Tiga Kekuatan gelap Di Balik Kerusuhan 22 Mei 2019

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Di permukaan, kerusuhan 21-22 Mei 2019 hanya menampilkan egoisme Prabowo yang tak menerima kekalahannya. Di arus bawah, terutama di kantong pemenangan Prabowo seperti Jawa Barat, hoax berkembang massif. Dalam penilaian mereka, Pemerintah dan aparat telah memberhangus kebebasan berpendapat. 

Mereka tak peduli bahwa, dalam kerusuhan itu ada eksekutor dari pihak Prabowo yang dibayar untuk menghabisi massa.

 

Termasuk empat tokoh nasional dan seorang surveyor ternama yang selama ini terlihat condong ke kubu Jokowi. Para pembunuh bayaran yang memang ditugaskan untuk mengadudomba dua kelompok: aparat dan demonstran. Dengan cara menembaki keduanya.

Banyak orang berpikir, kengototan Prabowo itu semata karena ingin merasakan jadi Presiden. Semacam ngidam yang tak keturutan. Ia seorang yang terlahir keras kepala. Karena kemauannya sejak kecil selalu terlaksana. Ia yang sejak jadi tentara bau kencur sudah berlagak jadi tuan besar dan bisa berbuat seenaknya. Padahal setidaknya ada tiga kelompok terselubung di belakangnya.

Pertama, Klan Cendana dengan uang korupsi ribuan triliun ingin mengamankan harta mereka. Kelompok ini pula yang tampaknya telah mengucurkan dana habis-habisan. Maka ketika tahu Prabowo kalah, mereka tetap mati-matian membuat skenario kerusuhan. 

Dengan itu mereka ingin menaikkan posisi tawar. Berharap ada deal-deal tertentu untuk mengamankan masa depan mereka. Kalau bisa, termasuk mengembalikan biaya Pilpres.

Aktornya sebagian memang mantan tantara yang jahat. Tapi kucuran uang yang berlimpah tak mungkin dari kelompok kaya nanggung. Mereka yang kalau mau piknik ke luar negeri paling banter ke Singapura. Tapi belagunya sundul langit. 

Mestinya sumbernya adalah dana tak terbatas. Uang haram yang tak akan habis dimakan tujuh turunan delapan tanjakan. Dari sinilah baru tersambung misteri kepergian Prabowo dengan jet pribadi ke Brunei yang sempat heboh itu. 

Kita asumsikan APBN sebelum 1998 dikisaran 500 triliun saja. Sepuluh persen pungli, dikali tiga puluh tahun kekuasaan Soeharto sudah berapa? Belum bisnis haram anak-anaknya yang membuat banyak orang sengsara. Maka hitungan ribuan triliun itu masuk akal.

Uang sebanyak itu sebagian bercokol dalam wadah bisnis legal. Praktiknya yang ilegal. Dan kebanyakan dari jumlah tersebut tidak mungkin mukim di dalam negeri. Sangat riskan ketika sudah tidak ada pengayom lagi. Terlebih ketika lelaki cungkring dari Solo itu seperti tak mengenal takut. Ia membabat habis kelakukan bejat pungli Orde Baru.

Siapapun yang korup, entah di dalam atau di luar barisan dibabat semua. Ia yang dengan wajah penuh senyum mengajak mereka makan. Orang-orang itu lantas merasa punya beking presiden. Tak disangka esok harinya dijemput KPK.

Kedua, ormas islam garis keras yang mencari celah dari kepemimpinan ambisiusnya. Prabowo punya kelemahan pengendalian diri. Ambisinya mengalahkan akal sehat. Ia akan berhutang banyak pada kelompok dahi hitam-celana cingkrang. Apalagi ketika mereka telah menyusup begitu dalam. Sebagian berkedok partai politik, lembaga pendidikan, dan bisnis berlabel islam. 

Kelompok ini seolah lemah di permukaan. Padahal sudah sejak lama mereka bercokol di BUMN. Salah satu dari petingginya konon juga menyusup dalam pemerintahan Jokowi. Saya terus mengawasi orang ini. Yang sayangnya tidak melakukan kesalahan sampai sekarang. Ia bahkan menunjukkan prestasi gemilang di Kabinet Kerja.

Padahal kalau kita runut jejak ketika Tifatul Sembiring masih berkuasa, orang ini terlibat hubungan yang “ndrawasi”. Tapi sejauh ini memang tidak ada gerakan berarti, selain mengundang ulama abal-abal sekelas Felix Siauw ceramah ke bekas BUMN yang dulu dikendalikannya.

Orang ini adalah contoh, bagaimana kelompok kanan ini pandai berkamuflase. Mereka memakai banyak topeng. Ketika satu topeng terbuka, topeng yang lain disiapkan. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang kita bayangkan. Ada yang rektor universitas, dosen, guru, PNS, RT, dan orang-orang yang bertebaran di sekitar kita.

Sebagian dari mereka mengaku nahdliyin, amaliyahnya amaliyah NU. Tapi corak keyakinannya tidak lagi moderat. Apalagi yang mengaku Muhamadiyah, yang terbiasa membatasi diri. Mereka akan berubah warna jika saja Prabowo berkuasa.

Untungnya doa Neno “Gorden” Warisman, yang sampai menjerit-jerit di atas panggung itu tidak dikabulkan Tuhan. Kelompok penumpang gelap ini kembali bersembunyi. Kalau tidak, selesai Indonesia ini.

Ketiga, barisan sakit hati, termasuk koruptor dan PNS kufur nikmat. Mereka yang menginginkan era transparansi Jokowi berakhir secepatnya. Karena selama ini mereka tersiksa dengan sepak terjang mbahnya Jan Ethes itu. 

Semua potensi ngembat uang negara dibatasi. Kerja suka-suka diberi sanksi. Apalagi konon Perpu untuk memecat PNS telah dirumuskan. Padahal selama ini, Tuhan sekalipun tak sanggup memecat mereka.

Begitu berkuasanya para pencoleng itu di negeri ini. Dan jauh sebelumnya mereka tetap makmur dan bahagia. 

Pesta meriah itu berakhir ketika satu persatu sapi perah dilepaskan. Freeport tak lagi bisa tunggangi. Blok minyak yang besar-besar itu juga telah dinasionalisasi. Para perusak hutan dihukum triliunan rupiah. 51% saham Pemerintah di pertambangan adalah dimulainya era pengendalian penuh Negara. 

Orang-orang ini, termasuk gubernur yang gagal, Anies Baswedan, pastinya menaruh dendam kesumat. Gaya dan polahnya ingin menjegal kebijakan Jokowi. Dengan tak tahu malu, manusia afkir yang dibuang dari kebinet itu cari muka dengan cara menyedihkan. Sayangnya, mereka tak punya daya. Publik sedikitpun tak bersimpati atas sikapnya yang norak itu.

Tiga kekuatan gelap itu bersatu demi tujuan sama, memenangkan Prabowo Subianto. Yang banyak orang tidak tahu, purnawirawan dan pasukan loreng ikut bergerak ke dusun-dusun. Di Jawa Barat misalnya, info di lapangan menyebutkan, pasukan loreng itu bergerak sebelum hari H. Hasilnya Jawa Barat kembali “njebluk”.

Tiga kelompok ini sampai mati akan terus mengobarkan permusuhan. Mereka tak segan membakar Indonesia agar bisa menjarah permata di dalamnya. Maka tak heran, orang seperti Soenarko itu punya rencana gila ingin menghabisi para demonstran dan polisi dalam demo 21-22 Mei kemarin. Padahal kita mestinya bertanya, sebagai purnawirawan mestinya dia lebih mencintai Indonesia. 

Mereka ingin membuat pemicu ledakan permusuhan dengan menciptakan martir. Bayangkan jika ada ribuan korban jiwa ketika senjata selundupan Soenarko itu lolos semua. Beberapa senjata yang lolos telah merenggut banyak nyawa. Di sini, polisi yang jadi kambing hitam.

Oleh sebab itu, siapapun yang mencintai negara ini tak boleh menganggap remeh tiga kuasa gelap di balik kerusuhan Mei 2019. Jangan beri ruang bagi mereka untuk muncul ke permukaan. Tidak juga hoax dan fitnah yang terus-menerus mereka sebarkan. Kita tidak sedang baik-baik saja. 

 

(Sumber: facebook Kajitow Elkayeni/

https://seword.com/…/tiga-kekuatan-gelap-di-balik-kerusuhan…)

Wednesday, May 29, 2019 - 23:45
Kategori Rubrik: