Trump dan Stabilitas Dunia

Oleh : Aldi Bhumi

Beberapa hari ini aku gak nulis. Banyak hal yg aku lewatkan.

Masalah siapa timses Jokowi, siapa timses Prabowo, masalah 2 kakinya SBY, masalah Pancigate d kemenpora, banyak lagi. Berita dalam negeri menarik, tapi konsentrasiku sedang tersita oleh kejadian2 d luar negri. D negri paman Sam.

Bagiku ini sangat menarik. Krn yg ga bisa d pungkiri, krisis Emerging Market yg terjadi saat ini sedikit banyak d pengaruhi keputusan2 Trump yg terbilang absurd. Krisis yg mempengaruhi kejatuhan Lira Turkey, Peso Argentina, termasuk Rupiah Indonesia.

Yg menarik adalah berita seminggu terakhir ini.

Kurang lebih semenjak Jumat lalu aku dengar bahwa Bob Woodward, jurnalist yg dalam artikelnya bersama Bernstein menjatuhkan Richard Nixon dalam skandal Watergate pada 1972, akan mempublish sebuah buku. Fear: Trump in the White House.

Bob bukan sembarang jurnalist. Selama ini Bob sudah mewawancara 8 presiden, dengan setidaknya 4 buku yg d terbitkan. Salah satu buku dan reportasenya, All the President's Men 1974, menjadi faktor kejatuhan Nixon.

Bob adalah pemegang 2 Pulitzer untuk reportasenya dalam kasus Watergate tahun 1973 dan 9/11 pada tahun 2002. Dalam setiap reportase Bob, dia d kenal hanya bersedia mewawancara dan hanya memasukkan laporan k tulisannya, bila nara sumber bersedia bicara "on the record". Yg artinya ada rekaman untuk setiap quote nya dalam tulisan.

Tetapi pada minggu yg sama saat aku dengar rencana penerbitan buku itu, New York Times memuat artikel yg langka d muat dalam sejarah New York Times. Hari Rabu, tgl 5, aku baru saja membaca Op-Ed NYT, yg d tulis oleh insider elite Trump dgn excerpt:

"I work for the president but like-minded colleagues and I have vowed to thwart parts of his agenda and his worst inclinations."

Op-Ed ini d terbitkan oleh NYT dengan melindungi identitas penulis. Bukan berarti ini article anonym. Dan NYT berani menerbitkan Op-Ed ini, berarti NYT berani mempertaruhkan namanya untuk menjamin kebenaran claim identitas penulis.

Sebelum aku membaca buku Fear, artikel ini sudah memperkuat isi buku Bob Woodward terlebih dulu.

Isi buku Bob sendiri berisi nada yg sama. Menggambarkan rasa takut dan kekacauan dalam administrasi Trump, yg membuat frustasi para staff White House.

Aku tdk bisa memberikan link buku tersebut, krn melanggar hukum. Tapi paling tidak aku bisa gambarkan highlight yg tertulis dalam buku.

Salah satunya adalah tentang penasehat ekonomi Trump, Gary Cohn, yg menyembunyikan surat US South Korea Free Trade Agreement yg dapat menyudahi kerjasama ekonomi US dgn Korsel, agar Trump tdk menandatanganinya.

"It's not what we did for the country...It's what we saved him from doing," ketika Bob bertanya mengapa Gary melakukannya.

Satu lagi ketika John Dowd, mantan pengacara pribadi Trump, menceritakan pada Mueller dalam investigasi keterlibatan Russia pada pilpres US 2016, ketika dia mempersiapkan Trump untuk d wawancara Mueller.

Dowd menanyakan 3 pertanyaan. Ketika Trump tidak mengetahui pertanyaan terakhir, Trump mengarang indah. Trump berbohong secara alamiah.

Bob juga menceritakan ketidak mampuan Trump menerima kenyataan. Salah satu hal yg paling membuat frustasi staff nya.

Ada saat d mana Trump mengancam untuk menarik diri dari WTO (World Trade Organization) dalam kasus manufaktur otomotif. Trump berpendapat WTO curang, krn US selalu kalah bila mempermasalahkan kasus k WTO.

Gary Cohn mencoba menjelaskan dengan statistik bahwa WTO memenangkan 87% dari kasus otomotif yg d bawa US. Namun Trump menolak untuk mempercayai statistik.

Tapi, yg paling menarik adalah mengenai James Mattis, Secretary of Defense US. Ketika Trump mempertanyakan mengapa US harus mengeluarkan miliaran dollar untuk melindungi negara seperti Korsel dan Taiwan pada meeting NSC (National Security Council) Desember 2017 lalu.

Mattis yg frustasi menjelaskan berkali2, akhirnya bicara dengan bahasa sederhana yg d dapat d mengerti Trump.

"Look we’re doing all of this because we are trying to prevent World War III" kata Mattis.

Begitulah cuplikan isi buku Bob Woodward. Jadi saat ini, Trump sedang mengalami serangan dari dalam administrasinya sendiri, dan dari luar.

Dari luar bukan hanya buku Woodward. Masih ada Mueller probe, yg mempereteli org dekat Trump satu persatu seperti cara FBI menelanjangi bos mafia La Cosa Nostra, Sicilian Mafia, 'Ndrangheta, Camorra dan lain sebagainya. Tangkap dari bawah, sambil mencari jalan k atas.

Belum lagi seleksi alam, yg sebentar lagi terjadi d US lewat badai Florence, yg membayangi pantai North & South Carolina. Mengingatkan warga US akan angka korban jiwa badai Maria 2017 lalu. Angka nyaris 3000 jiwa yg membengkak dari 64 jiwa, yg sebagian besar krn lambatnya penanganan US d bawah Trump.

Semua masalah2 ini, d tambah skandal Trump lainnya seperti uang tutup mulut selingkuhannya, penampilannya d Helsinki, perseteruannya dengan Jeff Session, Comey, caci makinya lewat Tweeter, usahanya menghalangi Mueller, dan lain sebagainya menutupi segala keberhasilan Trump dalam bidang ekonomi.

Ekonomi US bagus? Penghasilan naik? Pengangguran rendah? In fact, tdk jarang sebuah usaha malah kesulitan cari pekerja?

Mungkin ya, secara makro ekonomi. Tetapi menurut Richard Trumka, ketua AFL-CIO serikat buruh terbesar US, kebijakan Trump lebih banyak yg merugikan warga US daripada menguntungkan. D tambah lagi, walaupun profit para pengusaha bertambah, hal itu tdk d terjemahkan menjadi kenaikan gaji minimum US.

Semua ini pada akhirnya tercermin dalam polling terakhir yg muncul 2 bulan sebelum mid term election.

Sebagian besar poll yg d ambil d minggu ini memperlihatkan prospek yg kelabu untuk Trump dan Republicans menjelang mid term.

Suara Twenty Fifth amendment dan impeachment semakin nyaring d terdengar. Support untuk Mueller Russian probe semakin kuat. Negara2 bagian yg likely Republicans mulai berubah menjadi swing state. Bahkan d Texas, sebuah tempat yg menjadi basis suara Republicans, senator Ted Cruz dari Republicans bersaing ketat dengan kandidat underdog Beto O'Rourke dari Democrat d negara bagian conservative.

Selisih Ted dengan Beto berada d bawah margin of error. Hal ini tidak seharusnya terjadi d Texas. Dan hal serupa terjadi secara nasional d US.

Hal ini memunculkan keberanian Democrat untuk berusaha meraih house & senate majority. Bila hal ini terjadi, maka check and balance terhadap kebijakan destructive Trump dapat d hindari. Bahkan, bila house & senate berhasil d raih, bukan tak mungkin aku melihat impeachment president US pertama dalam hidupku (Clinton mundur, bukan d impeach).

Sekalipun Democrat tdk berhasil mendapatkan house & senate, kemenangan landslide dapat menjadi shock terapi bagi para senator US untuk memberanikan diri menghadapi Trump daripada bertekuk lutut pada setiap kehendaknya. Ini belum membicarakan kelanjutan Mueller probe yg semakin lama semakin mengerucut k Trump loh.

Apa yg akan terjadi bila Trump d impeach atau terjerat Mueller probe?

Kemungkinan terbesar adalah Mike Pence mengambil alih pemerintahan US. Meskipun cukup banyak ketidaksetujuanku dengan pandangan Mike Pence, setidaknya Mike tidak bersikap impulsive seperti Trump. Dalam hal ekonomi, sepertinya Mike akan bersikap reasonable.

Kalaupun tidak, setidaknya senate akan memiliki cukup suara untuk menghentikan Mike bila ingin mewujudkan America Great Again dengan mengorbankan sisa se'isi dunia.

Ini artinya kemungkinan trade war akan berakhir. Setidaknya satu faktor penghambat pemulihan ekonomi emerging markets dari krisis saat ini tertangani.

Peso, Lira, Yuan, dan tentu saja Rupiah bisa bernafas lega.

Tentu saja, ini cuma best case scenario versiku. Semua ini masih jauh. Harus menunggu mid term election tgl 6 November nanti.

Tapi, melihat perkembangan seminggu terakhir ini, boleh dong aku optimis?

Sumber : facebook Aldi Bhumi

Monday, September 17, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: