Transformasi

ilustrasi

Oleh : Johannes Silentio

Cukup banyak inovasi yang dilakukan gereja saat pagebluk CORONA sekarang. Bukan hanya tindakan karitatif atau konseling pastoral, walau ini juga dibutuhkan, tetapi ada yang melangkah lebih jauh. Ada yang mengusulkan agar gedung gereja dijadikan tempat perawatan mereka yamg terjangkit virus, namun menimbulkan kontroversi: siapkah tenaga medisnya?

Ada juga, seperti di GKI Kayu Putih, menjadikan gereja sebagai titik temu langsung antara petani dengan konsumen. Dengan cara ini, kedua pihak akan diuntungkan. Petani jadi punya lapak untuk menjual, sementara konsumen dapat harga yang lebih murah dan pantas, tanpa harus melalui perantara. Ini langkah terobosan yang patut diacungi jempol, karena tidak berhenti pada tindakan "karitatif", melainkan sudah mampu "produktif".

Namun pagi ini dapat kabar buruk, upaya inovasi itu terganjal soal lain: sebagian kalangan protes karena menganggap koq gedung ibadah dijadikan pasar! Akibatnya, konon, upaya inovasi itu hanya akan berlangsung sampai seminggu ini saja. Sungguh sayang! Padahal langkah itu bisa menjadi pintu strategis agar kehadiran gereja sungguh bermakna, sehingga ancaman yang dulu selalu disebut alm. Pdt. Eka Darmaputera, tentang "insignifikansi" dan "irrelevansi" gereja (bahkan agama) bisa sedikit banyak diatasi.

Saya kira reaksi tersebut lahir dari cara pandang klasik yang selalu memisahkan secara tajam, atau bahkan cenderung saling mempertentangkan, antara "ibadah" dengan "kehidupan". Di situ, "ibadah" seakan-akan berada dalam ruang vakuum, tanpa kena mengena dengan latar sosio-historis dan carut marut "kehidupan" sehari-hari. Karena itu, ketika soal-soal kehidupan yang banal, seperti jual-beli hasil pertanian, dimasukkan ke dalam ruang ibadah, tindakan itu bisa dinilai "menodai yamg sakral".

Padahal seharusnya, menurut saya, spiritualitas yang otentik itu berakar dalam praktik hidup sehari-hari yang terasa banal. Dan ibadah merupakan daya kreatif guna mengolah pengalaman yang banal tersebut, memberinya makna, dan mengembalikannya sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan. Kedua ruang itu saling bertaut erat: bisa dibedakan, tapi tidak bisa dipisahkan, apalagi saling dipertentangkan. Sebab di dalam carut marut hidup sehari-hari itulah wajah Sang Misteri dapat ditemukan, bukan daalm ruang-ruang vakuum ibadah.

Tapi perubahan cara pandang itu butuh upaya tersendiri yang, celakanya, kerap dilupakan dalam gereja. Selain "karitatif" dan "produktif", seharusnya gereja juga memberi perhatian lebih pada upaya "transformatif" agar terjadi perubahan cara pandang. Tanpa transformasi ini, maka yang-produktif akan mudah disalahpahami, sementara yang-karitatif cenderung direduksi jadi "belas kasihan".

#JurnalCorona

Keterangan foto: upaya di GKI Kayu Putih untuk mempertemukan langsung petani dengan konsumen

Sumber : Status Facebook Johannes Silentio

Wednesday, May 20, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: