Toleransi dan Sikap Proporsional Menyikapi Terorisme

Ilustrasi

Oleh : Mahbub Hefdzil Akbar

Buat saudara-saudaraku Muslim dan Non Muslim yang kebablasan

Nalar Anda sedang diuji, apakah selama ini Anda tulus memperjuangkan toleransi dan kemanusiaan, apakah kejernihan berpikir Anda sudah dikalahkan dengan emosi membabi buta akibat tindak terorisme di Mako Brimob dan terhadap saudara sebangsa kita di tiga gereja di Surabaya. Kita mengutuk terorisme karena mencabik-cabik kemanusiaan.

Sayangnya, di beranda mulai berseliweran baik dari Muslim sok berbesar hati yg tak paham agamanya dan non Muslim emosional yang sudah memandang teroris dari sudut agama teroris. Ada yang terang-terangan atau secara implisit mereka ingin mengatakan bahwa dalam lslam ada yang mengajarkan terorisme. Mereka sepertinya belum mampu membedakan apa itu Muslim dan lslam, apa itu lslam sebagai ajaran dan apa Muslim sebagai makhluk penafsir ajaran dengan berbagai karakter.

Sebagai penganut lslam, saya sangat tersinggung. Menyakitkan jika ada yang berpikiran seperti itu. Muslim yang ramah jauh lebih banyak, saya pribadi sangat berhati-hati menjudge soal ajaran baik sesama Muslim yang berbeda juga soal ajaran agama lain.

Buat secuil Muslim yang mengatakan ini, saya tegaskan Anda tidak sedang berjiwa besar, Anda hanya tidak paham agama sendiri. Anda bukan bagian dari solusi intoleransi, Anda hanya membuka kran kesalahpahaman terhadap penganut agama lain. Itu bisa menjadi sebab penghambat toleransi. Posisi Anda sama dengan otak Muslim radikal yang sering Anda kritik.

Buat segelintir non Muslim, saya ingin katakan teroris ada di semua pemeluk agama. Teroris dan kelompok radikal ada di kalangan pemeluk lslam, Buddha, Hindu. Begitu juga di Kristen ada, saya pernah ngobrol menanyakan soal ini ke Sidney Jones, pengamat terorisme internasional, dia pegang data itu.

Terorisme dan radikalisme tidak melulu muncul dari dogma agama tapi juga ketidakadilan, masalah sosial, permainan politik global seperti kebijakan luar negeri AS yg diskriminatif. Itu lah salah satu kesimpulan dari penelitian tentang terorisme yg saya dan kolega lakukan tahun kemarin. Kita semua tersakiti dengan akibat terorisme tapi kita perlu kejernihan soal ini, komprehensif, tidak menembak dan prejudice membabi buta.

Toleransi terbaik itu adalah dua Muslim berbeda aliran atau dua Insan beda agama yang sama-sama paham agamanya, dan oleh karenanya kesadaran untuk saling menghormati sesama makhluk Tuhan tumbuh dengan tulus, murni tanpa pretensi lain. Bukan dua Insan beragama yang saling menjelekkan agama lain atau bahkan menyalahkan agamanya sendiri. Inilah toleransi rapuh yang dibangun oleh antar pemeluk agama yang bisa jadi sebenarnya agama bukanlah pegangan utamanya.

Saya bersyukur memiliki teman-teman luar biasa baik Muslim atau non Muslim yang tetap jernih, proporsional memahami terorisme. Anda adalah truly friends in fighting crimes against humanity. Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan, ia adalah musuhku, musuhmu, musuh kita bersama.

Sumber : Status Facebook Mahbub Hefdzil Akbar

Monday, May 14, 2018 - 18:45
Kategori Rubrik: