Transaksional

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Sesuai janji, saya mendatangi café yang ditentukan oleh sahabat saya dari Australia. Di café itu, memang sebagian besar pengunjung adalah orang asing. Cafe itu berada di jantung pusat keuangan di Hong Kong. Suasana café nampak masih ramai meskipun sudah larut malam. Saya melirik jam tangan saya yang menunjukkan pergantian waktu menuju dini hari. Sahabat saya dari bandara akan langsung menuju café ini karena 14 jam kemudian ia harus terbang ke New York. Sambil menanti kedatangan sahabat saya itu, saya memesan minuman ringan, Mujito. Tak jauh dari tempat saya duduk, ada seorang wanita yang nampaknya tidak muda lagi usianya. Pakaiannya sopan, tidak nampak seronok. Ia terlihat cantik di balik wajah Orientalnya. Ketika pandangan kami beradu, ia berusaha tersenyum ke arah saya. Saya membalas senyumnya. Tak berapa lama, wanita itu mendekati meja saya.

“Dari mana asal Anda?” katanya dalam Bahasa Inggris yang bagus.

“Dari Indonesia?” jawab saya.

“Di mana itu?” katanya berkerut kening.

“Anda tahu Bali?”

“Tentu saya tahu. Pulau yang eksotik. Saya pernah ke sana. Waktu bulan madu bersama suami saya. Tapi itu sudah lama sekali.” Jawabnya.

“Nah, Bali itu bagian dari Indonesia.“

“Oh baru tau saya.”

“Anda berasal dari mana?” tanya saya ingin tahu.

“Mongolia”

“Anda tinggal di Hong Kong?” tanya saya kemudian.

“Ya“ jawabnya lagi.

“Bekerja di sini?” kejar saya.

“Ya“ jawabnya.

“Sudah berapa lama di sini?”

“Empat tahun” ujarnya singkat.

“Keluarga Anda?” tidak tahu pertanyaan itu saya sampaikan, melanjutkan obrolan kami.

“Saya sudah bercerai. Saya hanya memiliki seorang anak berusia remaja yang tinggal bersama ibu saya, mereka tinggal di Mongolia.” jelasnya.

Saya menawarkan minuman kepadanya. Dengan tersenyum, ia memesan minuman yang sama dengan yang saya minum. Ia duduk, mengambil tempat di hadapan saya. Saya asyik menjawab pesan melalui smartphone saya.

“Anda nampak sangat sibuk” tanyanya sejurus kemudian.

“Ah, ngga juga. Saya harus menjawab text message dari istri di Jakarta.” jelas saya.

“Nampaknya Anda sangat mencintai istri Anda” katanya.

“Ya. Sudah kebiasaannya sebelum tidur ia selalu mengirim SMS kepada saya.“ jawab saya lagi.

“Wow..So sweet.” katanya sambil tersenyum.

Saya hanya tersenyum.

“Anda sendirian?” gantian ia yang bertanya.

“Saya sedang menanti teman datang ke mari” jawab saya ringan.

“Oh….” nampak wajahnya sedih. “Sudah tiga hari saya datang kemari, tidak ada satu pun pria yang mengajak saya kencan. Mungkin usia saya tidak muda lagi.“ keluhnya.

Saya pandang sejurus wanita di hadapan saya ini. ”Mengapa Anda harus bekerja seperti itu?”. 
Ia mengalihkan pandangannya dari saya, menatap ke tempat lain, seakan tidak mendengar kata-kata saya. Saya diamkan saja, sementara saya asyik mengirim SMS ke istri saya di rumah.

“Pekerjaan saya sebagai waitress, hasilnya tidak cukup untuk mengirim uang untuk biaya berobat putra saya karena itu saya harus mendatangi café seperti ini, berharap semoga saya bisa mendapat pria yang mampu membayar saya” jelasnya pelan.

“Apakah harus dengan cara seperti ini?” tanya saya.

“Mudah bagi Anda bertanya seperti itu. Saya seorang ibu dan saya harus berbuat apapun untuk anak saya. Saya tidak punya banyak pilihan.” jawabnya tanpa ragu.

“Ada banyak pilihan. Hanya saja Anda memilih cara salah.” balas saya.

“Saya telah melakukan pilihan yang benar, namun itu tidak cukup memberikan saya uang guna membayar kebutuhan saya.” jawabnya dingin.

“Bagaimana Anda sampai bisa bersikap seperti ini?”

“Awalnya saya terpaksa menerima permintaan dari suami saya untuk melayani kliennya agar bisnisnya lancar. Setelah itu, suami saya menjadi tergantung kepada saya untuk menghasilkan deal bisnis. Dia menikmati sukses di kantornya, dan semua penghasilan berada di bawah kendalinya, termasuk bila saya mendapatkan uang dari kliennya. Saya sih senang-senang saja, karena saya bisa mendukung karirnya. Namun belakangan, saya jatuh cinta dengan salah satu kliennya, dan ia marah besar. Ia mengusir saya dari rumah.

“Agak aneh. Suami Anda mengizinkan tubuh Anda dicumbui oleh kliennya, tapi ia marah ketika Anda jatuh cinta kepada kliennya.“ tanya saya heran.

“Itulah faktanya” jawabnya lugas.

“Setelah itu?” kejar saya.

“Pria yang saya cintai pergi begitu saja setelah marasakan tubuh saya.” jelasnya kemudian.

“Setelah itu?”

“Saya jatuh dari satu pelukan pria kaya ke pria kaya lainnya. Semua pria itu berbicara tentang cinta, memuja kecantikan saya dan akhirnya pergi meninggalkan saya dengan berbagai alasan. Saya bosan berbicara tentang cinta kepada mereka yang kaya, namun belakangan ini saya mengenal pria yang bukan tergolong kaya tapi hatinya baik dan religius. Sayangnya, ia sendiri tidak berani mengambil komitmen terhadap saya. Ia hanya senang menikmati tubuh saya tanpa harus membayar” jabarnya.

“Saya pikir Anda dengan pria-pria itu tidak pernah saling mencintai. Kalian hanya mencintai diri kalian sendiri. Kalian hanya ingin memuaskan keinginan kalian yang tak mungkin bisa dipuaskan. Jadi wajar saja mereka meninggalkan Anda dan tidak mau ambil komitmen.” saya berikan pendapat saya.

“Kini saya tidak mau lagi bicara tentang cinta. Semua itu omong kosong, bullshit. Saya harus menjauh dari semua pria yang berbicara tentang cinta. Mereka mudah melukai dan meninggalkan. Saya rasakan begitu terus. Lebih baik saya sendiri dan hidup dalam kesendirian.” ungkapnya lagi.

“There will always be someone willing to hurt you, put you down. It is a fact that we all must face. However, if you realize that God is a best friend that stands beside you when others cast stones, you will never be afraid, never feel worthless and never feel alone.” Saya mengingatkannya bahwa ia harus kembali kepada Tuhan agar ia kuat dan selamat.

“God? Why do I have to trust God?” tanyanya kemudian.

“You are alive. You are here. This means that God has provided you and given you what you needed for your entire life until now. His track record is flawless. You wouldn’t be where you are right now if it wasn’t for God’s loving care for your life.” jelas saya.

Dia terdiam.

“Siapapun Anda, katakanlah berapa Anda berani membayar saya untuk malam ini?” katanya dingin.

“Maaf, Saya tidak mau melakukan transaksi untuk sex. Tidak pernah” jawab saya tegas.

“Mengapa?” tanyanya lagi.

Saya diam saja sambil tersenyum. “Please tell me why” katanya setengah memaksa.

“Anda mau tahu?” .

“Yes, please” jawabnya segera.

“Bagi saya, sex adalah soal nilai-nilai spiritual dan moral” jawab saya.

“ Spiritual apa?” kejarnya.

“Manusia berbeda dengan hewan. Manusia melakukan sex atas dasar cinta. Bukan cinta yang penuh kepura-puraan, tapi sebuah ketulusan untuk memberi dan berbagi. Karenanya dibutuhkan suatu komitmen, bukan jangka pendek, tapi jangka panjang. Hal ini hanya mungkin terjadi bila komitmen itu didasarkan kepada keimanan kepada Tuhan, bukan kepada manusia, bukan karena transaksional.“ saya jabarkan pelan, berharap ia mau mengerti.

“Oh…kalau moral?” tanyanya lagi.

“Saya tidak mungkin menggunakan kekuasaan superior saya, dengan uang yang ada pada saya untuk membeli sex, karena itu tidak ada bedanya dengan perkosaan. Wanita dipaksa melayani karena butuh uang, untuk hidup. Apa bedanya dengan perkosaan secara fisik?“ jawab saya.

“Jadi, apabila orang melakukan transaksi sex maka ia tak ubahnya seperti hewan, karena ia kehilangan nilai spiritual dan moral sebagai manusia. Pria dan wanita sama saja.“ katanya menyimpulkan.

“Kalau sudah begitu, nilai apa lagi yang kamu perjuangkan dalam hidup ini?”

“Nothing. That is my life now”

“Sorry…” kata saya menyesal karena terasa seakan melukai perasaannya..

“It’s OK. Thanks. You have reminded me. Now I feel ashamed to God.“ katanya dengan airmata nampak berlinang.

“Though we are incomplete, God loves us completely. Though we are imperfect, He loves us perfectly. Though we may feel lost and without compass, God's love encompasses us completely. He loves everyone of us, even those who are flawed, rejected, awkward, sorrowful, or broken” kataku untuk mengingatkannya bahwa Tuhan mencintainya.

Wanita itu terdiam, dan akhirnya minta izin pergi dari meja saya. Saya mengangguk. Tak berapa lama teman yang saya tunggu, datang. Kami bicara banyak hal sampai jam 3 pagi. Ketika hendak menutup bill, saya melirik ke arah wanita itu yang masih duduk tanpa ada satupun tamu yang mendekati mejanya. Saya selipkan selembar uang ke tangannya. Ia menatap saya.

“Why are you so kind?” katanya terkejut ketika menerima uang itu.

“I give because God. God loves you, dear ...” jawab saya tersenyum.

“Terimakasih. Ini pertama kalinya saya mendapatkan uang lebih besar dari yang biasa saya terima, namun saya tidak berbuat apa-apa. Padahal Anda baru mengenal saya. Ya, saya mengerti maksud Anda. Memberi karena Tuhan.” katanya dengan tatapan kosong.

“Love people, but put your full trust only in God. Love God always” kata saya mengingatkannya agar ia percaya bahwa apapun kebaikan itu berasal dari Tuhan dan manusia hanya sebagai perantara. Jangan sampai karena kebaikan orang lain sehingga orang lupa kepada Tuhan.

“Boleh saya tahu nama Anda?” sambungnya.

Saya memberinya business card saya.

***

Delapan bulan sejak pertemuan itu, saya mendapat email dari seseorang. Awalnya saya malas membalasnya karena alamat emailnya tidak saya kenal. Tapi dilampirkan di dalam email itu sebuah foto. Tahulah saya bahwa itu adalah wanita yang saya kenal delapan bulan lalu di café. Ia menulis,

“My dear friend

Sejak pertemuan dengan kamu, aku memutuskan untuk pulang ke Mongolia. Aku tidak mau lagi berlari dari kenyataan. Usiaku sudah mendekati 40 dan aku harus berubah. Love people, but put your full trust only in God. Kata-katamu membuatku harus menghadapi kenyataan. Aku tidak mau menjual diriku kepada manusia hanya karena ingin uang untuk mengobati putraku. Anakku adalah milik Tuhan dan tentu Tuhan lebih tahu bagaimana seharusnya menyelesaikannya ketika aku tidak berdaya. Seharusnya kalau aku mecintai putraku, aku harus lebih dulu mencintai Tuhan, karena itu tidak seharusnya aku melacurkan diri.

Sejak pulang ke rumah, setiap hari kurawat putraku sendiri, kuhibur hatiku bahwa Tuhan menyanyanginya. “Tuhan tidak pernah membenci siapapun Nak, juga kepada kita.Tegarlah menghadapi sakitmu. Ini pesan cinta dari Tuhan untukmu, juga untuk ibu”. Tiga bulan lalu putraku meninggal karena sakit kronis yang tak mampu kubiayai berobatnya. Aku terima itu dengan ikhlas karena pada akhirnya Tuhan membawa putraku pulang untuk meringankanku membenahi hidupku. Walau tidak mudah, aku akan lalui hidup ini tanpa harus jauh dari Tuhan. Bukankah untuk itu kita hidup? Berjuang untuk nilai-nilai spiritual dan moral, sebagai mana yang Tuhan mau. I love God. I will hold it tight.

Thank you for reminding me. I love God has sent you to me, to a message love”

***

Ya, kehidupanku sebagai pengusaha yang harus bergaul dengan segala kalangan dan berada di berbagai tempat. Kadang, aku harus bersedekat dengan maksiat, tapi dengan segala kelemahanku, aku berusaha berdakwah, tidak dengan kata-kata tapi perbuatan. Aku peduli kepada mereka dan mencintai mereka karena Tuhan, tanpa harus menghujat mereka apalagi merendahkan kehidupan mereka yang penuh gelimang dosa. Tugasku hanya menyampaikan kebenaran dan bersikap istiqamah dengan keimananku, selanjutnya soal hidayah…itu urusan Tuhanku.

 

(Sumber: Facebook Erizeli)

Friday, July 1, 2016 - 11:15
Kategori Rubrik: