeras.

Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau adalah bukti nyata bahwa ilmu tidak harus membuat pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Keseharian seseorang adalah aktualisasi dari sosok sebenarnya dari orang tersebut. Dari keseharian Mbah Moen yang penuh integritas dan konsisten, kita bisa meneladani kehidupan beliau.

Hari ini pada usia yang hampir 91 tahun Kyai Besar sekaligus Guru Bangsa yang pernah kita miliki ini dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Sesuai dengan keinginannya, beliau berpulang di tanah suci Mekkah saat menunaikan ibadah haji.

Innalilahi wa innailaihi rojiun. 
Semoga almarhum husnul khatimah.
Selamat jalan Mbah Moen, 
Doa kami seluruh rakyat Indonesia mengiringi perjalanan pulangmu di alam keabadian.

Salam SATU Indonesia

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Tuesday, August 6, 2019 - 16:45
Kategori Rubrik: