Tidur di Masjid

ilustrasi

Oleh  Ahmad Sarwat, Lc.MA

Salah satu pengurus masjid cerita mengadu kepada saya. Perihalnya terkait sebagian jamaah yang suka memanfaatkan masjid untuk tidur siang selepas jamaah zhuhur.

Padahal sebelum shalat diumumkan mau diadakan pengajian. Bukannya ikut ngaji malah pada berbaris untuk molor dan ngorok.

Tulisan dilarang tidur dalam masjid sama sekali tidak diindahkan. Malah sdmakin keras dengkurnya, mengalahkan suara speaker pengajian.

Saya bilang ke pengurus, kalau begitu lokasi pengajian kita geser saja, tidak di shaf depan tetapi ke belakang di area dimana biasanya mereka tidur siang. Lokasi tidunya kita gusur untuk pengajian.

Berjalan dua minggu berhasil, ada permintaan dari jamaah perwakilan mereka yang tidur. Mohon disediakan ruang untuk tidur, berhubung mereka butuh istirahat siang karena kerja.

Ternyata kebutuhan tidur siang cukup banyak disampaikan olrh jamaah. Lagian, mereka bilang tidur siang itu sunnah Nabi juga.

Akhirnya dibuat kompromi. Masjid menyediakan ruang tidur siang khusus, plus AC dan penitipan barang, sendal dan sepatu. Tapi berbayar. Kalau yang tidur ada 40 orang, dikalikan 25 ribu perak per-orang, lumayan pengurus masjid sehari dapat sejuta. Cukup buat modalin karpet plus AC dan listrik.

Karena peminatnya banyak, maka dibuatkan sistem booking online. Siapa yang ingin tidur di masjid siang nanti, kudu booking online dulu dan transfer. Tidur bakda zhuhur dibedakan dengan bakda ashar. Dan tidur pagi tarifnya lebih mahal.

Kalau mau nginep harian, chargenya lebih mahal. Setara dengan hotel murah. Dari situlah masjid bisa dapat pemasukan. Begitulah kalau takmir masjid mantan manager usaha dan bisnis. Otaknya berputar tiap hari bagaimana dapat pemasukan.

Uangnya untuk kemakmuran masjid, melengkapi sarana ibadah, juga untuk menyelenggarakan berbagai ragam kajian keilmuan.

Jadi yang tidur membiayai yang pada ngaji. Winwin solution nampaknya. Hehe

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, October 19, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: