Triple A dan Amnesty pajak

Oleh: Slamet Rianto
 

Kamis - Jumat pekan ini perhatian publik dari Sabang hingga Merauke tersedot ke 3 titik, Cikeas, Kertanegara, dan Diponegoro. Momen pencalonan 3 pasangan yang terdiri dari Ahok -Djarot, Agus - Sylviana (saya harus googling untuk mengeja namanya), dan Anis - Uno (Triple A). Ndak usah nuduh yang bukan-bukan, penyebutan pasangan calon ini berdasarkan nomor urut pendaftaran ke KPU semata.

Penantian publik seakan pecah telor, ledakan yang menimbulkan beragam reaksi. Ada yang mencibir, mencerca, menarik garis teori konspirasi, mencaci, dan tentu saja sebagian besar berekspektasi. Apapun reaksinya, publik sebetulnya tengah berharap Pilkada nanti melahirkan Gubernur DKI yang mampu menjadi pemimpin daerah yang baik.

Jika diamati secara kasat mata, 3 calon ini memiliki ciri khas yang secara parsial memenuhi harapan publik. Ahok - Djarot adalah sosok tegas, tak pandang bulu, dan lurus. (Patokan saya adalah ketetapan hukum, bukan isu). Agus - Sylviana adalah sosok muda, berprestasi (secara akademis), gagah (ternyata ini unsur penting), militer, dan keturunan "bangsawan". Calon terakhir, Anis - Uno, punya karakter "wise", kreatif, ganteng (lagi-lagi ini hal penting), dan agamis (meski sempat dituduh liberal). Sempurna? Tak ada yang sempurna. Mereka, harap diingat, adalah sepasang manusia biasa yang punya cita-cita baik membangun Jakarta lewat visi dan misinya. Saya selalu percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Sebagai warga Jakarta (ini harus saya tekankan), saya berhak untuk berharap lewat pilihan jari saya suatu hari nanti.

Apakah Indonesia hanya Jakarta? Tidak. Indonesia adalah kompulan dari puluhan provinsi, ratusan kabupaten, dan ratusan juta kepala manusia. Maka, berpijaklah pada pemahaman tersebut. Urus dan awasilah daerah kita masing-masing. Indonesia ini terlalu sempit jika hanya dikonotasikan Jakarta, dan terlalu luas jika pikiran kita tak awas.

Lalu siapa yang akan mengurus Indonesia? Sebagian darinya adalah kewajiban kami para petugas pajak. Hingga hari ini kami telah mengadministrasikan Uang Tebusan Amnesti Pajak sebanyak 52,3 triliun rupiah. Duit dari manakah itu?

Duit itu berasa dari kaum yang sadar bahwa membangun Indonesia itu modalnya kerja nyata, bukan saling menyinyirkan "lambe" gara-gara perbedaan calon gubernur idaman, lalu di lain hari hanya lah penumpang gelap di negeri ini.

Ungkap, Tebus, Lega. Sesederhana itu.

 

(Sumber: Status Facebook Slamet Rianto)

Saturday, September 24, 2016 - 15:45
Kategori Rubrik: