Tokoh MCA Tak Selevel Dengan Generasi Muda NU

Ilustrasi

Oleh : Lantip Wicaksono

Media social diramaikan dengan Muslim Cyber Army yang mengaku berjuang membela Islam di dunia siber atau internet. Pengen ketawa sebetulnya mendengar model mereka. Sederhana saja, Islam di Indonesia tidak ada yang terancam apapun. Lihat saja, kita bisa pergi haji, lembaga zakat dimana-mana, apalgi sholat sampai ga keitung masjid dan musholla dimana-mana. Artinya yang mengklaim Islam terancam itu memang kelompok lemah iman. Dugaan, mereka berasal dari kelompok HTI yang sudah dilarang pemerintah begitu UU No 2 Tahun 2017 tentang Ormas disahkan. Beberapa aktifis FPI kemungkinan gabung ke kelompok ini karena di dunia nyata mereka hamper tidak bisa berkutik.

Menurut beberapa keterangan, kelompok ini tanpa organisasi yang jelas dan memang sengaja dibuat abu-abu. Namun beberapa diantaranya yang mengklaim sebagai aktivis MCA yakni Jonru, Mustofa Nahra, dan beberapa akun yang tidak jelas identitasnya. Mereka tidak hanya membentuk Fanspage namun juga group FB hingga group WA. Mereka membagi berdasarkan kewilayahan hingga tingkat propinsi. Terbangunnya kelompok ini jika dianalisis mendalam sebetulnya di sokong oleh kelompok yang menentang pemerintah dan sering mempromosikan anti pemerintah.

Sudah banyak postingan mereka sangat mengandung fitnah bahkan hoax yang berbahaya bagi keutuhan bangsa. Hal itu dibuktikan dengan diberangusnya FP atau Group MCA di Facebook. Tentu pihak Facebook menerima banyak report atas pelanggaran yang mereka lakukan sehingga menutup group atau Fanspage. Sebelum bergerak, mereka beberapa kali mengadakan pelatihan bagaimana menjadi MCA. Keberadaan mereka sangat berbahaya karena mereka selalu memainkan logika yang membahayakan keutuhan bangsa. Postingan mereka bukan hanya mengandung hatespeech tetapi masuk pada provokasi bahkan fitnah. Lihat saja buktinya, sudah tidak terhitung berapa orang yang di proses kepolisian akibat ini semua. Dan sumber-sumber postingan mereka dari  imajinasi yang ngawur dan tak berdasar.

Kesalahan mereka itu karena opini yang mereka tulis di status dibangun tanpa basis data yang kuat, menuduh dan tanpa bukti. Lihat saja bagaimana Alfian Tanjung asal bicara soal PKI dan Komunisme bangkit tanpa bukti. Indonesia sangat terbantu dengan anak-anak muda NU yang sangat eksis dan siap menghadapi para perusak Negara ini. Disisi lain, Muhammadiyah yang mestinya lebih modern hamper keteteran mengikuti bahkan muncul di sosmed. Ada banyak aktivis sosmed yang memang kultur NU sangat kuat dan memiliki logika yang ciamik. Kalo semacam Ade Armando, Denny Siregar, Abu Janda itu jelas bukan berakar dari NU hanya mereka bergerak untuk turut mendukung memberantas perusak Negara. Jadi mereka seiring sejalan dengan para aktivis sosmed dari NU.

Jenjang level aktivis sosmed generasi muda NU dengan NU structural sangat jauh. Artinya mereka yang pasang badan untuk bertarung hingga berdarah-darah melawan anasir-anasir perusak NKRI. Sebut saja ada Muannas Alaidit, Rijalul Wathan, Narko Sun, Moch Zein, Iik Fikri Mubarok, Semar Bodronoyo, Aan Anshori, Guntur Romli dan masih banyak yang lainnya. Bahkan mayoritas nama-nama tersebut masuk daftar nama musuh MCA yang akunnya ditarget untuk dihanguskan di Facebook. Keilmuan mereka sungguh luar biasa padahal baru generasi mudanya belum kelompok akademisi NU yang status-statusnya menggelegar.

Tentu jika pasukan MCA bertarung lawan mereka ya hanya bisa memaki. Jangankan bertarung ilmu agama, soal logika saja mereka kewalahan meladeni. Silahkan cek akun nama-nama yang tersebut diatas, ikuti perdebatannya pasti jelas kualitas hatersnya NU itu. Belum lagi kini Fanspage milik kelompok NU makin banyak dan eksis sehingga menenggelamkan banyak FP, Group hingga akun yang hanya berisi cacian. Apalagi tahun ini ada Pilkada serentak dan tahun depan ada Pileg dan Pilpres. Tentu jaringan muda nahdliyin harus makin diperkuat.

Yang jelas aktivis sosmed NU bukan ingin memberangus yang ingin kritik pemerintah. Faktanya bagi para pengkritik itu lebih banyak menuliskan hatespeech, hatespin hingga fitnah. Bahkan tidak jarang ulama-ulama NU difitnah sedemikian rupa. Inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak NU melawan mereka. Jika dibiarkan maka dampaknya akan menyulitkan Negara ini bahkan bisa jadi konflik semacam suriah pindah ke Indonesia. Kita membutuhkan mereka hadir dan terus melawan para perusak Negara.

 

Friday, February 9, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: