Titik Soeharto - Kekejaman Rezim

ilustrasi
Oleh : Dimas Supriyanto
 
Pernyataan Titiek Soeharto bahwa di zaman bapaknya tidak ada kekezaman rezim seperti yang dilakukan kini adalah pengelabuan, pembodohan, dan pemutar balikan fakta.
 
Pemilik nama lengkap Siti Hediati Hariyadi ini, berkata,  "Dulu zaman Pak Soeharto nggak kaya begini, kayanya sekarang lebih gila lagi. Makar, makar apa sih? Ini katanya demokrasi, kita sudah reformasi, dan boleh keluarkan pendapat. Belum apa-apa sudah dibungkam," demikian kata Titiek di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019).
 
Di zaman Soeharto tidak ada yang berani melakukan makar. Memikirkannya pun tidak, karena yang terancam bukan hanya diri pelaku makar,  melainkan seluruh keluarganya. Bahkan seluruh keluarga besarnya!
 
Ini kesempatan bagi saya untuk memaparkan fakta fakta dan menyampaikan pengalaman pribadi.
 
Selama Soeharto berkuasa, Ibu saya mencoblos Golkar karena diintimidasi secara halus oleh aparat Koramil di seberang rumah. Bahwa jika punya anak kerja di kantor maka wajib sekeluarganya mencoblos Golkar. Kami anak anak Ibu,  semua kerja di kantor  di Jakarta –  tapi dua di instansi pemerinah dan dua di perusahaan swasta.
 
Bagi orang desa yang lugu seperti Ibu kami,  tak ada perbedaan “kantor pemerintah” dan “kantor swasta”, semua yang “kerja di kantor”  wajib mencoblos Golkar. Golkar kepanjangan rezim, sebagaimana Korpri dan ABRI -  dimana Koramil menjadi ujung tombaknya.
 
Ibu saya menyayangi anak anaknya dan dengan caranya melindungi mereka dengan mengikui perintah orang Koramil itu. Mencoblos Golkar demi keselamatan anak anak tercintanya.
 
Pada masa bapaknya Titiek berkuasa, Golkar bebas menentukan jumlah kemenanganya, 60 persen atau 70 persen.  Atau lebih. Dari tiga partai yang ada, PPP dan PDI, hanya pelengkap penderita. Golkar menang nyaris tanpa perlawanan. Dalam sidang MPR, Soeharto pernah mengagas untuk menculik politisi lawan agar kuorum dalam sidang untuk menentukan kemenangannya.
 
Pada masa bapaknya Titiek berkuasa, saat saya mengawali kerja sebagai wartawan,  di  tahun 1983, terjadi pembunuhan massal, dengan 532 orang tewas, 367 orang di antaranya akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Umumnya mereka ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat.
 
Peristiwa penculikan dan penembakan misterius  - terkenal dengan sebutan Petrus - terhadap mereka yang diduga sebagai gali, preman, atau residivis itu. Belakangan, diakui Presiden Soeharto, sebagai inisiatif dan atas perintahnya. "Ini sebagai shock therapy," kata Soeharto dalam biografinya, “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”.
 
Pada zaman bapaknya Titiek berkuasa, ada buruh yang memperjuangkan haknya, upahnya dan disiksa dengan keji. Kemaluannya ditusuk dengan benda tumpul. Nama buruh itu adalah Marsinah, para akisi tak akan ada yang lupa.
 
Ia dibunuh di usia yang masih teramat muda, 24 tahun. Pada 8 Mei 1993,  Marsinah ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah di Desa Jagong, Nganjuk. Jenazahnya divisum RSUD Nganjuk pimpinan Dr. Jekti Wibowo.
 
Di dalam tubuhnya ditemukan serpihan tulang dan tulang panggul bagian depan hancur. Selain itu, selaput dara Marsinah robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya memar. Rongga perutnya mengalami pendarahan kurang lebih satu liter.
Satu bulan sebelum Marsinah dibunuh, Presiden Soeharto menghadiri pertemuan Hak Asasi Manusia di Thailand. Dalam forum itu, Soeharto menyatakan RUU Hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB tidak bisa diterapkan di negara-negara Asia.
 
Jenderal tangan besi itu menjelaskan, di Asia warga tak bisa bebas mengkritik pemimpinnya, beda dengan budaya Barat.
 
Marsinah adalah buruh PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik arloji di Siring, Porong, Jawa Timur. Buruh PT CPS digaji Rp1.700 per bulan. Padahal berdasarkan KepMen 50/1992, diatur bahwa UMR Jawa Timur ialah Rp2.250.
 
Pada zaman bapaknya berkuasa ada model cantik, Dietje Budiarsih Budiono namanya -  tewas mengenaskan akibat dibunuh. Jenazahnya ditemukan di sedan Honda Accord warna putih di tepi Jalan Dupa, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin 8 September 1986 pukul 22.00 WIB.
 
Luka yang membunuh Dietje antara lain tembakan di bagian lehernya menembus kepala. Kemudian aparat datang membawa skenario, mengumumkan Muhammad Siradjudin alias Pak De sebagai pembunuhnya. Pak De dipaksa mengaku sebagai pelakunya, dengan cara disiksa, bahkan anak laki lakinya disiksa juga agar bapaknya menyerah dan mengaku.
 
Kematian model cantik itu diisukan terkait dengan skandal yang melibatkan keluarga besar Cendana.
 
Di zaman Soeharto berkuasa, seorang pengecer buku di kampus, bisa dipenjara di LP Nusakambangan hingga delapan tahun. Buku yang dijual itu adalah novel Tetralogi Pramoedya Anana Toer ('Bumi Manusia', 'Anak Semua Bangsa', "Rumah Kaca', 'Jejak Langkah'), dan kawan saya itu masih hidup sampai sekarang, masih jadi aktifis.
 
Buku-buku novel itu kini sudah dijual di pasar dengan bebas. Sebenarnya bukan buku berbahaya, bahkan buku sastra bernilai tinggi. Namun pada zaman Soeharto jadi buku terlarang.
 
Pada zaman bapaknya Titiek berkuasa,  ada wartawan yang dibunuh di tengah malam karena berita berita yang ditulisnya.  Nama wartawan itu adalah Udin. Terjadi Selasa Malam tanggal 13 Agustus 1996 -  Udin didatangi oleh orang yang tidak dikenal lalu dianiaya sampai akhirnya tanggal 16 Agustus 1996 dirinya menghembuskan nafas terakhirnya.
 
Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin adalah wartawan ‘Bernas’, Yogyakarta, yang dianiaya oleh orang tidak dikenal, di depan rumah kontrakannya, di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta. 
 
Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang konflik penguasa lokal yang punya koneksi dengan orang penting di Jakarta. Udin tewas di usia 32 tahun.
 
PADA ZAMAN SOEHARTO BERKUASA, tokoh tokoh yang berseberangan dengan rezim diasingkan. Para tokoh Petisi 50 ditutup bisnisnya, dengan segala cara. Bank dilarang memberi pinjaman.  Bahkan anak cucunya diisolasi. Intel Kopkamib, Laksus bekerja sangat efekif dan mengabdi pada rezim, khususnya kepada keluarga Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya.
 
Anak anak generasi Milenial tidak tahu bahwa Suharto naik tampuk kekuasaan selama 32 tahun,  dengan membunuh sekurang kurangnya 78 ribu jiwa (fact finding commision), 500 ribu hingga tiga juta jiwa anggota dan simpatisan PKI tanpa pengadilan -  versi redaktur mingguan 'Mahasiswa Indonesia'  - mengutip keterangan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, Komandan RPKAD.
 
Sebagiannya adalah orang orang yang tidak bersalah, orang yang ikut ikutan,  dibantai dengan keji, mayatnya dilempar ke kali, dan darahnya menggenangi  sungai di semua kali di seantero pulau Jawa.
 
Sedangkan anak cucunya yang masih hidup mendapat stigma nista keturunan PKI seumur hidupnya.
 
Karena itu, Titiek Soeharto tidak layak bicara kekejaman rezim. Atau kegilaan rezim..
 
Di Indonesia, simbol kekejaman rezim itu ada di rumahnya, orang yang selama ini membesarkannya, yaitu bapaknya sendiri. 
 
Sumber : Status Facebook Dimas Supriyanto
Sunday, May 26, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: