Tradisi Betawi : Adab Kepada Guru

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwt, Lc.,MA

Salah satu budaya Betawi yang cukup unik adalah tingginya adab dan penghormatan kepada guru, wabil khusus guru agama, alias kiyai, ustadz atau apapun sebutannya.

Namun istilah guru sendiri juga khas orang Betawi. Ada Guru Mughni, Guru Manshur, Guru Marzuki dan lainnya.

Pokoknya kalau sudah kepada guru, hormatnya luar biasa, bisa lebih dari sekedar orang tua. Cium tangan bolak-balik sudah jadi ciri khas. Dan hadiah kepada guru itu lebih dari buat anak atau istri. Bahkan habib-habib pun ikut cium tangan juga, kalah mereka dengan kemuliaan ilmu para guru.

Pernah nggak lihat habib cium tangan yang bukan habib? Jarang kan? Nah, para habaib itu kalau sudah ketemu guru, ya mereka pun cium tangan guru.

Menjamu guru dengan berbagai hadiah, baik makanan, berkat ataupun oleh-oleh, termasuk ng-amplop-in guru adalah tradisi yang sangat kuat di kalangan kultur Betawi.

Mengundang guru untuk suatu acara, amplopnya bukan hanya tebal-tebal, tapi juga berkali-kali. Pertama, sewaktu mengundang, tidak ada ceritanya cuma pakai WA atau telepon. Itu namanya tidak sopan dan kurang adab.

Kudu datang sowan ke rumah guru. Sowan bukan hanya datang, bawa segala macam hadiah dan oleh-oleh, minimalnya sembako, pisang, bolu dan macam-macam. Terus masih ada pula amplop untuk 'panjar'. Biasanya diberikan sambil salaman dan cium tangan, maka sering juga disebut dengan 'salam tempel'.

Pas acaranya, guru tidak datang sendiri, tetapi dijemput serombongan panitia. Begitu sampai, keluar mobil, langsung disambut rebana dan thola'al badu 'alaina.

Tidak langsung ceramah, diperkenankan duduk-duduk dulu di ruang VIP dengan segudang jamuan. Ditemani yang punya hajat, alim ulama setempat, plus para pejabat lokal dan interlokal.

Turun dari ceramah, masih diajak lagi menikamti jamuan makan. Selesai mau pulang, berkat sudah menumpuk di bagasi mobil. Nasi kebuli kambing tersendiri, buah-buahan, parcel, sembako dan seterusnya. Oh, ya masih ada lagi the real thing, yaitu amplop. Kali ini amplopnya rada tebel, lain dari yang sebelumnya.

Cukup?

Belum. Sepanjang bersalaman dengan jamaah, ada saja yang bersalam tempel, dapatnya beberapa amplop lagi.

Kok tahu?

Sebagai anak Betawi yang mana Ayah saya seroang guru, saya seringkali menyaksikan ritual-ritual macam itu sejak kecil. Malahan saya pun sering kebagian juga.

Soalnya kadang saya juga diajak ikut pengajian ayah saya. Meski pun sampai ngantuk-ngantuk ketiduran. Tiba-tiba ke dalam saku saya, ada saja jamaah yang menyelipkan uang. Bukan hanya guru yang dihormati, anaknya guru pun ikut kecipratan juga.

Yang lucu, setiap ada perayaan agama, maulid atau yang lain, semua guru selalu diundang. Tapi yang ceramah hanya satu saja, biasanya yang paling senior. Tapi urusan berkat dan amplop, seluruh guru rata ikut kebagian amplop semua.

Tinggal istri saya yang bingung, nggak ceramah kok dapat amplop juga? Heran dia. Bukan berarti di Bawean sana tempat asal istri saya orang tidak hormat kepada guru, tapi dibandingkan gaya orang Betawi dalam menghormati gurunya, memang luar biasa. Dahsyat lah pokoknya.

Masih ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu kalau ada tetangga meninggal dunia, khusus buat guru ada undangan menshalatkan jenazah. Sebenarnya otomatis pasti saya ikut menshalatkan. Tetapi pihak keluarga biasanya pakai acara mengundang dan datang utusan ke rumah pakai surat undangan resmi. Dan di dalam amplopnya ada salam tempel pula.

Maka ketika sekarang saya masih menyaksikan ritual macam itu di kalangan budaya Betawi, saya sih senyum-senyum saja. Silahkan protes, gak masalah. Orang itu tradisi kok dan memang bukan syariat.

Kalau syariatnya sih sederhana saja, yaitu hormati guru. Sudah gitu doang. Tinggal bagaimana cara dan teknis menghormati guru, itu yang berbeda-beda.

Dan tradisi orang Betawi ini memang boleh juga.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Thursday, April 23, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: