Toleran, Buah Perjalanan Panjang Mengaji

 

Oleh: Niken Satyawati

 

Saya mengaji sejak kecil banget. Saat sekolah TK, mengaji turutan di masjid. Saat itulah saya mulai mengenal alif ba ta.... Gurunya namanya Bu Tun. Kadang kalau Bu Tun berhalangan diganti Pak Ardani. Bisa baca Alquran. Memasuki kelas 2 SD, saya masuk sekolah mengaji yang lebih intensif. Gurunya namanya Pak Karno. Semoga guru-guru saya ini mendapat pahala yang tak terputus dari Allah karena telah memberi saya ilmu yang luar biasa. Yang kemudian saya ajarkan kepada anak-anak saya. 

Saya lama mengaji di rumah Pak Karno. Sejak itu saya mulai mengenal jilbab. Minimal kalau mengaji saya memakainya. Ibu saya menjahitkan baju mengaji di penjahit langganan Tionghoa namanya Cik Cun. Kalau di sekolah dan di rumah ya biasa saja. Pakai baju biasa pendek tapi sopan. Mulai masuk SMP, kalau keluar rumah saya pakai selembar kain menutupi kepala, ditalikan ke belakang. Tapi tetap pendek bajunya. 

 

Baru ketika SMA saya kalau keluar rumah mulai pakai baju lebih rapat dengan kerudung segi empat yang dilipat jadi segitiga kemudian dikasih peniti. kelau ke sekolah, saya pakai jaket dan berkerudung. Kemudian di sekolah tetap patuh dengan aturan seragam sekolah. Bajunya lengan pendek dan rok selutut. Baru di akhir kelas 2 saya full pakai kerudung di sekolah dan di luar sekolah, sampai sekarang. Namun bukan itu yang mau saya sampaikan.

Nah pengajian berlangsung sampai saya SMA. Awet, ya. Waktu awal Pak Karno sendiri yang mengajar. Tapi kemudian guru ngaji muda menggantikannya. Namanya Pak Ikhsan. Tempat pengajian juga pindah, tak lagi di rumah Pak Karno tapi di tempat lain, bangunan tak jauh dari masjid. 

Ketika ngaji di tempat Pak Karno, banyak teman laki-laki dan perempuan sepengajian. Kami diminta membatasi pergaulan sih. Tapi agak susah karena di rumah dan di sekolah kami saling bertemu. Jadi ya semua kawan ngaji ini sebenarnya di luar adalah kawan bermain. 

Ceritanya,suatu hari saya didatangi dua kawan ngaji di rumah. Mereka sharing menyampaikan kritik atas pengajian. Saya tidak berkomentar. Saya takut. Tak lama setelah itu, pas pengajian kami sekitar 20 orang yang ngaji di situ dikagetkan dengan majunya dua kawan saya itu ke depan. Mereka mendekati guru ngaji kami. Mereka menyalami sang guru ngaji dan mohon pamit. Mereka berterus terang di depan semua peserta pengajian bahwa sudah tidak cocok lagi dengan pengajian tersebut. 

Saya melihat adegan itu dengan perasaan "mak tratap". Saya takut. Tapi dalam hati saya mengagumi keberanian mereka. Betapa waktu itu mereka sudah menumbuhkan critical thinking. Hal yang sangat penting dimiliki anak-anak di era sekarang.

 

Critical thinking yang menular

Dua kawanku jejaka tanggung yang pamit dari pengajian kami, menjadi perbincangan hangat peserta pengajian yang tersisa. Ada yang mencelanya. Ada yang mengaguminya. Yang jelas mereka membuat kami jadi berpikir ulang tentang pengajian yang kami ikuti. Critical thinking itu menular pada kami, walau agak terlambat.

Tak begitu lama setelah pamitannya dua kawan, pengajian itu lantas dialihkan--sebenarnya dibubarkan sih. Yang laki-laki disarankan ikut pengajian khusus laki-laki di sebuah majelis. Yang perempuan juga disarankan ikut pengajian khusus buat perempuan. 

Saya tetap mengikuti pengajian itu sampai lulus SMA, bahkan ketika sudah kuliah dua atau tiga semester. Seminggu sekali saya tempuh perjalanan dari Solo untuk mengaji di Gemolong. Tapi lalu saya meninggalkannya. Dan saya memang pengecut. Saya tidak langsung menemui Ustadz. Saya pamit dari pengajian melalui sebuah surat yang saya titipkan kantor pos kepada ustadz yang mengajar. Alasannya pun sungguh wagu. Saya hanya katakan bahwa dialektika pemikiran yang terjadi pada saya membuat saya memutuskan tidak mengaji di sana. 

Setelah meninggalkan pengajian itu, saya baru tahu dunia ini sangat luas. Saya ikuti pengajian di banyak tempat. Karena saya ikut simbah yang seorang kiai NU, saya sering mendampingi beliau mengisi atau mengikuti pengajian bersama orang-orang NU. Saya juga ikut forum pengajian yang diikuti kawan-kawan sayap Muhammdiyah. Tak jarang juga gabung dengan pengajian kawan-kawan kuliah yang lebih "keras". 

Di sejumlah pengajian itu, pemahaman akan satu hal yang sama bisa berbeda-beda. Tentang cara sholat, tentang cara berwudlu, tentang jilbab dan lain sebagainya. Semua punya dalil yang mendasarinya. Akhirnya, perjalanan panjang ngaji saya membuat saya memutuskan untuk bersikap toleran kepada kawan lain seagama yang berbeda pemahaman dengan saya. 

Yang menjadi persoalan, ketika gencar-gencarnya orang mulai mau mengaji, mereka bertemu ustadz yang jawabannya selalu hanya berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Misalnya ada yang bertanya tentang hukum jilbab dan penggunaannya, dia hanya menjelaskan bahwa jilbab hukumnya nganu dan cara pemakaiannya begini. Akhirnya jamaah hanya tahu pemehaman saja. Dia pun akan gampang menstigma yang berbeda pemahaman itu sesat.

Sulit menemukan ustadz yang membuka insight, bahwa di luar sana ada pemahaman yang lain lagi. Lebih sulit lagi adalah menemukan ustadz yang membuka insight, dan sekaligus meminta jamaahnya untuk menghormati pemahaman yang lain di sekitarnya. Lebih jamak yang meminta jamaah menyampaikan ilmunya walau satu ayat. Klasik banget. Akhirnya yang terjadi rebutan benar dan saling menyesatkan. 

(Sumber: Facebook Niken Satyawati)

Saturday, January 18, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: