Toa Masjid dan "Islam Pamer"

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Sudah lama saya memikirkan tentang dampak positif-negatif dari penggunaan toa di masjid-masjid atau mushala. Sebetulnya ok-ok saja memakai toa (load speaker) asal itu digunakan secara wajar, tidak berlebihan, untuk tujuan positif dan demi kebaikan masyarakat luas serta tetap menjunjung tinggi semangat toleransi dan kemajemukan.

Saya masih melihat sisi-sisi positif penggunaan toa masjid/langgar di kampung-kampung, misalnya--selain untuk azan atau panggilan salat tentu saja--untuk mengumumkan berita kematian, menjenguk tetangga di rumah sakit, kumpulan warga, informasi hajatan, pengumuman kerja bakti, pengumuman bencana atau kasus kejahatan, pengumuman berburu binatang di hutan, dlsb.

Fungsi toa tentu saja jauh lebih mudah dan efektif ketimbang kentongan misalnya. Dulu, para pamong praja di kampung, harus memukul kentongan berkali-kali kalau ada sesuatu terjadi di kampung. Mereka menabuh kentongan secara berlainan tergantung pada kasus. Metode memukul kentongan tanda ada kematian misalnya akan berbeda dengan cara menabuh kentongan untuk menandai kemalingan misalnya. Jadi agak rumit, kalau salah mendengar kentongan, bisa salah persepsi. Nah, dengan adanya teknologi toa ini menjadi lebih efektif dan mudah.

Masalahnya adalah sering kali umat Islam ini "kurang peka" dengan lingkungan sekitar. Mentang-mentang ada toa, mereka pakai seenaknya tanpa mengenal waktu dan tanpa mempedulikan tetangga kanan-kiri yang sedang sakit, sedang punya bayi, orang-orang tua, atau beda agama (non-Muslim). Apalagi pada waktu bulan puasa seperti saat ini, mereka biasanya sampai larut malam memakai toa secara jor-joran untuk tadarus Al-Qur'an atau pagi-pagi buta bangunin orang sahur. Inilah yang saya sebut dengan fenomena "Islam pamer". Kalau di kompleks pesantren yang cukup "homogen" masyarakatnya, mungkin bisa dimaklumi tapi kalau di daerah-daerah heterogen yang penduduknya warna-warni dari berbagai agama, rasanya kok "kurang etis".

Itu belum lagi penggunaan toa untuk khotbah-khotbah dan pengajian menebar kebencian, hujatan, makian, dan permusuhan sesama umat dan anak bangsa. Betul-betul memuakkan.

Saya kira pemerintah, Dewan Masjid, serta tokoh agama dan masyarakat Islam terkait perlu segera menata dan membenahi fungsi toa masjid/mushalla. Kalau dipandang banyak membawa dampak negatif dan menganggu stabilitas sosial dan kenyamanan publik, maka akan lebih baik masjid-masjid dibatasi penggunaan toanya, misalnya hanya untuk "kedalam" atau internal masjid saja tidak perlu keluar ruangan. Atau masjid-masjid dibuat "kedap suara".

Toh baca Al-Qur'an juga tidak perlu keras-keras bukan? Emang Tuhan tuli? Bahkan ada kesan kalau azan atau baca Al-Qur'an memakai toa, seolah-olah Tuhan itu jaauuuuuh sekali sehingga untuk memanggil-Nya pun diperlukan sebuah toa. Tuhan kan deket di hati dan pikiran, jadi tidak perlu pakai load speaker kan? ** (ak)

Sumber : Facebook Sumanto Al Qurtuby

Sunday, June 12, 2016 - 05:15
Kategori Rubrik: