Trump Loyo

ilustrasi

Oleh : Setya Krisna Sumargo

SEMALAM niatnya nunggu pidato nasional Presiden Trump. Eh, ketiduran! Momen lewat dan baru pagi ini bisa nyimak apa kata Trump terkait pembalasan Iran.

Tadinya saya berharap menemukan pidato menggelora, reaksi yg full semangat bertempur dari Trump, dan drama jauh lebih menegangkan.

Eh, jebul loyo, jeri, penuh retorika pembenaran namun kosong, kata-kata arogan, mau menang sendiri, dan kesombongan seorang super power.

Pidato Trump memang dikemas menghibur, entertainment banget di Gedung Putih. Ia dikelilingi Wapres Mike Pence, Menlu Pompeo, Menhan Mark Esper, Kastaf Gabungan Jenderal Mike Miley.

Tapi wajah-wajah para pembantu dekat Trump ini terlihat sangat-sangat tegang, irit senyum, kaku, dan tampak waswas.

Pence yg berada di sisinkiri belakang Trump, bahkan terus memperhatikan langsung ke arah Trump saat sang presiden berpidato menggunakan teleprompter.

Dugaan saya, yang sempat saya tulis dan posting di lapak ini beberapa waktu sebelum pidato nasional digelar, ternyata mendekati benar.

Trump menurunkan TENSI, dengan sama sekali tidak mengumbar reaksi balasan secara militer. Trump menekankan ingin memperkuat sanksi ekonomi saja.

Gelagat loyonya Trump sebetulnya bisa dibaca sesaat setelah Iran menyerang pangkalan AS di Irak. Sekitar pukul 21.00 waktu Washington, Trump mentwit, segalanya dalam keadaan baik.

Asesmen sedang dilakukan, dan ia menyatakan akan menyampaikan keterangan esok paginya. Saya membayangkan Trump segera bobok bersama Melani Trump, dan tak memikirkan lagi situasi Irak maupun Iran

Jika memang Trump serius dan berani, saat itu juga mestinya ia memerintahkan semua kekuatan militer AS, mendekat ke sekitar Teluk Persia. Mobilisasi tempur disegerakan. Ternyata tidak.

NBC News pagi ini mengabarkan apa yang terjadi saat digelar briefing Trump di hadapan anggota DPR, sebelum pidato nasional di Gedung Putih.

Dua politisi Republik mengungkapkan sangat kecewa atas apa yg disampaikan Trump. "Penjelasan paling buruk dan menghinakan!" kata Senator Mike Lee dari Utah.

"Its was probably the worst briefing I've seen at least on a military issue in the nine years I,'ve served in the Senat," ujar Mike Lee, senator dr Utah.

Apa yg dijelaskan Trump dan para pembantu dekatnya, sama sekali tidak memuaskan, tidak disertai bukti dan fakta-fakta akurat. Utamanya terkait klaim Trump, Qassem Soleimani menyiapkan 'imminent attack' ke AS.

Tanpa data, bukti, fakta kuat, maka memang benarlah serangan terhadap Qassem adlh pembunuhan berencana, sebuah kejahatan perang dalam konteks konflik AS vs Iran.

Aksi itu rangkaian kegiatan kriminal berat, melanggar hukum humaniter terhadap seorang pahlawan bagi banyak orang, terkait pertempuran memusnahkan ISIS dan Al Qaeda.

Kekecewaan senada diungkapkan Senator Rand Paul dari Kentucky. Kubu Demokrat lebih frustrasi lagi. Mereka juga menerima briefing 1,5 jam dr Menlu, Menhan, Kastaf Gabungan dan Direktur CIA Gina Haspel.

"Kami benar-benar tidak punya gagasan ada atau tidak alasan melakukan ini (pembunuhan Qassem)," kata Senator Bonnie Watson Coleman, Demokrat dari New Jersey.

Fakta-fakta menyedihkan ini memang urusan domestik orang Amerika. Trump adalah problem nasional AS. Pemimpin aneh yg terpilih di tengah wabah post truth.

Tapi sebagai pemimpin negara terkuat sejagat, Trump juga menjadi urusan global. Efek kepemimpinannya yg impulsif bisa ke mana-mana.

Jadi tensi perang di Irak, Iran dan Timur Tengah kemungkinan akan mereda, sepanjang Trump dan militer AS tidak bertindak gegabah lagi menyerang Iran.

Begitu juga Israel mesti "dikurung" supaya tidak bertindak liar. Wajah Timteng mungkin akan berubah seiring tampilnya Iran sebagai kekuatan yg sangat layak diperhitungkan.

Eh, kita melewatkan momen epik di tengah krisis Iran. Presiden Putin dan Erdogan tampil manis, meresmikan TurkStream, jalur pipa gas Rusia lewat Laut Hitam, melintasi Turki sebelum masuk Eropa Timur

Sumber : Status Facebook Setya Krisna Sumargo

Friday, January 10, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: