Tujuan Hidup Itu Bukan Surga

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaedi

Kebanyakan kaum Muslimin yg "kental" dg agamanya, mereka analog dg TIPE (C). Di mata mereka Alquran itu masih merupakan paket yg "terembunyi di kedalaman, gelap dan misterius", sangar tapi sakral. Maka mereka sangat butuh dan bergantung pada petunjuk2 lain dari selain Allah, antara lain HADITS nabi, kitab2 TAFSIR dan ajaran2 para ulama yg mereka sebut "ULUMUDDIN", untuk "menerangi" Alquran.

Padahal dg jelas dan tegas Allah menyatakan bahwa Alquran itu PENJELASAN dan CAHAYA TERANG.

... هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ ...
...sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan2 mengenai petunjuk itu ... (Al-Baqarah : 185)
.... تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ ....
... penjelasan ttg segala sesuatu, .... (An-Nahl : 89)

... وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا
... dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an).
(An-Nisa' : 174)

Sangatlah tidak masuk akal jika apa yg disebut "cahaya terang" dari Allah itu malah dirasa perlu "diterangi" dg cahaya dari perangkat lain buatan manusia. Dan tidak masuk akal pula jika di ruang terbuka di siang bolong dirasa perlu lampu senter atw lainnya. Lampu2 tsb hanya diperlukan di kegelapan.

Jika masih merasa "kegelapan" dalam hidup berpedoman Alquran atau Alquran dirasakan masih "gelap", bukan lantas diperlukan "cahaya" lain seperti tafsir, hadits dll untuk menerangi Alquran agar bisa diketahui ada apa di dalamnya, melainkan fenomena itu menunjukkan bahwa Alqurannya tidak "hidup" (tidak menyala dan memancarkan cahaya), maka bagaimana caranya agar Alquran jadi hidup, cahayaNya terpancar.

Yg perlu diketahui/dipahami itu bukan "ada apa dlm Alquran" melaikan "ada apa dlm kehidupan ini", itulah SOAL UJIAN. Dan Alquran yg hidup memancarkan cahaya, akan menjelaskan (menerangi) setiap titik dimana manusia merasa kegelapan.

Ibaratnya di sebuah ruangan yg diterangi sebuah lampu besar, tapi keadaannya gelap gulita, itu berarti lampunya mati. Yg harus dilakukan bukannya mencari lampu2 kecil untuk menerangi lampu besar tadi agar diketahui seperti apa lampu besar itu, apa2 saja yg ada didalamnya. Bagaimanapun aksi2 tsb tidak akn membuat ruangan menjadi terang. Yg harus dilakukan adalah lampu besar tsb dihubungkan kembali dg aliran listrik (setrum) untuk menyalakannya.

Demikian pula dg Alquran, bukan perlu disoroti dg berbagai "lampu2" lain, bagaimanapun tidak akan membuat Alquran jadi terang. Demikian pula jika Alquran malah dibedah, dibongkar, dipereteli. Yg terjadi malah kegelapan semakin parah, para "quranis" malah saling berselisih, berbenturan, bertabrakan di kegelapan..

 

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ نَزَّلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِي ٱلۡكِتَٰبِ لَفِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ
Demikianlah bahwa Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan kebenaran (ilmu), dan sesungguhnya orang2 yang berselisih dalam (ihwal) Al-Kitab itu, mereka dalam perpecahan (penyimpangan) yang amat jauh. (Albaqarah : 176)

Yg harus diupayakan adalah Alquran tsb TERSAMBUNG ("terwahyukan") kembali dengah RUH dari urusan Allah -Ruh Min Amrillah- (dan inilah sejatinya "sholawat") yg akan membuat cahaya Alquran terpancar kembali..

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu RUH dari urusan Kami. (Tanpa ruh itu) kamu tidaklah mengenali apa2 ttg Al-Kitab dan tidak pula ttg iman. Tapi kemudian Kami jadikan Al-Qur'an itu CAHAYA yg dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba2 Kami. Dan sungguh, engkau (rosul) benar2 menuntun ke jalan yang lurus, (Asy-Syura : 52)

Jadi begitulah, ibarat lampu besar tanpa setrum, sebatas jadi pajangan dan "beban" yg perlu dijaga, demikian pula faktanya dg Alquran sekarang ini. Karena tidak memberi cahaya maka orang2 mencari alternatif "lampu" lain yg tentunya buatan manusia, yg terkemas dalam "kitab2 tebal" berjilid2 itu. Sementara Alquran sendiri ditinggalkan sebagai pajangan sakral tapi "sangar", sehingga banyak memakan korban.

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا
Dan Rasul berkata : “Ya Tuhan, benar2 kaumku telah membuat Al-Qur'an ini ditinggalkan.” (Al-Furqan : 30)

Dan terfaktakan pula bahwa "kitab2 tebal" yg mengambil alih fungsi AK-KITAB itu membuat pengusungnya menjadi lemah dan lemot, terpuruk bahkan terkapar.

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ ....
Perumpamaan orang2 yang diusungkan kepada mereka Taurat (Alkitab), kemudian mereka tidak mengusungnya adalah seperti keledai yang membawa kitab2 tebal.... (Al-Jumu'ah : 5)

Apa yg didapat keledai dari kitab2 tebal yg membebani punggungnya..? Hanya nenguras tenaga (energi), membuatnya lemot sempoyongan. Coba buang itu beban2 tak berguna, sang keledai bisa lincah berlari kencang, meski para pemajang Alkitab itu menyebutnya kaum sekuler..

Demikian keadaannya ketika Alquran yg merupakan "paket petunjuk" itu disikapi sebagai paket SOAL atau JAWABAN [perilaku tipe (C)] pengusungnya bukan mendapat cahaya tapi malah jadi terkuras dan terbelenggu.

Hal yg sangat mendasar (fundamental) yg luput dari kesadaran dan kepahaman orang Islam, bahwasanya Alquran itu bukan "lampu" melainkan "cahaNya", Cahaya Robbani. Dan cahaya itu hanya akan terpancar jika ada "lampu" yg memancarkannya. Sementara sistem Robbani telah "mentaqdir" (kadar yg tidak bisa ditawar) bahwa "lampu" yg kompatibel untuk itu ( وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا )hanya seorang rosul.

Tapi sayang 1000x sayang, sebagaimana yg Allah infokan bahwa telah terjadi aksi "pembunuhan" nabi2. Tentunya bukan pembunuhan secara fisik, melainkan : "Telah terjadi aksi ilegal MEMATIKAN (uninstall) "aplikasi" kenabian/kerasulan dari perangkat (lunak) Dienul Islam.. Sehingga dengan demikian Islam yg sekarang eksis ini bukan lagi "agama samawi" karena "central/main system" telah dimatikan dan diganti dg perangkat (jadul) buatan manusia...

 

Masih 1 tipikal lagi perilaku para pemimpi surga (tipe D), Insyaallah bersambung..

 

 

Sumber : Status Facebook Uju Zubaedi

Friday, July 19, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: