Tolak Politisasi Masjid

Ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Karena sudah jelas semua aturannya bahwa Masjid di Indonesia bukan untuk kegiatan politik. Karenanya MUI, DMI, KPU, dan Bawaslupun melarangnya. Sebab seseungguhnya fungsi terbesar masjid adalah untuk mengagungkan Allah dan membesarkan namaNya.

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ* رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Di rumah-rumah yang disana Allah telah memerintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di sana ber-tasbih (menyucikan)-Nya pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nur: 36-37).

Di ayat pertama, Allah menjelaskan bahwa fungsi masjid adalah untuk menegakkan ibadah kepada Allah. Lalu di ayat kedua, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar menegakkan peribadatan kepada-Nya, tidaklah menjadi terlalaikan untuk beribadah hanya karena mengurusi perniagaan dan pekerjaannya. Apalagi sampai tega menjadikan masjid sebagai tempat untuk berniaga.

Penjelasan yang sama, juga disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menasehati seorang Badui yang kencing di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجِلَّ وَالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya, masjid-masjid ini hanyalah untuk menegakkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, shalat, dan bacaan al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 285).

Dengan demikian, semangat yang dibangun dalam pendirian masjid adalah semangat akhirat, mengagungkan dan membesarkan Nama Allah ta’ala. Karena itu, tidak heran jika Allah memuji orang mukmin yang menggunakan masjid sesuai fungsinya.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُوْلاَئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah: 18).

Al-Khithabi mengatakan,

وَيَدْخُلُ فِي هَذَا كُلُّ أَمْرٍ لَمْ يُبْنَ لَهُ الْمَسْجِدُ، مِنْ أُمُورِ مُعَامَلاتِ النَّاسِ، وَاقْتِضَاءِ حُقُوقِهِمْ

Termasuk dalam hadis ini, semua kegiatan yang tidak sesuai fungsi didirikannya masjid, seperti perkara muamalat diantara masyarakat, atau menyelesaikan urusan hak-hak mereka. (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 2/375).

Lalu bagaimana dengan Kampanye, dan apa yang dirasakan ketika menhadiri kampanye partai? Hal yang pasti tentunya akan menjunjung tinggi partai itu, berikut tokoh-tokohnya, karena itu tujuan utama kampanye partai. Ketika partai disanjung di masjid, bukankah ini mengalih fungsikan masjid yang seharusnya untuk mengagungkan Allah?

Seharusnya seluruh mahluk bersikap khusyu, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Allah, disaat yang sama dia menyanjung mahluk Allah? Meskipun kami tidak menilai ini perbuatan kesyirikan, namun semangat kampanye untuk menyanjung partai, tentu saja bertentangan dengan semangat fungsi utama masjid, yaitu mengagungkan Allah.

Lebih dari itu, tidak ketinggalan akan tampil orator di podium, menyampaikan orasi, menjelaskan keunggulan partainya serta kiprahnya di masyarakat. Jika tidak mengajak orang untuk mencoblos jagoan partainya, setidaknya untuk memunculkan rasa cinta peserta kampanye terhadap partai yang bersangkutan.

Anda bisa bandingkan, antara menawarkan barang di masjid, dengan menawarkan partai di masjid.

1. Jika menawarkan barang dagangan di masjid (yang tentu ada unsur menjelaskan kelebihan barang) jelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama dengan menawarkan partai, yang tentu saja ada unsur menjelaskan kelebihan partai, bukankah ini lebih sangar dibandingkan sebatas menawarkan barang?

2. Jika kita diminta mendoakan orang yang menawarkan barang di masjid agar tidak mendapatkan keuntungan, bukankah kita lebih berhak untuk mendoakan orang yang mengkampanyekan partainya di masjid, agar dia tidak menang? Karena tentu saja, menawarkan partai, lebih berat dibandingkan menawarkan barang.

Kemudian, salah satu bentuk masjid yang Allah cela, adalah masjid yang difungsikan untuk maksiat dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Dulu orang-orang munafik membangun masjid untuk merusak persatuan kaum muslimin. Setelah selesai dibangun, mereka meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar shalat di sana, sekaligus sebagai peresmian masjid tersebut.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

(Di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka akan bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)”. (QS. At-Taubah: 107)

Namun Allah ta’ala melarang Nabi-Nya untuk mendekati masjid itu, dan memerintahkan untuk merobohkannya.

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mssjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah: 108).

Kita bisa memastikan, ketika ada satu partai melakukan kampanye di masjid, tentu tidak semua orang Islam jamaah masjid itu, simpati dengan partai tersebut. Sehingga keberadaan partai di masjid itu, menjadi sebab terjadinya perpecahan di tengah jamaah masjid. Atau bahkan menjadi penyebab, sebagian mereka menjadi enggan untuk shalat disana, gara-gara masjidnya digunakan untuk kampanye partai yang tidak dia sukai.

Bagaimana jika itu partai Islam? Bukankah seharusnya dia mendungkung? Di Indonesia, partai yang mengklaim dirinya Islam sangat banyak. Baik yang terlahir karena ormas Islam, maupun di luar ormas Islam. Yang jelas, banyak yang mengklaim sebagai partai Islam.

Ketika ada satu partai Islam menyatakan dirinya paling benar, dan mengajak masyarakat untuk bergabung dengannya, bukankah ini sama halnya membangun budaya pepecahan di tengah masyarakat. Dimana semangat mencintai dan membenci, tidak lagi dibangun di atas prinsip agama, namun di atas prinsip partai politik tertentu.

Semua pertimbangan ini menunjukkan betapa besar bahaya menggunakan masjid untuk berkampanye. Disamping tindakan ini rentan terhadap polarosasi atau memecah belah jamaah, juga termasuk menggunakan masjid yang tidak sesuai fungsinya.

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Friday, April 20, 2018 - 20:15
Kategori Rubrik: