Tragedi Gelar

Gelar yang disandangkan tanpa usaha dapat dibagi dua, yaitu a) gelar identitas, yaitu gelar yang disandangkan karena fakta ikatan biologis dan etnis sebagai pelengkap identitas individu semata; seperti sebutan Joko si Jawa itu dan Maruli si Batak itu; b) gelar pangkat, yaitu gelar yang disematkan atas seseorang yang lahir dari orang tua yang oleh masyarakat sebagai bangsawan atau ningrat karena penghormatan kepada kekuasaan atau penghormatan kepada sejarah masa lalunya, misalnya gelar Andi dalam masyarakat Makasar atau Raden dalam masyarakat Jawa atau Ida Bagus dalam masyarakat Bali.

Gelar yang disandangkan karena usaha atau fungsi bisa dibagi dua; b) gelar formal, yaitu yang disematkan karena prestasi dalam pendidikan, jasa dan pengabdian, seperti gelar doktor, gelar mahaputra dan gelar pahlawan nasional; b) gelar informal, yaitu yang diberikan oleh masyarakat karena dianggap pandai, teladan, sakti dan sebagainya.

Habib adalah jenis gelar informal (tradisional) yang diberikan secara konvensional karena penghormatan kepada Nabii Muhammad SAW yang juga digelari Habibullah (kekasih Tuhan) atas jasa-jasa dan fungsinya sebagai utusan teragung. Kemudian gelar ini disandangkan oleh sebagian orang secara konvensional kepada setiap orang yang terkait secara biologis dengan beliau demi menghormati Nabi SAW dan disandangkan oleh sebagian lain hanya kepada orang-orang dari keturunan Nabi SAW yang berperilaku baik bahkan wara’ dan dicintai oleh masyarakat karena jasa dakwah dan kontribusi sosialnya.

Meski jelas menurut logika bahwa gelar mulia adalah akibat kemuliaan, bukan sebab kemuliaan, sebagian orang libur logika mengungkit-ungkitnya seolah gelar habib adalah sumber persoalan, padahal sumbernya adalah mindset irrasional orang-orang yang memujanya. Sejauh ini gelar habib adalah anugerah bagi segelintir orang dan tragedi bagi sebagian besar yang menikmatinya.

Sumber : Status Facebook Labib Muhsin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *