Tinggalkan Khatib Yang Khotbah Tak Sesuai Ajaran Rasul

ilustrasi

Oleh : Daniella Rowakomba

Dua bulan jelang pilpres pada April mendatang kembali masa-masa kebencian yang diteriakkan dipanggung-panggung khotbah Jum’at terjadi. Sebuah tindakan dari khatib Jum’at yang menyalahi tata cara khutbah karena pemahaman cupet para orang picik. Dengan berbagai dalih mereka merendahkan bukan saja diri mereka sendiri bahkan agamanya di depan umat muslim.

Mayoritas ceramah berupa fitnahan, ujaran kebencian, dusta dan menghasut terjadi di masjid yang penduduknya heterogen/plural. Bukan masjid yang dipenuhi jamaah berasal atau lahir dan besar dari satu tempat. Seorang aktivis sosmed bernama Damar Wicaksono sudah menyuarakan hal ini sebulan lalu. Dia hadir di majlis sholat Jum’at di Masjid IPB dan mengunggah sebagian materi ceramahnya. Postingannya viral dan kemudian pihak IPB mengambil tindakan. Sebuah halaman FB Jumat kemarin memasang status seseorang yang di screenshoot melakukan tindakan “walk out”. Beberapa netizen mengomentari kejadian yang sama.

Mereka menceritakan apa yang mereka lakukan yaitu beranjak ganti masjid meski sholat Jumat belum dimulai. Setidaknya pengakuan mereka ceramah model politik itu terjadi di Bekasi, Depok, Jakarta dan sekitarnya.

Biasanya atau mayoritas khotib-khotib begitu bukan berasal dari Nahdliyin alias NU. Mengapa? Sebab NU memiliki patokan atau ajaran bahwa materi khutbah Jumat harus berisi refleksi diri atas keimanan. Khutbah harusnya mengemukakan pentingnya kembali pada ketakwaan pribadi pada Allah SWT. Sebagai umat mayoritas seharusnya kita melindungi, menjaga, menegakkan agama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Jauhi hoax, ujaran kebencian, fitnah, hasut dan sejenisnya. Sungguh tuduhan yang sangat keji bila dalam materi khutbah Jumat malah berisi kebencian atau fitnah. Dan Islam jelas-jelas melarang cara berceramah begitu.

 Hal ini sudah tidak bisa didiamkan dan kita sebagai muslim tidak mengambil tindakan. Ada beberapa level tindakan yang bisa dilakukan jamaah. Yang paling mudah ya tinggalkan ceramah serta ganti masjid. Namun jika anda memiliki lebih keberanian, setelah selesai sholat Jum’at tegur sang khatib atau protes kepada takmir masjid.

Bahkan dalam sebuah komentar ada yang mengaku khutbah sempat dihentikan selama 20 menit karena materinya diprotes oleh beberapa jamaah dan terjadi silang pendapat. Sang khatib akhirnya diganti dengan yang lain. Ini tidak hanya kritik tapi juga refleksi bagi para takmir untuk menjaga kesucian masjid dan menegakkan syiar Islam dengan baik.

Sampai saat ini Islam tidak sedang terancam. Beribadah juga tetap sama saja bahkan baru kali ini pemerintah bisa mempertahankan harga ibadah naik haji sama seperti tahun sebelumnya. Masjid-masjid juga bebas menggunakan loud speaker mulai dari pukul 04.00 jelang subuh hingga jam berapapun sesuai kegiatan yang ada di masjid. Pernahkah kita berada di sekitar masjid maksimal 50 meter dan dalam 24 jam mendengarkan berbagai suara yang keluar dari sana. Syiar yang baik adalah yang mampu menggerakkan hati orang merasa teduh bukan sebaliknya.

Wahai muslim, bergeraklah

Monday, February 11, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: