Tipisnya Empati dan Alasan Bercanda

ilustrasi

Oleh : Maureen Hitipieuw

Hampir tiap hari di media sosial ada aja yang menggunakan kata “Janda” atau “pelakor” demi popularitas. Bahasa jaman sekarangnya: “biar viral” bahkan sering dipakai jadi marketing gimmick.

Kemarin di saat lagi sibuk meeting seharian, group WhatsApp SMI rame banget bahas tweet seseorang ini. Nggak usah dikasih panggung lagi lah ya. Beliau cukup terkenal kok, centang biru di Twitter, followers 144k, sosok yang punya ilmu banyak. Saya baru sempat baca setelah selesai meeting tadi malam.

Awalnya saya nggak mau komen (and usually I don’t care anymore about the cheap talks) tapi kok rasanya kali ini saya harus bicara mewakili suara hati 3,300-an lebih anggota SMI. I needed to say something to this dude.

Saat diserbu netijen komentarnya hanya becanda? Betapa gampangnya mengatasnamakan becanda untuk hal-hal yang tidak selayaknya dijadikan bahan becanda.

Apa menurut dia itu lucu disaat Ibu Tunggal pontang-panting berusaha menghidupi anaknya?

Apa menurut dia itu lucu saat Janda menderita PTSD akibat KDRT?

Apa menurut dia itu lucu saat Ibu Tunggal yang udah pusing mikirin hidup masih juga dituding sebagai Janda genit yang bakalan ngerebut suami orang?

Apa menurut dia itu lucu saat Ibu Tunggal banyak yang sampai depresi, ingin bunuh diri karena merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan?

Tweet balasan saya nggak muat sebenarnya tadi tapi what I wanted to say is this:

“Hi Mas, thanks for making this janda & duda conversation naik ke permukaan. Twit (becanda) seperti ini yang bikin kami di Single Moms Indonesia semakin bersemangat untuk nunjukin bahwa Janda/Single Moms itu perlu terus dikuatkan dan kokoh, terlepas status yang disandang, di tengah derasnya stigma negatif (and jokes like this) and it’s NOT easy!”

Pengen nambah sih “mungkin kalau bertukar peran sehari aja gimana? Supaya lebih berempati gitu...”

Tapi ya sudah lah ini salah satu contoh kenapa Ibu Tunggal perlu semakin berdiri ajeg di atas kedua kaki sendiri. Biar nggak gampang emosi dengan stigma “becanda” di luar sana.

Yuk, teman-teman Ibu Tunggal kita kuat bersama ya. Ingat, lebih penting kita fokus membangun kembali kehidupan kita bareng anak-anak tercinta.

Sumber : Status facebook Maureen Hitipieuw

Sunday, June 28, 2020 - 12:45
Kategori Rubrik: