Titik Pandang : Putra Gereja

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Saban pengumuman kabinet sejak zaman Orde Baru pada umumnya orang Kristen bertanya-tanya dan berharap-harap cemas: ada berapa menteri yang beragama Kristen? Rasa ini manusiawi dan lumrah. Mereka tentu berharap kehadiran mereka bermaslahat bagi gereja.

Pertanyaannya apa benar mereka bermaslahat bagi gereja? Apa gereja sudah menggunakan mereka bagi kemaslahatan gereja? Dalam arti sempit gereja sudah memanfaatkan mereka, namun belum memaslahatkan mereka. Gereja masih memanfaatkan kuasa dan sumber keuangan mereka bagi gereja. Secara lebih luas gereja tidak memanfaatkan mereka untuk kemasalahatan gereja. Gereja belum menggali potensi mereka untuk memantapkan jatidiri gereja.

Di kabinet saat ini menteri dari kalangan Kristen yang paling menonjol dan paling banyak disorot adalah Luhut Binsar Pandjaitan (LBP). Dengan kepiawaiannya dalam bidang organisasi, pertahanan, ekonomi, dan bisnis apakah gereja sudah memanfaatkan potensinya? Tidak, selain memanfaatkan kuasa dan uangnya. Ibarat sebuah buku, LBP hanya untuk pengganti kipas angin, ganjal TV yang miring, dlsb. sampai untuk nabok lalat yang berseliweran, bukan sebagai pembuka wawasan, jendela untuk melihat dunia.

Tentu saja akan ada orang Kristen yang berbeda dari saya bahwa LBP sudah banyak berjasa bagi gereja. Itu bukti bahwa gereja sudah memanfaatkan segala potensinya, kata mereka. Pertanyaan saya, adakah peninggalan atau warisan atau legacy LBP? Tidak ada. Jangan-jangan LBP justru senang dijadikan cantolan gereja, karena kuasa dan uangnya? Di seberang yang lain orang menyerang saya “Kamu ini mengada-ada! Emangnya LBP seorang rohaniman atau teologiman?”.

Siapa yang tak mengenal TB Simatupang? Orang Jakarta yang biasa melintasi JORR dari perempatan RS Fatmawati ke arah timur setidaknya mengerti ada nama TB Simatupang yang diabadikan menjadi nama jalan. TB Simatupang adalah seorang letnan jenderal. Ia bukan seorang rohaniman atau teologiman. Peninggalannya atau legacy-nya menancap di gereja. Pemikiran TB Simatupang menjadi landas pacu pemikiran gereja dalam pembangunan nasional.

Kalau kita menengok lebih ke belakang lagi akan banyak kita jumpai orang-orang yang bukan rohaniman atau teologiman yang karyanya menjadi warisan gereja. Sebut saja Robert Raikes seorang editor dan pengusaha penerbitan menjadi founding father Sekolah Minggu. Robert Estienne, juga seorang editor, yang merinci Alkitab ke dalam nomor-nomor ayat yang digunakan oleh orang Kristen sampai sekarang.

Bacaan ekumenis Minggu ini diambil dari Matius 5:1-12. Ucapan-ucapan bahagia ini disampaikan oleh Yesus dalam rangka mengajar orang-orang yang berduyun-duyun datang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea, dan Seberang Yordan. Bukan orang-orang Yahudi saja. Ucapan-ucapan bahagia ini merupakan bagian dari tema besar “Khotbah di Bukit” dalam pasal 5 – 7. Menurut versi Injil Matius ada sembilan ucapan “Berbahagialah …”. Siapakah yang berbahagia menurut Yesus? Orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang yang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang murah hati, orang yang suci hati, orang yang membawa damai, serta orang yang dianiaya karena kebenaran, orang yang dicela, dianiaya, dan difitnah karena Yesus.

Yesus mengatakan “Berbahagialah …”, bukan “kamu akan berbahagia”. Jadi, kebahagiaan itu sudah menjadi milik mereka yang pada saat itu dianggap tidak berbahagia oleh orang lain. Kebahagiaan yang dimaksud oleh Yesus bukan keadaan masa depan, melainkan sudah menjadi milik orang-orang yang mengalami suasana di atas. Perlu diketahui yang dimaksud “orang yang miskin di hadapan Allah” itu bukan “miskin rohani”, bukan orang kaya yang mengakui hartanya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. “Orang yang miskin di hadapan Allah” memang orang yang tidak punya apa-apa lagi, tidak punya suatu yang menjadi andalan lagi, sudah bangkrut.

Mahatma Gandhi adalah seorang Hindu. Ia benar-benar mengamalkan pengajaran Yesus dalam “Khotbah di Bukit” dan tentu saja juga ucapan-ucapan bahagia tersebut yang menjadi titik berangkat perjuangan Gandhi. Dalam melawan penjajah Inggris Gandhi panggah mengamalkan pengajaran Yesus. Dalam pada itu penjajah Inggris yang Kristen justru tidak mengamalkan pengajaran Yesus.

Martin Luther King Jr. berjuang keras untuk persamaan hak sipil bagi warga kulit hitam di AS. Dalam perjuangan itu ia mencontoh Mahatma Gandhi. Orang Kristen mencontoh orang Hindu yang mengamalkan pengajaran Yesus. Bahkan orang Kristen itu adalah seorang pendeta!

Kalau begitu lalu apa yang mewujudkan jatidiri Kristen? Baptisan atau tindakan? LBP harusnya orang yang berbahagia karena lapar dan haus akan kebenaran. Pada suatu kesempatan berpidato di GMIT, NTT, 2015, LBP mengatakan "Gereja itu perannya bukan untuk berpolitik, gereja adalah perpanjangan tangan Tuhan, dan harus membawa persatuan yang lurus dan utuh untuk umatnya sehingga jemaatnya menjadi lentera pembangunan dimana saja di seluruh pelosok Indonesia.” Di sini entah LHP lupa atau sengaja mengebiri gereja. Karakter gereja yang injili (bukan aliran evangelikal) ialah menyampaikan suara kenabian ketika hak-hak warga dikebiri oleh penguasa. Dari sini dapat dilihat LHP bukanlah orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Ia hendak menjadikan gereja anak manis penguasa.

Mari kita lihat penutupan dalam “Khotbah di Bukit: “Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Mat. 7:28-29). Kesan para pendengar adalah Yesus mengajar menakjubkan bagai seorang yang sedang berkuasa, penuh wibawa, padahal Yesus bukanlah siapa-siapa, apalagi penguasa Yudea.

Di sinilah gereja kerap jatuh dalam pengharkatan diri terlampau tinggi. Ketika gereja bersama dengan “putra gereja” yang menjadi penguasa merasa berwibawa dan berkuasa, jutru kehilangan wibawa dan kuasa. Jatidiri gereja dikenal sebatas baptisan.

Quote of the day:
“Penicillin cures, but wine makes people happy.” Alexander Fleming

Wassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Wednesday, February 5, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: