Tidak Semua Bencana Merupakan Hukuman Atas Dosa

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Sebagiannya memang demikian, setidaknya yang terjadi pada umat terdahulu. Tapi kita tidak mungkin mengangkat diri jadi hakim, lalu seenaknya main vonis bahwa bencana ini adalah hukuman. Lalu tunjuk sana tuding sini swbagai pendosa, merasa diri sendiri sudah punya tiket di surga.

Kalau bencana adalah hukuman atas dosa, kenapa bencana tidak melanda negeri ateis, komunis dan kafir saja? Kan mereka lebih banyak maksiat?

Pastinya gak pernah ke masjid, nggak shalat jamaah, malah nggak shalat 5 waktu. Gak pernah bayar zakat, Ramadhan seumur-umur belum pernah puasa.

Tidak percaya wujudnya Allah SWT malahan ingkar pada malaikat, rasul, kitab suci dan hari kiamat. Plus nyembah patung sujud pada berhala, percaya zodiak, tahayul, khurofat dan semua perbuatan syirik lainnya.

Rukun Islam dan rukun iman, tak satu pun diterima.

Zina kumpul kebo tiap hari, doyan babi, nenggak khamar, makan riba, sogok, ihtikar, monopoli, nyolong, nimpe, nilep, korup dst dslr.

Kenapa gempa malah melanda daerah yang masih ada muslimnya? Kenapa tidak melanda wilayah yang 0% muslim?

Katanya hukuman? Lha yang salahnya gede banget kok aman-aman saja. Kita yang sudah lulus rukun iman rukun Islam, masih rajin shalat, zakat, puasa, kok malah dihukum?

Kalau pun mau dihukum, seharusnya disesuaikan dengan level kejahatan dan kesalahannya dong. Masak yang salahnya kecil dihukum mati, tapi salahnya gede banget dibiarkan hidup? Kok gitu ya?

So, ini bukan hukuman. Hukuman nanti di akhirat. Di dunia bencana boleh diambil hikmahnya biar kita introspeksi masing-masing dalam hati.

Bukan bahan untuk menuduh dan cari-cari kesalahan orang. Saudaraku, stop peredaran video yang memvonis. Kita ikut duka cita, syukur ikut membantu. Tapi bukan untuk mencari-cari kesalahan sambil merasa diri sudah paling suci.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Sunday, October 7, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: