Timses dan Marketing

Oleh : Riza Iqbal

Sepertinya, kubu oposisi memang panik dan gagap ketika Jokowi menetapkan Erick Thohir sebagai Ketua Tim Pemenangnya. Kepanikan terjadi sebab ini kali kedua langkah strategi Prabowo dan gerombolannya ditekuk Pak Dhe.

Langkah pertama mereka ditekuk saat penentuan cawapres. Saat itu kubu oposisi sudah siap2 ingin mengusung ulama sebagai cawapres. Tujuannya untuk menarik suara umat Islam. Tapi koalisi Prabowo rapuh, banyak kepentingan yg harus difasilitasi.

PKS ingin cawapres dari partainya, begitu juga kelompok HRS yg seolah punya kuasa tapi SBY dan Demokrat tidak ingin berada dibawah ketiak HRS. SBY juga memiliki kepentingan untuk melanjutkan dinastinya dengan mengusung AHY. Prabowo sendiri lebih mementingkan kroni dari Partai Gerindra. Lengkap sudah keroposnya koalisi ini.

Ketika Jokowi memilih Kyai Ma'ruf Amin, itu adalah mimpi buruk bagi kelompok oposisi. Sulit bagi mereka untuk menarik masa umat Islam yg selama ini selalu didengungkan bahwa Prabowo akan mewakili umat Islam. Apalagi kyai Ma'ruf adalah ulama NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Prabowo mencoba bermanufer dengan memilih Sandi Uno, seorang pengusaha muda yg dianggap mewakili kelompok milenial. Kelompok muda adalah target raihan suara terbesar pada pilpres 2019 nanti. Selain itu, kekuatan finasial Sandi sebagai seorang pengusaha juga bisa diandalkan sebagai suport logistik yg dibutuhkan saat kampanye nanti.

Lagi-lagi kubu oposisi harus ejakulasi tanpa ereksi saat Jokowi mengumunkan Erick Thohir sebagai Ketua Tim Pemenangnya, seorang pengusaha muda. Padahal kubu Prabowo memperkirakan tokoh politisi atau mantan militer yg akan dijadikan Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf adalah seperti Jend (Purn) Moeldoko, Prof. Mahfud MD atau Romahurmuziy.

Wajar kubu Prabowo ketar ketir dengan keberadaan Erick Thohir. Pemilik Mahaka Grup ini memiliki usaha yg pangsa pasarnya adalah kalangan muda seperti media, rumah produksi, bioskop dan olahraga. Acara Asian Games ke 18 bisa sukses karena memiliki cita rasa kelompok milenial. Penguasaan media juga menjadi corong ampuh untuk kampanye. Kemenangan Donald Trump di AS tidak lepas dari penguasaan media.

Untuk menutupi kekecewaannya, kubu Prabowo mencoba menghibur diri dengan mengatakan, yg penting siapa yg diusung, bukan siapa Ketua Timsesnya. Ini pemikiran yg salah untuk meraih suara pemilih zaman now. Timses tetap dibutuhkan untuk memperkenalkan calon yg diusung, baik rekam jejak dan program yg akan dilakukan.

Timses pemenangan tidak jauh beda dengan tim marketing sebuah perusahaan. Mereka harus mampu memperkenalkan keunggulan 'produk' yg akan ditawarkan. Jika produk yg ditawarkan sudah terbukti kualitasnya, tim marketing tinggal memberi sentuhan bagaimana mengemasnya agar lebih menarik dan diminati konsumen.

Yang repot jika marketing harus menawarkan produk yg belum diketahui kualitasnya, apalagi jika ada cacat produksi dan mendekati expired date. Marketing harus berjibaku agar produknya masih bisa laku, jika perlu segala kekurangan kualitas produk ditutupi atau pakai cara paksaan agar konsumen mau membeli produk itu.

Kita anggap saja Jokowi dan Prabowo adalah dua perusahaan transportasi. Jokowi sudah terbukti memberi kenyamanan pada penumpang di Solo, Jakarta dan beberapa daerah lain di Indonesia. Sementara Prabowo kendaraannya pernah dihentikan izin trayeknya karena penumpangnya pernah ada yg celaka dan ada juga yg hilang ditengah jalan.

Marketing Jokowi, : "Naiklah kendaraan kami. Akan kami antar anda sampai tujuan dengan selamat. Segala kebutuhan akan kami sediakan agar anda nyaman selama dalam perjalanan."

Marketing Prabowo : "Cepatlah naik kendaraan kami, situasi terminal tidak aman. Akan kami siapkan asuransi jiwa bila terjadi kecelakaan. Akan kami siapkan juga satuan keamanan jika didalam bis terjadi perampokan"

Kita ingin menikmati perjalanan, bukan selalu was-was meski diberi jaminan.

 

Sumber : facebook Riza Iqbal

Monday, September 10, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: