Trump Sedang Menghitung Hari

ilustrasi
Oleh : B Uster Kadrisson
Hari ini Congress Amerika telah bersidang secara seremonial untuk mengesahkan kemenangan presiden dan wakil presiden terpilih Joe Biden dan Kamala Harris. Congress Amerika itu seperti MPR yaitu terdiri dari DPD alias The Senate dan anggota DPR atau dengan nama lain House of Representatives. Masing-masing berjumlah 100 dan 435, sehingga ada 535 total suara dengan tambahan 6 anggota yang tidak memiliki hak suara karena merupakan perwakilan daerah pendudukan atau territories. Semua warga negara berhak untuk duduk di sana, tidak perduli apakah mereka merupakan warga pendatang dan tidak lahir di tanah Amerika, paling tidak sudah menjadi warga negara selama sekitar satu dasa warsa dengan riwayat berkelakuan baik dan bertingkah manis.
Sidang Congress kali ini hanya untuk menindak lanjuti hasil pemungutan suara dari Electoral College sebulan yang lalu, yang telah memberikan kemenangan secara de facto untuk pasangan tersebut. Hanya sebagai upacara ketuk palu saja karena tidak ada lagi yang bisa menggugurkan, walaupun si Oyen Trump masih juga kasak kusuk dan bikin ribut. Sejauh tembakan canon dari gedung Capitol di mana Congress sedang bersidang, dia masih berpidato di sebuah taman di dekat Gedung Putih, dan seperti biasa ngebacot tanpa ada kejelasan tentang apa yang disebut. Sementara itu ribuan antek-anteknya yaitu kaum dobrun alias domba gurun yang datang dari berbagai penjuru Amerika masih juga ikutan ngeyel, berdemonstrasi dan bersorak sorai untuk menyambut.
Sama seperti kadrun di Indonesia yang mabok agama, mereka juga membawa-bawa Alkitab dan nama tuan guru Isa untuk mengesahkan perbuatannya yang sangat ironi. Mereka melakukan harrassment atau mengganggu orang-orang yang tidak sejalan dengan pikiran picik mereka termasuk juga Senator dari Utah, Mitt Romney. Mitt Romney yang berasal dari partai Republicans pernah maju melawan Obama pada tahun 2008, dan kemarin diteriaki sebagai pengkhianat saat dalam penerbangan ke ibu kota Washington DC. Karena beberapa hari sebelumnya dia menghimbau para koleganya sesama anggota partai Republicans yang ada duduk di Senate, untuk menyudahi polemik yang digaungkan oleh si Oyen dan lebih menghormati konstitusi.
Walaupun sudah tinggal menghitung hari, si Oyen masih juga tidak mau menerima kenyataan akan kekalahan dalam pilkara atau pemilihan kepala negara dan tidak menyadari kalau dia sudah ditinggalkan berdiri sendiri. Mike Pence, wakil presiden yang selama ini setia mendampingi dan menjadi bayang-bayangnya sudah mengeluarkan surat pernyataan yang resmi. Karena sepertinya dia tidak mau terseret lebih jauh ke dalam tragedi, sebab Mike Pence masih berpotensi untuk kemungkinan menjadi capres dalam pesta demokrasi Amerika empat tahun lagi. Dan yang pasti, sekitar dua minggu lagi si Oyen akan ditendang atau diseret untuk keluar dari kediaman resmi kepala negara Amerika yaitu Gedung Putih.
Perilaku untuk menggenggam kekuasaan yang amat sangat yang sedang dipertontonkan oleh si Oyen Trump, adalah tidak lain untuk mencari segala usaha untuk bisa menyelamatkan diri. Kejaksaan Tinggi di New York sudah siap dengan berkas-berkas yang komplit tentang penggelapan pajak bisnis si Oyen dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk segera dieksekusi. Semua kecurangan korporasinya akan dibongkar dan disidangkan begitu dia dinyatakan sebagai warga negara biasa selepas tanggal 20 Januari nanti. Dan kemungkinan akan ikut terseret beberapa anggota keluarga, yaitu Ivanka dan suaminya serta putra sulung yang mempunyai nama sama, karena mereka pernah tertuduh menggelapkan jutaan dollar uang hasil donasi.
Bulan lalu menjelang Natal, si Oyen dengan tanpa malu-malu dan jorjoran memberikan amnesti hukum kepada para sobat-sobatnya dan semua kroni. Ini memang hak prerogatif seorang Presiden yang sedang berkuasa, tetapi sebelum-sebelumnya tidak pernah terjadi hal yang sangat memalukan seperti ini. Dia mengampuni proses hukuman beberapa orang yang jelas terlibat tindakan korupsi terutama penggelapan pajak, termasuk juga besannya sendiri. Memang sedikit berbeda dengan tehnik korupsi para pencoleng di tanah air yang menggerogoti uang rakyat, di Amerika kebanyakan dilakukan oleh pihak swasta kaya yang mengakali kewajiban untuk membayar pajak yang lumayan cukup tinggi.
Si Oyen Trump sepertinya mendingan ditemani oleh Krisdayanti yang sambil bersenandung menyanyikan lagu miliknya yang sangat legendaris. 'Menghitung hari, detik demi detik..' terdengar berbisik lirih dengan suara serak-serak basah karena sambil menangis. Ah, teringat dahulu ketika lagu ini menjadi senandung pilu ketika kata putus yang tidak juga jelas, karena sudah lama merasa tidak digubris. Tetapi yang pasti waktu si Oyen tinggal dua minggu lagi, rakyat Amerika sudah memberikan vonis, kita lihat saja apakah dia akan melarikan diri keluar negeri, meminta pertolongan sama Putin yang selama ini menjadikan dia sebagai budak rasis.
Tabik.
Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson
Friday, January 8, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: