Tour De Java SBY Dan 9 ‘Prestasinya’

Oleh:  Susy Haryawan

Beberapa lamanya Demokrat melakukan safari politik, keliling empat provinsi di Pulau Jawa. Entah apa maksudnya, yang pasti tentunya untuk promosi partainya yang mulai ditinggalkan peminatnya. Prestasi itu tidak perlu ditekankan berulang-ulang kalau memang ada tentu akan dikenang dengan tinta emas dalam perpustakaan hati terdalam seluruh sanubari anak bangsa.

Beberapa hal yang lucu tampil selama tour politik ini:

1. Cari Kader Berkeliling untuk mencari kader terbaik dari seluruh pelosok negeri. Malah seperti obat nyamuk bakar berkeliling-keliling eh nemunya teman sekamar sendiri. Kader yang dinilai terbaik itu ternyata ada di sisinya berpuluh tahun. Langsung saja nyaring terdengar capres 2019 sudah mengudara.

2. Soal PSSI Komentar soal sepak bola di mana kader-kadernya terlibat secara langsung di sana. Tentu sangat tidak elok dan obyektif mengatakan harus begini dan begitu, sedangkan ada “kepentingan” bagi tentu kadernya, dengan mengatasnamakan demi sepak bola dan pemain bola.

3. Dengar Aspirasi Mendengar aspirasi, boleh dan harus memang bagi parpol, lha selama in toh diam saja, mengapa harus tiba-tiba mendekati, padahal selama ini menjaga jarak seperti raja penjajah sedang lewat di depan rakyat jajahan. Dengar aspirasi kan sekarang ada medsos dan cara komunikasi lainnya yang lebih mudah, terbuka, dan obyektif. Kedatangan muka dengan muka lebih banyak settingan dan sudah diatur, susah menjaga netralitas dan obyektifitas di sana. Lucu saja, selama in jauh kog tiba-tiba mendekat dan mengakrabkan diri, ke mana 10 tahun pas berkuasa?

4. Parpol Lebih Tenang Komentar mengenai keadaan Golkar dan P3 yang ada dualisme beliau menyatakan beda dengan rezimnya yang ayem tenterem. Iya ayem namun penduduk Sidoarjo merana bahkan hingga kini, demi pertemanan sendiri mengorbankan orang Lapindo. Jemaah haji yang harus ngantri puluhan tahun namun koleganya bisa membawa keluarganya dengan berombongan. Ini lucu bin ironis dikatakan orang sekaliber presiden negara besar. Perbandingan ngeri ketika hanya mengatakan hal yang remeh dengan keadaan luar biasa besar.

5. Kabinet Tidak Gaduh Benar memang kabinetnya tenang sejahtera seperti kucing kekenyangan dan tidak berbuat apa-apa. barang langka dan kurang impor bukan menyelesaikan masalah namun menunda masalah. Menteri tidak gaduh karena sama-sama untung dengan main mata termasuk dengan kubu sebelah, kurang bukti? Itu Esdm dan koleganya sama-sama masuk bui. Apakah tenang model ini yang dimaui, mosok presiden, doktor lagi tidak bisa membedakan tenang menghasilkan atau hanya tenang tanpa hasil. Lucu saja kalau tidak bisa membedakannya.

6. Soal Infrastruktur dan Kondisi Ekonomi Lucu dan sangat naif, mengatakan keadaan infrastruktur yang harusnya ia mulai, namun demi kedamaian bersama, tidak menegur anak buahnya yang maling dan ada anggapan proyek abadi di pantura. Lebih memilukan lagi proyek mercusuar Hambalang (yang diingatkan lagi Pak Jokowi, jika Pak Beye lupa), berapa saja uang yang mengalir ke kantong pribadi justru orang terdekat beliau. Eh malah sekarang mengkritik pembangunan yang sudah seharusnya. Mengapa tidak mengritik soal narkoba dan korupsi?

7. Dunia Musik Lha ini presiden negara atau presiden musisi? Perjumpaan dengan dunia yang diriindukan mungkin, selama memerintah produktif menelorkan album lho, hampir dua tahun kog malah tidak terdengar suaranya soal menyanyi. Kog bukan ketemu pelaku seni wayang misalnya, atau tari, atau photografi? Tidak ada yang salah dengan pertemuan dengan kelompok ini, tapi mengapa tidak dilengkapi dengan yang lainnya. Atau mau menjadi presiden musisi saja? He...he...

 8. Pemenang Pilkada Waktunya Kerja Bukan Kampanye Lha ini nasihat maha penting yang harus didengarkan. Bagaimana tidak nasihat ketum partai, presiden, pemenang pilpres dua kali, dan calon suami presiden. Tentu keren nasihatnya, menyatakan pemenang pilkada (hanya berapa biji) untuk kerja dan bukan kampanye. Artinya biar saya saja yang kampanye. He...he.....

9. Mengulang-Ulang Klaim Prestasi Prestasi, capai, hasil itu akan dikatakan oleh orang lain yang merasakan bukan yang merasa berbuat. Bagaimana ketika banyak orang mengatakan tidak ada hasil, eh beliau mengaku berbuat banyak dan merasa lebih baik. Mengatakan ini itu kepada penggantinya, sedangkan pada masa beliau sama sekali tidak mengatakan hal tersebut.** (ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :inddit.com

 

Saturday, March 19, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: