Trims Bung Ojol

ilustrasi
Oleh : Mimi Hilzah
 
Sebuah pesan masuk dari pelanggan di antara sibuk-sibuknya saya melayani para driver online yang datang membawa pesanan go-shop berhadiah kue hari ini.
 
Awalnya saya tak mengerti maksud pesannya. Setelah membaca ulang beberapa kali, saya mulai paham. Si pelanggan minta saya melayani orderan go-shop yang dibuatnya dengan satu syarat. Dua stoples yang dibelinya itu harus diberikan kepada si driver. Lebih baik lagi jika si driver memilih sendiri kue apa yang diinginkannya. Ongkos jasa pembelian pun tetap dibayarkan. Nanti si pelanggan akan membayar saya via transfer. 
 
Lelaki muda ini lalu masuk dan datang membawa pesanan atas nama si pelanggan tadi. Kalau sebelumnya saya lebih mudah menjelaskan ke driver ojol lainnya bahwa mereka akan dapat satu stoples kue setiap kali mengambil pesanan via go-shop, yang ini saya harus mengulang beberapa kali bahwa si pelanggan hendak membayarkan kue untuk si driver. 
 
"Tidak mengerti ka', Bu..."
 
"Kuenya dibayar sama pelanggannya nanti langsung ke saya. Bapak ambil dua kue yang Bapak suka dan bawa pulang ke rumah. Jangan dibawa ke pelanggannya, ya? Saya buatkan notanya supaya orderan ini selesai. Uang ongkirnya saya bayarkan di sini."
 
Ia termangu. Tersenyum canggung lalu menukas, "Bagaimana, Bu?"
 
Mungkin saja keajaiban kini memang sudah langka terjadi di antara manusia. Keajaiban-keajaiban kecil semacam membayarkan makanan atau membelikan kesenangan semacam penganan dan kue kepada orang-orang yang selama ini sebenarnya telah banyak membantu melancarkan kehidupan kita, tapi karena dirasa tak kenal maka tak wajib kita pikirkan. 
 
"Bapak dibelikan kue sama pelanggan saya. Bapak sudah berkeluargakah?"
"Sudah."
 
"Sudah punya anak?"
 
"Sudah."
 
"Nah, kuenya nanti dibawa pulang ke rumah untuk istri dan anak. Dua stoples silakan dipilih."
 
Ia masih tampak linglung. Lalu menoleh ke Nita yang sibuk membungkus parcel. 
 
"Yang mana yang enak?" tanyanya dengan lugu.
 
Nita memandang saya lalu kami pecah tertawa. Saya lantas bergerak, mengangsurkan sultana dan menjelaskan bahwa produk tersebut adalah produk terlaris di toko kami. Kemudian saya menanyakan apa yang menjadi seleranya. Coklat atau keju. Dijawab coklat. 
 
"Jadi saya tidak usah ke sana? Ke tempat yang pesan kue ini?"
 
"Ya ndak usaahh... Kuenya Bapak langsung bawa pulang. Ini saya bayar ongkirnya. Nanti saya yang berurusan dengan pelanggannya."
 
Setelahnya ia pamit sambil tak lupa berterima kasih. Setelah keluar dari pintu, ia tak langsung pergi. Entah berapa lama ia duduk berjongkok di depan pintu masuk membelakangi kami. 
 
Lama. Sampai saya berbisik ke Nita, jangan-jangan si Bapak menangis di sana. Saya memotret sembari mengingat sesuatu, dulu ketika saya sangat susah dan miskin, saya pun pernah sulit sekali mempercayai keajaiban itu benar ada. Sulit bermimpi. Sulit menerima kenyataan bahwa di kerasnya kehidupan, sebenarnya hidup orang-orang baik yang ramah dan mau berbagi tanpa butuh alasan dan tak takut merasa rugi.
 
***
 
Saat mengambil kantongan berisi kue, si Bapak sempat berkata dengan wajah yang masih linglung; 
 
"Selama saya bekerja, baru sekali ini saya dapat hadiah seperti ini."
 
Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah
Monday, June 3, 2019 - 15:00
Kategori Rubrik: