Tipe-Tipe Eror

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Dalam status seorang teman, ia menulis tentang tipe-tipe Error.
Tipe I: Teriak ada macan ternyata hanya suara rumput. Ketakutan berlebihan untuk hal kecil dan tidak mengkhawatirkan. Parno, paranoid, mungkin masuk wilayah ini.
Tipe II: Dengan santai mengatakan hanya suara rumput ternyata suara macan. Kesalahan yang menyangkut ketidakwaspadaan. Meremehkan, ngentengke.

Tipe error apa yang harus kita pilih? Tergantung jenis risikonya. Untuk hal yang arahnya catastrophic, kebencanaan, utamakan parno. Tipe error 1, walau nanti ternyata keliru. Alarm yang tak sengaja berbunyi saat tak ada kebakaran jauh lebih baik ketimbang gedung terlanjur terbakar karena alarm tidak bunyi. If your horse is blind, you better go slow. Not all risks are the same, demikian wejangan teman itu.

Menggunakan tipe error I, maka apa yang dilakukan Arab Saudi sudah benar, demi mengamankan banyak orang dari ancaman penyebaran virus Corona.

Apa yang dilakukan Saudi serupa dengan kisah percintaan, lebih baik segera memutus hubungan dengan pacar yang toxic, jika hubungan itu terasa tidak menyenangkan. Demikian lanjut tulisan teman saya itu, jika tidak ingin risiko seumur hidup menderita. Andai keputusan itu keliru, toh masih masih bisa cari pacar lagi.

Awas, jangan terbalik. Karena atas nama politically correct, sering kali hidup kita harus dibayar dengan penderitaan. Memilih calon A hanya karena desakan keluarga, guru, motivator, teman, dan lainnya. Tanpa pertimbangan sendiri. Ditambah pula saat gagal, atas nama menjaga kesadaran, masih harus membuat narasi untuk menenangkan diri sendiri bahwa panjang sabar itu benar.

Kemudian ada yang bertanya maksud 'politically correct' di sini. "Apa kata orang," jawab teman, "Masih langgeng dan lestari sampai ini hari."

Frasa 'political correct' mengesankan sekali bagi saya. Mungkin karena kita hidup di wilayah yang sangat 'mendengarkan orang lain'. 'Politically correct' berhamburan di sini, apalagi bila berhubungan dengan relijiusitas dan budaya. Masyarakat kita yang sangat komunal, membuat kita terlalu mudah masuk ke dalam kehidupan orang lain.
Tidak heran istilah-istilah seperti jomblo, pelakor, bucin, mahmud, santuy, baper, lebih banyak lahir daripada kata-kata yang berkaitan dengan sains. Mungkin karena kita terlalu intens membahas hidup orang lain a.k.a bergosip. Dan berujung dengan ketakutan kita untuk berbeda dengan yang lain, ditambah ketakutan terlihat jahat hanya karena ketakseragaman dengan yang lain. Karena mungkin perbedaan tidak dihargai.

Maka di masyarakat dimana terlihat relijius adalah 'politically correct', Arab Saudi dikecam karena menutup sementara pintunya untuk peziarah. Tetapi sayang sekali 'politically correct' belum menggunakan tipe error kedua dalam membahas perbedaan keyakinan. Bahwa tak ada permasalahan dalam perbedaan keyakinan. Setidaknya sebaiknya mengganggap semua keyakinan itu baik, tak perlu waspada dan berprasangka berlebihan pada keyakinan lain.

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Saturday, February 29, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: