Titik Nol

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

"Bacalah," itu perintah pertama dalam Alquran. Bagus. Kristen? "Pada mulanya."

Keduanya sama. Kristen malah lebih njlimet. Kita diminta untuk memahami duduk perkara dari titik awal, mulai sejak segala sesuatu mengada.

Tapi orang Kristen malas membaca, lebih doyan merapal kalimat-kalimat plastis yang nempel meriah di pantat mobil: "Jesus is my way", "Jesus is my pilot", "He is the king of kings", dan lain-lain.

Yang terakhir bikin ruwet. Apalagi dipadu dengan doksologi dalam Doa Bapa Kami, "karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan... "

Yesus sebagai Raja adalah aklamasi pengimbang yang dilontar Paulus untuk menanggapi kepercayaan Roma bahwa kaisar adalah dewa. Sifatnya politikal, situasional, temporal, bukan beneran.

Kata teman saya, Golgota adalah titik nol. Jika Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka di Golgota Yesus menyangkal semuanya, menidakkan segala atribut mau pun pemujan Anda terhadap Dia. Di sana seluruh kemegahan, kuasa, kerajaan, dan kemuliaan, ditanggalkan Yesus.

Doksologi bukan ajaran Yesus. Itu rumusan gereja sebagai tanggapan terhadap inisiasi cinta yang digelar Yesus. Sahih kalau itu Anda gunakan untuk mengagungkan Yesus. Berterimakah itu buat Yesus?

Tidak, kata Sharon tegas. Itu nyata-nyata sudah dicampakkan Yesus. Di sana Dia meniadakan dirinya. Di sana berselenggara samadi purna. Di sana Yesus menarik garis tegas antara semua yang kau damba dan apa yang sesungguhnya adalah kamu. Di sana mesin-mesin pemasaran kehilangan daya. Di Golgota Yesus mencampakkan dualitas menang-kalah.

Kebangkitan adalah vision, kata Bart Ehrman. Itu lahir dari titik nol. Sebab tak ada kemungkinan lain dari titik nol kecuali pertumbuhan.

Berbeda dengan teologi Luther yang mengatakan Salib sebagai teologi Kristen, Muna menyatakan bahwa Sabda adalah teologi kita. Salib menyediakan sudut pamungkas kepada kita untuk menengok kembali Sang Sabda.

Sabda menuntas di kayu salib. Tidak ada jin kafir di dalamnya. Tak juga ada puji-puja. Salib bukan kemegahan. Salib bukan aklamasi. Salib adalah titik nol, tempat ke mana kamu pulang. Salib adalah kelahiran kembali. Bahwa salib digunakan untuk mengusir roh jahat, itu urusan para dukun.

Salib adalah "Pada mulanya". Hidupmu dimulai dari titik nol. Kalau kamu merasa bahwa kamu harus menang terhadap seorang ustadz, ingatlah selalu: Yesus menolaknya.

Kamu tak harus menang. Sebab dualitas menang-kalah kehilangan daya pukau di atas salib.

Dari salib, Sabda mekar. Itulah jin sebenar.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Saturday, August 24, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: