Tiket Pesawat Lebih Mahal Lokal Dibanding Ke Luar Negeri?

ilustrasi

Oleh : Samsul Maarif

Orang orang baru sekarang ribut angkutan penumpang (udara) domestik jauh lebih mahal daripada rute luar negeri.

Padahal itu dari dulu terjadi dalam hal angkutan barang/ cargo via kapal/kontainer.

Saya pernah ngurus kedatangan mesin dari Chongqing China, ke Surabaya freight-nya cuma USD 450 untuk 2 container 40 feet. Atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 6 jt.

Kemudian saya kirim mesin itu ke Takalar Sulawesi via Makasar. Pake pelayaran Meratus. Freight-nya kena Rp 9 juta/kontainer.

Freight adalah biaya angkutan dari pelabuhan ke Pelanuhan (Port to Port). Belum termasuk ongkos angkutan darat ke gudang-nya.

Chongqing China-ke Surabaya makan waktu tempuh 10 hari. Sementara ke Pelabuhan Makassar hanya 2 hari.

Kalau misalnya kita mendatangkan jeruk dari Pontianak ke Surabaya, tarifnya jauh lebih mahal cost nya kalau mendatangkan Jeruk Mandarib dari China.

Freight Cost dari Surabaya ke Batam/Riau, bisa jadi 4 kali lipat freight Cost Surabaya-Singapore. Padahal jaraknya 2 rute itu hanpir sama. Freght Cost Sub-Sin tak sampai usd 200. Tiap hari ada dan banyak pilihan pelayaran.

Sementara Surabaya-Batam bisa setengah mati cari ketersediaan trayeknya.

Ini kita belum bahas soal Papua, Maluku, Halmahera, dsd.

Indonesia menerapkan asas 'cabotage' dalam pelayaran domestik. Artinya, tidak ada boleh pemain asing masuk.

Kondisi geografis Indonesia yang luas dan berpulau2 adalah peluang dan tantangan, tapi sekaligus juga 'kutukan'.

Sumber : Status Facebook Samsul Maarif

Friday, June 21, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: