Titiek dan Romantisme Orba

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Rajinnya Titiek belakangan ini membantu mantan suaminya berkampanye dan keluarnya dia dari Golkar kemudian masuk ke partai Berkarya, mestinya kita sikapi dgn biasa-biasa saja, karena arahnya kebaca dia mau apa dan kemana.

Nalurinya sebagai anak Soeharto, besar pada zaman itu begitu nikmatnya. Saking nyamannya, anak-anak Soeharto gak ada yg sempat tamat kuliah kecuali Mamiek, itupun harus lulus, kalau tidak IPB bisa jadi kampus tanpa pintu gerbang alias di tutup.

 

 

Mereka tumbuh bak bayi dilempar dikolam susu, berenang dgn cukup gizi, badannya bongsor, tapi akhlaknya kendor.

Entah kapan mereka belajar, tiba-tiba semua jadi pengusaha. Paman-pamannya, koleganya, kroninya, semua kaya raya. Banyak yg merindukan masa itu, khususnya orang-orang yg merasakan kemudahan melakukan kecurangan dan perampokan dalam hal mencari makan dgn jalan culas berkepanjangan. Tak heran masa itu dirindukan. Sejak 2014, sdh ada selogan murahan " Pie penak zamanku tho " dgn gambar Soeharto tersenyum bak pembunuh berdarah dingin.

Iya, Soeharto selama 32 thn telah membunuh demokrasi, kreatifitas, menindas golongan yg tak sefaham, kantor koramil saja dicat kuning utk menekankan Indonesia identik dgn Golkar. Warna itu seolah berkata jgn coba ada warna lain dalam acara resmi, kalau saja panjang kekuasaannya mungkin merah putih menjadi kuning putih. Romantisme itu terbawa sampai partai berkarya ditetaskan dgn warna dan logo yg hampir sama dgn Golkar. Golongan Karya, dan Partai Berkarya. Lahir dgn DNA yg sama, hanya saja sekarang kakaknya mulai ganti mazhab, karena secara rasional mereka sadar dan fakta mengatakan bahwa masa kejayaan dgn cara akal-akalan sudah dimakan zaman.

Titiek dan saudaranya pastilah bermimpi zaman keemasan ini bisa dijelmakan, mereka mau memaksakan, bahkan ritual kemesraan lima tahunan dia lakoni bersama sang mantan yg sebenarnya juga makin rentan karena sudah jauh dari jantan, ibarat kelapa sdh tak bersantan.

Pilpres 2019 yg bakal diramaikan dgn pemilih pemula yg disebut kaum milenial dicoba di sasar, anak-anak muda ini akan dibius dgn janji, kemudahan dan rayuan murahan, sampai impian menghidupkan zaman orba yg penuh malapetaka mereka katakan sebuah kejayaan. Apakah mereka gila, tidak juga, karena mereka pernah menikmatinya, bak candu mereka menghisapnya, asapnya kemana-mana, aroma itu yg mereka coba bangkitkan kembali. Ini yg harus diwaspadai karena anak-anak kelahiran thn 2000an ini sedang rentan godaan, makhluk gadget minim idiologi ini bisa dgn mudah dibuat goyah.

Tugas kita adalah tidak membiarkan orba menetas dua kali. Jangan biarkan eraman itu berlangsung lagi kalau kita tidak mau Indonesia dilanda malapetaka. Beritahu bahkan kepada istri, suami atau anak-anak kita. Jangan kasi ruang bagi pemuja orba karena mereka srigala berbulu domba bagi Indonesia.

Jika mengaku Indonesia, #MARIJOKOWILAGI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, November 25, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: