Titik Temu

Oleh: Sahat Siagian

 

Kelompok kami beranggotakan orang-orang lintas agama. Kami sepakat menyelenggarakan Jamuan Natal pada tanggal 26 Desember pk 11 pagi. Saya mengusulkan potluck, masing-masing datang bawa makanan untuk dinikmati bersama. Buat saya, ini sebuah eksperimen sosial.

Saya lebih menyemangati mereka yang beragama Kristen untuk bawa makanan, membiarkan mereka yang beragama Islam dan Buddha hadir sebagai penikmat. Saya sendiri dengan tegas menyatakan akan membawa 2 kg bersih Babi Panggang Madu, kepingin lihat apa yang kelak terjadi.

 

 

Ini kelompok anjing liar. Ada fisikawan Kristen tapi gak mau makan binatang berkaki, hanya mau makan ikan dan makanan laut. Ada rocker Islam konservatif. Ada juga muslimin liberal, beristrikan perempuan Kristen, gak jarang berpakaian slenge'an: T-shirt bergambar salib, tapi gak melupakan shalat Jumat. Ada muslimah bernamakan Kristen, tak sungkan minum bir bersama saya.

Ada pula muslimah moderat, tidak makan babi, tapi tak canggung bersikap takzim ketika doa kristen didaraskan. Namun, mendapati babi panggang nampang kalem di tengah makanan halal pasti sebuah perjuangan tak mudah. Ada etikawan Buddha, mantan Kristen sekaligus mantan Muslim. Maksudnya, ia pernah menjalani 2 agama tersebut dan sekarang merasa nyaman memeluk agama Buddha.

Si Rocker muslim-konservatif wanti-wanti mengingatkan saya agar babi panggang dan kambing tidak dimasak di kuali atau di penggorengan atau di alat masak yang sama. Saya bilang, pembawanya 2 orang berbeda: yang 1 kristen, yang 1 lagi muslimah. Dia langsung tenang dan berjanji akan makan dengan lahap sekaligus tabah melihat potongan babi panggang nampang di meja makan.

1 orang posting di grup, berjanji akan bawa sapo tahu. Makanan tersebut secara khusus dibawa buat saintis kristen pemakan binatang tak berkaki. Seorang Mayjen Purnawirawan, menjabat sebagai komisaris, menawarkan untuk membawa arsik ikan mas. Datang lagi tawaran dari perempuan Cina: Ayam rica-rica. Lalu kemudian keajaiban terjadi.

Si Muslimah moderat menawarkan diri membawa Es Cendol. Muslimah peminum bir berjanji bawa satay. Saya terkejut, tak menyangka 2 perempuan Islam merasa sepenuhnya terlibat dalam Jamuan Natal. Membayangkan diberi ucapan Selamat Natal saja saya merasa kegeeran, ini mereka datang membawa makanan???

Tapi ternyata itu belum apa-apa.

SI Rocker muslim-konservatif tergerak berpartisipasi. Dia berjanji bawa empek-empek. Gak cuma itu, dia akan membuat makanan khas palembang itu dengan tangannya sendiri. Pk 20 dia pamerkan empek-empek mentah karyanya di grup dengan caption: "tinggal goreng besok."

Kemarin, pk 11:00, satu per satu berdatangan. Makanan demi makanan terhidang di meja. Saya, seturut janji, datang bersama Muna membawa 2 kg bersih Babi Panggang Madu. Seorang sineas membawa 30 kaleng bir. Lalu Direktur Musik membawa 12 kaleng bir. Gak cuma itu, juice bercampur vodka juga siap direguk. Mereka mendaulat saya memimpin doa makan. Saya rada terkejut. Bukan karena tak siap, tapi memimpin doa secara Kristen di depan orang-orang lintas agama bukan sesuatu yang biasa.

Tak mungkin menolak, saya ajak semua memejam mata. Saya sapa Sang Mula-Mula dengan sebutan "Tuhan", menghindar dari kata "Bapa". Lalu ketika sampai di bagian tentang kenapa Jamuan Natal ini diselenggarakan, saya tuturkan seorang manusia yang lahir di lebih dari 2000 tahun lalu dan dari ajarannya dunia memasuki jaman baru, berkeadaban hingga sekarang, menjadikan segala sesuatu lebih baik.

Tak lupa saya ajak kami semua mengingat mereka yang lapar, tertindas, dilupakan, tertimpa kemalangan, dan ternista, lalu meminta Tuhan memakai kami sebagai alatNya untuk menegakkan mereka berdiri. Sambutan "amin" terdengar lirih dari beberapa orang. Lalu doa diakhiri dengan berucap, "terima kasih, Tuhan, dengarlah doa kami."

Masing-masing mengambil makanan. Saya lihat Babi Panggang Madu 'nampang' dengan ganjennya. Tak satupun terganggu. Hadirin makan lahap. Serius, semua makanan yang tersaji betul-betul bikin ketagihan. Orang-orang 'nambah' nasi tanpa malu-malu. Tawa cekakak terdengar di sini-sana.

Selepas jamuan dan mengisap 1-2 batang rokok di taman, acara berlanjut dengan percakapan. Entah kenapa, saya merasakan semangat meluap dari semua yang hadir. Entusiasme membukit, perasaan sebagai sesama peziarah, dan tekad kuat bagi serangkai kerja yang berlangsung setahun ke depan mulai Januari, mengisi ruang berdimensi 12 x 5 meter. Kami gak mau pisah.

Natal terselenggara sempurna: orang-orang dari berbagai latar belakang suku, agama dan non-believers, berkumpul mesra menyambut sukacita surga. Ke dalam mereka saya percayakan masa depan Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Wednesday, December 27, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: