TNI-Polri Bersatu, Tak Ada Tempat Bagi Teroris

Oleh : Kajitow Elkayeni

Salah satu keponakan saya ada di Kopassus, pernah saya tulis tentang ini. Belakangan saya baru tahu, ia menjadi tim elit Sat-81 Gultor. Pasukan khusus dari pasukan khusus (Kopassus). Konon gajinya sama dengan pasukan kopassus biasa, hanya ada tambahan uang gizi yang tak seberapa. Tetapi, jangan tanya bagaimana dia mendapatkan posisi itu. Saya melihat sendiri videonya, bagaimana mereka disiksa dengan tidak manusiawi sebagai latihan jika tertangkap musuh.

Menjadi tentara adalah impiannya, juga impian bapaknya. Ia siap segala-galanya. Setelah masuk itu, ia tak boleh main Facebook. Dulu setahu saya hanya BBM. Kehidupannya hanya dihabiskan untuk memenuhi panggilan tugas. Sebagai pasukan elit, medan perang itu seperti tempatnya olahraga. Mereka tidak mengenal rasa takut dan terbiasa mengatasinya. Jiwa korsa bukan isapan jempol. Cebongan adalah salah satu saksinya. Banyak kejadian lain yang dirahasiakan dari media.

Karena kasus Cebongan itu, ia ikut kena getah. Meski bukan eksekutor, solidaritasnya diganjar "hukuman buang". Kesalahan tetaplah kesalahan dan ia sudah membayarnya.

Saya tidak berani menyalahkan perbuatan semacam itu. Konon, eksekutor Cebongan itu hanya melakukan aksi balas budi. Karena nyawanya pernah diselamatkan. Saya tidak tahu bagaimana rasanya berhutang nyawa. Apalagi bagi mereka, kehormatan atas nama kesatuan adalah segala-galanya.

Ketika saya mendengar kabar, pasukan elit TNI diperbantukan Densus 88, saya teringat keponakan saya itu. Bagi pasukan seperti mereka, teroris tentu hanya boneka mainan. Meskipun kita tahu, yang penting dalam pemberantasan terorisme adalah kerja intelijen. Jika terjadi pengepungan dan pertempuran, percayalah mereka sangat terlatih dan sangat cepat.

TNI ada tiga matra, TNI AU punya pasukan elit bernama Satbravo-90, TNI AL ada Denjaka (Detasemen Jala Mangkara), dan TNI AD (Kopassus) ada Sat-81 Gultor. Dari ketiga pasukan elit itu, yang paling ditakuti sebenarnya Denjaka. Reputasinya sudah terkenal sejak dulu. Satu Denjaka, rumornya setara dengan seratus tentara reguler. Jika ketiganya bersatu, ditambah Densus 88, saya tidak tahu, perlu berapa banyak teroris untuk menghentikannya. Ini adalah kabar buruk bagi mereka.

Banyak orang ketakutan dengan masuknya TNI dalam Komando Operasi Khusus Gabungan itu, termasuk Komnas HAM. Mereka tidak ingin tentara diberi kewenangan terlalu besar. Seperti jaman Orde Baru dengan Dwi Fungsi ABRI. Mereka masih trauma. Padahal selama tidak ada undang-undang khusus tentang itu, selama kewenangan mereka dibatasi, tidak akan ada masalah. Fungsi TNI hanya diperbantukan.

Bergabungnya TNI ini adalah kabar baik bagi Polri, tidak saja memudahkan kerja mereka, tapi itu juga menyelamatkan muka Polri dari stigma.

Selama ini Polri sering dianggap musuh oleh radikalis islam, terutama teroris. Polisi musuh islam. Stigma ini terus dihembuskan. Bahkan ada kesengajaan membenturkan TNI dengan Polri. Apalagi kita tahu, Gatot sejak lama telah bermanuver mendekati golongan islam. Ia berusaha menampung suara sumbang dari kelompok mereka. Bertingkah bak juru selamat. Terutama menjelang Pilpres ini. Wajah Polri tentu semakin muram sebagai kambing hitam.

Sekarang situasi telah berbalik arah. Musuh nyata teroris bukan hanya Polri, tapi juga TNI. Suara mengadu domba tak mungkin lagi dilakukan. Jika dulu pemberontakan DI/NII dihancurkan TNI, ending para teroris itu akan serupa. Nasib teroris akan lebih baik saat mereka berhadapan dengan Densus 88. Mereka didoktrin untuk humanis dan mengedepankan operasi serangan dengan sedikit korban.

Doktrin TNI tidak demikian. Naluri mereka membunuh. Eksekusi secepatnya secara efisien adalah ajaran wajib mereka. Di medan tempur, hanya yang tercepat dan terkuat saja yang bisa bertahan. Tentara tak boleh lembek. Ketemu mereka, besar kemungkinan teroris itu akan didor. Semua potensi bahaya pasti dilumpuhkan. Ini tentu sulit dipahami dengan logika umum. Namun begitulah doktrin tentara itu.

Jadi, jika radikalis itu mau memusuhi TNI sebagaimana mereka memusuhi Polri, kita akan melihat pembersihan besar-besaran. Jika sampai ada korban nyawa di kalangan TNI, itu akan menjadi kiamat bagi mereka.

Dengan kerja sama seperti ini, rivalitas antara TNI dan Polri bisa diminimalisir. Tidak dipungkiri, di masa lalu, dua institusi itu secara halus saling bersaing. Di saat menghadapi musuh yang sama, persaingan lama itu akan terkubur. Kalaupun tidak memadamkan api, setidaknya itu adalah awal yang cerah untuk kedua instistusi tersebut.

Jalan panjang penumpasan teroris ini entah kapan berakhir. Selama itu pula tidak ada ruang permisif bagi mereka. Para penceramah radikalis harus diganti dengan yang toleran, memahami kebhinekaan. Para pendukung teroris di media harus disapu bersih. Institusi pemerintahan dan BUMN juga harus steril dari penyusup.

Kini, dengan bergabungnya TNI, babak baru penumpasan teroris sudah dibuka. Duduk manis, siapkan popcorn, dilarang gaduh saat tontonan dimulai...

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Tuesday, May 22, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: