Tingkat Ancaman Kunjungan Soeharto Ke Sarajevo dan Jokowi Ke Afganistan

Ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Presiden Jokowi baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Afghanistan. Dia adalah Presiden Indonesia pertama yang mengunjungi Afghanistan disaat keamanan negara itu lagi berada dalam status SANGAT BERBAHAYA. Di jejaring sosial, kunjungan Jokowi ini dibandingkan dengan kunjungan Soeharto di Sarajevo pada tahun 1995 yang menurut diskusi-diskusi di medsos disebut sebagai SANGAT BERBAHAYA juga.

Pertanyaannya: manakah yang lebih berbahaya?

Well, yang pertama adalah dalam dunia keamanan (security) tidak mengenal yang mana yang 'LEBIH BAHAYA'. Perbandingan ini hanya bisa diukur lewat Resiko. Yang mana yang memiliki resiko lebih tinggi dibanding yang lain. Tetapi biar gampang dicerna, kita pake saja istilah 'lebih bahaya'.

Nah, antara Jokowi dengan Soeharto, tentu saja Jokowi ke Afghanistan itu jauh lebih bahaya dibanding Soeharto ke Sarajevo.

Ancaman terhadap Soeharto di Sarajevo:
1. Sniper
Sniper ini mitigasinya tidak kompleks. Cukup dengan aplikasi: Speed, Distance and Barrier maka resiko Sniper itu bisa dimitigasi dengan seminimal mungkin.

Di foto disini bisa terlihat kalau pertemuan Soeharo itu dilakukan di lokasi dengan gedung tinggi sebagai 'barrier'. Ini otomatis sudah menurunkan resiko ancaman sniper ke LOW. Tentu saat itu, Paspampres pun punya counter-sniper(s)

2. Serangan artileri
Serangan artileri juga mitigasinya tidak komples. Speed, Distance and Barrier pun jadi cara untuk menurunkan tingkat resikonya ke LOW. Paspampres pada jaman tersebut sudah pasti memperhitungkan jarak jangkau (range) dari artileri dari kelompok-kelompok bertikai dan memetakan perjalanan Soeharto melewati jalan-jalan yang tertutup alias berada diantara gedung-gedung sebagai 'barrier'.

3. Tembakan AAG (Anti Aircraft Gun)
Ini adalah resiko tertinggi dalam perjalanan Soeharo di tahun 1995. Tahun 1995 itu NATO sesuai mandat PBBlah yang menggelar pasukannya di Bosnia dan pada tahun 1995 masih ada operasi Deny Flight yang dilakukan oleh Angkatan Udara koalisi. Ini berarti di lokasi pendaratan Soeharto, resiko AAG itu sangat kecil bahkan cenderung tidak ada.

Nah, bagaimana dengan ancaman yang dihadapi Jokowi di Afghanistan?

Nomer 1, 2 dan 3 di atas, ditambah:

4. Green on Blue -
Ini adalah serangan yang dilakukan orang Afghan kepada orang Non-Afghan karena adanya infiltrasi atau 'grievance'. Resiko dari ancaman ini sangat tinggi karena siapapun orang Afghanistan yang punya senjata dan berada di perimeter dekat Jokowi berpotensi membahayakan Jokowi, termasuk pengawal presiden Afghanistan. Adik Hamid Karzai, mantan Presiden Afghanistan pun dibunuh oleh pengawal dan orang kepercayaannya sendiri.

Di foto disini bisa terlihat bahwa semua tentara Afghan yang membawa senjata itu berpotensi menciptakan Green on Blue Attack. Foto berikut adalah pembanding saat US Secret Service melakukan pengecekan terhadap senjata Paspampres sebelum kunjungan Obama di Jakarta, 2010. Ini adalah bentuk mitigasi.

5. Body-borne Improvised Explosive Devices (BBIED) -
Bom bunuh diri yang dibawa oleh orang. Burhannudin Rabbani adalah mantap presiden Afghanistan yang dibunuh oleh pembom bunuh diri yang membawa bom di penutup kepalanya.

6. Vehicle-Borne Improvised Explosive Devices (VBIED) -
Bom mobil baik lewat pembunuh diri yang meledakan dirinya atau yang diledakan dengan remote-control. Ini bukan hal yang asing di Kabul.

7. Complex Attacks -
Ini adalah serangan bom bunuh diri (awal) yang dibarengi dengan serangan bersenjata ke sasaran tertentu. Sebelum Jokowi mendarat, dua complex attacks terjadi di Kabul dengan sasaran hotel internasional dan satu LSM International.

8. Surface to Air Missile (SAM) Attacks -
Serangan roket darat ke udara yang dilakukan saat pesawat mau mendarat atau saat pesawat baru take off.

Beta ngga bisa membayangkan betapa menegangkannya anggota Paspampres saat di Afghanistan, karena ada situasi dimana kondisi keamanan itu berada diluar kendali mereka karena mereka tidak mungkin bisa membaca siapa kawan dan siapa lawan saat di lapangan. Apakah Paspampres melakukan 'vetting' terhadap semua anggota militer Afghanistan yang membawa senjata saat ada di perimeter dekat Jokowi? Apakah mereka mengecek semua senjata dan/atau meminta agar senjata dalam status GREEN? Ini udah masuk OpSec dan hanya Paspampreslah yang bisa menjawab 

Nah, dari perbandingan ancaman di atas, sudah jelas kan, perjalanan yang mana yang 'PALING BERBAHAYA'?

Salut untuk BIN dan PASPAMPRES untuk Job Well done!

Salam dari Iraq

#IndonesiaTanahAirBeta

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Saturday, February 3, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: