Tiga Gelombang Jihadis

ilustrasi

Oleh : M KHolid Syeirazi

I. Jihadi Non-Salafi
Ini DI/NII. Ideologinya hakimiyyatullah. Tapi mereka bukan kelompok salafi. SM Kartosoewirjo adalah penganut Islam
tradisional, pengamal tarekat.

II. Salafi-Jihadi
Ini JI. Ideologinya hakimiyyatullah plus salafi. Pendirinya Sungkar dan Ba'asyir: dua orang Wahabi tulen. Afiliasinya ke Al-Qaeda. Ideologi jihadinya terbentuk setelah berinteraksi dengan tokoh-tokoh militan eks-IM Mesir yg berjihad di Afghanistan. Sungkar dan Ba'asyir berhasil mengirim ratusan kadernya sekolah militer di sejumlah kamp militer di Pakistan dan Afghanistan.

Dididik lumayan lama, sekitar 2-3 tahun, alumni- alumninya punya skill militer dan pengetahuan agama yang lumayan. Bentuk amaliahnya terencana. Hasilnya spektakuler spt Bom Bali I dan II. Dalam amaliah, mereka haram melibatkan perempuan dan anak-anak.

III. Jihadis Spartan
Ini JAD. Dibentuk oleh Aman Abdurrahman, pengagum Abdurrahman al-Maqdisi. Ideologinya hakimiyyatullah. Afiliasinya ke ISIS. Kader-kadernya produk pelatihan pendek, semacam sanlat di Gunung Jantho, Aceh Besar dan Gunung Pandeman, Batu, Malang. Skill militer dan pemahaman agamanya terbatas. Karena itu, jihadis gelombang kedua menyebut mereka sebagai orang-orang yang jahil agama. Tapi jumlah mereka banyak sekali.
Ada yg bilang sampai 1800 orang.

Amaliahnya cenderung amatiran seperti bom panci atau penusukan Pak Wiranto. Bai'at kadang dilakukan secara online.
Dalam melakukan amaliah, mereka mengajak serta isteri dan anak-anak. Itu pula yang mereka lakukan ketika pergi ke Suriah dan berjihad di sana. Ternyata kecele. ISIS kalah dan hancur lebur. Mereka ingin pulang.

Dulu jihadis gelombang II pulang dari Afghanistan ke Indonesia akhir 1990an. Jumlah mereka sekitar 200an. Mereka langsung menyebarkan penyakit. Indonesia digoncang oleh bom-bom teror.

Kalau sekarang pemerintah menimbang untuk memulangkan jihadis gelombang ketiga, kasihan anak cucu. Mereka meriskir masa depannya dengan bom waktu. Panen raya gelombang keempat mungkin terjadi dalam 1-2 dekade. Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara maju. Warganya tersandera terus oleh mimpi tentang Negara Tuhan. Kata ahli neuroscince, otak yang terpapar ideologi jihadis sulit sembuh. Seperti pecandu narkoba, mereka kambuhan, bisa muncul lagi, tergantung sikon.

Saya menolak keras wacana yang dikembangkan Menag. Dari berbagai ucapan dan kebijakannya selama kurang lebih 100 hari, saya menilai Menteri Agama memang tidak kompeten. Kasihan Pakde yang keliru pilih pembantu. Mengangkat pensiunan jenderal untuk memberantas radikalisme malah bikin gol bunuh diri. Terus menerus.

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi

Thursday, February 13, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: