Timses Jokowi Harus Belajar dari Ridwan Kamil

Oleh: Rudi S Kamri

Mungkin tak banyak yang menyadari betapa fenomenalnya kemenangan pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum di pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Barat tahun 2018. Walaupun nama Kang Emil, begitu panggilan akrab Ridwan Kamil, sudah cukup tersohor karena prestasinya sebagai Walikota Bandung periode 2013-2018, tak bisa disangkal bahwa dirinya merupakan underdog di pilgub Jabar 2018.

Betapa tidak, pasangan Kang Emil dan Uu hanya diusung oleh partai-partai yang bisa dibilang tidak punya massa besar di Jawa Barat: PPP, PKB, Hanura, dan Nasdem. Bandingkan saja dengan pasangan Sudradjat-Ahmad Syaikhu yang diusung PKS—yang dikenal sebagai ‘penguasa’ Jawa Barat, Gerindra, dan PAN, serta Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang diusung Golkar dan Demokrat, atau T.B. Hasanuddin-Anton Charliyan yang diusung PDIP.

Lalu apa yang memicu kemenangan Kang Emil di Jabar? Kang Emil sadar, walaupun ia memiliki massa yang besar di dunia maya, di dunia nyata lawan-lawannya lebih diunggulkan. Sempat ada kekhawatiran bahwa tim Kang Emil akan mengulang kesalahan tim Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat di pilgub DKI Jakarta tahun lalu yang terlalu terlena dengan online presence yang sedemikian rupa sehingga abai terhadap pentingnya menghimpun kekuatan akar rumput. Seperti kita ketahui, Kang Emil sangat aktif dan populer di situs media sosial seperti Twitter dan Instagram dan memiliki penggemar setia di medsos. Namun ia sadar bahwa online followers don’t necessarily mean votes; pengikut dunia maya bukan berarti mampu memberikan dukungan nyata di bilik suara.

Di era medsos saat ini, penggunaan buzzer atau pendengung dunia maya dalam kampanye politik memang sangat umum, dan tidak akan mengejutkan apabila Kang Emil menggunakan buzzer yang agresif mengingat popularitasnya di dunia maya. Tetapi hal itu tidak dilakukan timnya. Tim Kang Emil sadar bahwa buzzer yang agresif hanya akan menjadi kontraproduktif, seperti yang sudah terjadi kepada Ahok-Djarot di pilgub DKI Jakarta. Salah satu faktor yang membuat orang enggan memilih Ahok-Djarot pada masa itu adalah buzzer yang terlalu kasar dan agresif dan gagal merebut hati swing voter, serta hanya mampu memperkuat dukungan internal tanpa menambah pendukung baru.

Bahkan ketika pihak Kang Emil diterpa berbagai fitnah seperti isu Syiah, simpatisan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender), dan anti-Islam yang didengungkan kubu lawan, tim online Kang Emil hanya merespons dengan klarifikasi singkat tanpa agresivitas dan reaksi berlebih. Ini jelas berbeda dengan tim online Ahok yang cenderung reaktif dalam menerpa isu-isu yang menyerang pihak mereka, termasuk isu SARA. Dengan strategi ‘aku rapopo’ Kang Emil, yang sedikit banyak mengingatkan akan strategi kampanye Jokowi-Ahok di pilgub DKI 2012 dan Jokowi-JK di pemilihan presiden 2014, publik—terutama swing voters—akan mudah bersimpati kepada pihaknya dan fokus tidak terhadap fitnah-fitnah yang menyerang, melainkan terhadap prestasi dan program kerja yang ditawarkan.

So, tidak ada salahnya strategi "soft campaign" ala Kang Emil ditiru oleh Erick Thohir dkk di Tim Kampanye Nasional - Koalisi Indonesia Kerja (TKN - KIK), bukan ?

Salam Satu Indonesia,
Mentari Raissa Sandiastri *)
21092018

*) Mentari adalah anak saya
#JokowiLagi
#JokowiSATUperiodeLagi

 

Sumber : facebook Rudi S Kamri

Monday, September 24, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: