TPID

ilustrasi

Oleh : Nophie Kurniawati

Bagus-bagus saja suatu daerah mendapatkan penghargaan atas prestasinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Apakah itu WTP , Adipura, Kalpataru atau apalah namanya. Karena hal itu sudah menjadi kelaziman dan dilembagakan.

Walaupaun saya pribadi tidak terlalu kagum dengan prestasi2 formalitas seperti itu. Siapapun pemimpinnya. Bahkan saat Pak Jokowi dulu mendapat piala untuk keberhasilan di TPID ini saya tidak pernah memposting dan membanggakannya. Gak terlalu menarik. Saya lebih kagum saat Pak Jokowi mampu memindahkan PKL yang mengokupasi tempat umum ke lokasi yang disediakan dengan penuh damai, sukses tanpa keributan sama sekali. Itu keren. Dan manfaatnya langsung dirasakan rakyat banyak.

Untuk prestasi WTP, hadewww... sudah berapa banyak daerah yang dapat WTP tapi kepala daerahnya kena OTT ?. Jadi apa kebanggaan buat rakyatnya ?

Tahun ini DKI mendapatkan penghargaan TPID terbaik se Jawa - Bali. Bagus. Setidaknya bisa mempertahankan raihan itu seperti tahun sebelumnya.

Yang norak itu para pendukungnya. Euforia mereka kaya katak dalam tempurung. Atau karena ada kebencian?. Mereka memuji setinggi langit, seolah tidak ada lagi orang yang mampu mendapatakan penghargaan itu. Mereka mungkin tidak tahu bahwa itu bahwa di periode sebelumnya pun DKI mendapatkan itu. Jadi kalau kali ini bisa mendapatkan juga, itu artinya hanya mempertahankan. Masa memperhatankan saja tidak bisa ? Yo kebangeten lah. Wong Gubernur DKI sebelumnya tidak ada yang Phd saja bisa, masa yang sekarang gak bisa?.

Lihatlah tingkah polah pendukungnya itu. Entah kudet atau baru punya akun sosmed. Memuji raihan itu sambil mengejek orang yang juga pernah meraih penghargaan yang sama terlebih dahulu. Itu khan konyol.

Ada yang begitu bangga dengan prestasi itu dan mengharapkan sang gubernur bisa segera menjadi presiden. Woii... Tuhan sudah lebih dulu tahu. Presiden yang sekarang terpilih 2 kali itu sudah pernah mendapatkan TPID bahkan sejak masih walikota. Dan elu masih ngimpi orang yang dapet TPID bisa jadi presiden ? Kwak..kwak..kwak..kwak...

Malah ada yang out of the box. Memuji prestasi dengan meminta ganti mata uang rupiah dengan dinar dan dirham. Apa hubungannya sama provinsi peraih TPID ?. Emang provinsi mencetak uang sendiri ? Gegayaan mau pakai dinar dan dirham, lah elu punya duit berapa, sampai bingung amat.

Jadi begitulah. Ini bukan tentang Anies. Ini bukan tentang prestasi meraih TPID. Itu biasa saja. Karena DKI di era sebelumnya juga sudah mendapatkannya.

Tapi ini tentang pendukung-pendukung yang norak abis dan pede mempertontonkannya di muka umum

Sumber : Status Facebook Nophie Kurniawati

Saturday, July 27, 2019 - 17:00
Kategori Rubrik: