TNI dan Lumbung Pangan

ilustrasi

Oleh : Iman Zanatul Haeri

Singapura sudah mengumumkan resesi, Sri Mulyani menyatakan Indonesia lampu kuning. Ada keuntungan geografis ketika modal dan juga suplai makanan terdesentralisasi. Harusnya begitu.

Pada akhirnya desa menjadi penyelamat kota-kota besar yang tidak bisa memproduksi makanan sendiri. Cuma ya, banyak sekali proyek nasional yang mempercepat sentralisasi modal ke Jakarta dengan daya keruk yang sangat menghancurkan daerah. Sehingga mungkin saja sekarang lebih banyak desa “bodong” yang tidak produktif. Artinya bahan makanannya impor juga. Daya hancur ini sedang diperkuat dengan Omnibus Law.

Jujur saja, kalau kalian sekarang mau pulang ke desa, rasanya sudah terlambat. Prabowo sudah duluan. Segera urus lumbung pangan. Mungkin itu yang disebut TNI garda depan.

Siapa yang menguasai pangan, ya tentu saja, menguasai banyak hal. Dalam skenario terburuk, mereka yang tidak menguasai pangan hanya memiliki harga diri dalam selembar kertas. Itu mungkin alasan kenapa dalam Kisah Nabi Yusuf, para saudaranya berada dalam posisi lemah. Konon saat itu suplay makanan di jatah. Nabi Yusuf menjadi pejabat yang mengurus suplay pangan. Apakah pejabat yang mengatur suplay Pangan namanya Mentan atau Menhan di Mesir saat itu? Saya gak tahu juga. Kejadiannya udah lama banget kan.

Cuma ya jangan jauh-jauh. Soal TNI menjaga suplay lumbung pangan sepertinya sudah jadi tradisi yang lebih tua dari kaleng khong guan.
Sebagian Laskar Barisan Banteng, Hizbullah dan Tentara RI Siliwangi memilih membelot dari pemerintah RI yang kemudian ikut DI/TII Kartosuwiryo. Mereka tidak mau ikut pergi dari Jawa Barat ke Jogja. Meskipun di rayu oleh Jend Soedirman dengan diksi “Hijrah TNI”. Hanya sekitar 30.000 orang yang mau hijrah ke Yogyakarta.

Tentu yang kita bahas adalah yang tidak mau hijrah. Klo tidak salah, Robert Cribs dan Van Djick sama-sama memuat alasan kenapa mereka tidak mau pergi dari Jabar, lebih tepatnya “Karawang”.

Karena para pasukan tersebut terlalu nyaman berada dan mengatur “lumbung pangan nasional” di Karawang. Kemudian tiba-tiba saja perjanjian Renville 1948 menyebut RI harus pergi dari Jabar. Makanya, motif-motif strategis seperti ini jarang dibahas. Soal pangan, masih akan terus strategis karena kita belum makan listrik. . . Lalu? Jangan minta solusi. Banyak orang yang digaji tinggi untuk memikirkan itu. Santai saja.

Sumber : Status facebook Iman Zanatul Haeri

Saturday, July 25, 2020 - 14:00
Kategori Rubrik: