Tiga Pernyataan Prabowo Yang Rontokkan Cagub Gerindra dan PKS Di Pilkada Rabu Esok

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Rabu (27/6) merupakan hari pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah serentak seluruh Indonesia baik memilih Gubernur Wakil Gubernur, Walikota dan Wakil Walikota maupun Bupati dan Wakil Bupati. Semua partai tentu sudah menyiapkan berbagai strategi untuk memenangkan Pilkada tahun ini. Sebab kemenangan Pilkada tahun ini akan menjadi penentu pemetaan suara di pemilihan legislatif 2019.

Peta koalisi partai terjadi pembiasan atau ketidaksamaan antara level nasional hingga daerah. Jangan berharap apa yang terjadi di tingkat nasional sama dengan yang terjadi di daerah. Pada tingkat nasional berkumpul Gerindra, PKS, PAN dan PBB. Namun di daerah mereka bisa saling berhadapan. Namun jelang Pilkada digelar, Ketua Umum Gerindra justru malah membuat calon-calon yang mereka usung makin khawatir.

Apa pasal? Secara beruntun Prabowo Subianto menyebar pernyataan yang sungguh justru malah bisa membuat calon yang mereka dukung berguguran. Disisi lain, PKS sebagai mitra koalisi mereka melakukan kebodohan dengan memfitnah Gus Yahya yang hadir sebagai pembicara di Israel. Otomatis, umat Nahdliyin ramai-ramai mempromosikan tagar #2019TenggelamkanPKS, #2019GuremkanPKS atau #2019BubarkanPKS. Nampaknya kampanye ini disambut masyarakat luas.

Pertama, tentang tuduhan adanya mark up proyek LRT di Indonesia dari harusnya 8 juta US$ menjadi 40 juta US$. Publik terhenyak dan banyak sumber kredibel bahkan Menhub mempertanyakan sumber data Prabowo. Sebab biaya LRT di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan Philipina apalagi Eropa. Rupanya sumber data didapat Prabowo dari Anies Baswedan Gubernur DKI. Dan saat Anies di konfirmasi wartawan, bukannya menjawab malah meminta wartawan mencari perbandingan atau data yang benar.

Kedua, pernyataan Prabowo untuk melakukan Sholat Istikharah untuk mendukung calon partai mereka. Sebuah kesalahan fatal bagi seorang muslim yang tidak tahu harus melakukan shalat apa. Bagi umat muslim, pernyataan Prabowo ini makin meragukan bahwa Gerindra dan PKS memang tidak kapable bahkan tidak pantas membawa-bawa agama dalam kampanye politik. Masalah sholat Hajat saja tidak faham apalagi membicarakan soal hukum-hukum dalam Islam yang lainnya.

Ketiga, dirinya membuka donasi untuk proses Pilpres 2019 mendatang. Kita semua tahu Gerindra dan PKS sama-sama mengkampanyekan tagar ganti presiden. Namun mereka sendiri belum sepakat siapa capres yang mau diusung. Meski Gerindra sudah mengusulkan Prabowo, PKS sendiri mengajukan 9 daftar Capres. Belum lagi PAN juga mengajukan cawapres ke Gerindra dan merasa lebih berhak dibanding PKS. Jadi donasi itu buat apa? Disisi lain ada kontradiksi, bukankah Prabowo sering bicara rakyat hidup susah, biaya hidup naik, hutang negara meningkat. Anjuran donasi yang aneh.

Ketiga blunder ini sangat berpengaruh pada peta politik terutama Pilgub. Dari 17 Pilgub, setidaknya yang jadi perhatian masyarakat yaitu Pilgub Jabar, Jateng, Jatim dan Sumatera Utara.  Di Jawa Barat, dari survey yang diadakan selama bulan Juni pasangan Sudrajat - Ahmad Syaikhu (Gerindra, PKS, PAN) terseok-seok diurutan ketiga dibelakang Ridwan Kamil (Nasdem, PKB, PPP, Hanura dan PSI) maupun Deddy Mizwar (Golkar-Golkar).

Di Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat (37,8%) mengungguli Edy Rachmayadi (36,9) yang dicalonkan Gerindra dan PKS berdasar survey Indo Barometer bulan Juni. Di Jawa Tengah pasangan Ganjar - Taj Yasin unggul telak atas pasangan yang diusung Gerindra-PKS yakni Sudirman Said lebih dari separo. Yang agak lucu kemudian Jatim, kantong PDIP dan PKB yang mengusung Saifullah Yusuf dan Puti Guntur tersalip surveynya di Bulan Juni oleh pasangan Khofifah Indarparawansa dengan Emil Dardak hanya karena Gus Ipul didukung Gerindra dan PKS. 

Sunday, June 24, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: