Tidak Sempurna Ke-NU-an Seseorang Bila Tidak Ada Kelucuan Dalam Dirinya

ilustrasi

Oleh : Siti Fatimah

Soal unggahan guyonan Gus Dur, Inaya Wahid beri sindiran untuk polisi, "Lach yang dipanggil kok yang mengquote, panggil yang bikin Joke dong Pak"

Dan akhirnya Presiden Jokowi melalui Mahfud MD juga memberikan respons soal polisi yang memeriksa seorang warga karena memposting humor ala Gus Dur. Dalam pesannya, Jokowi meminta aparat jangan terlalu sensitif dalam menanggapi aspirasi di masyarakat.

Respons Jokowi itu diungkap oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (MenkoPolhukam), Mahfud MD dalam sambutan pada acara Peluncuran Pengawasan dan Update Kerawanan Pilkada 2020 yang disiarkan secara langsung di akun YouTube Bawaslu:

"Aparat tak usah terlalu menanggapi hoaks-hoaks ringan dan candaan. Ada apa-apa ditangkap, ada apa-apa diadili. Orang mau webinar dilarang. Tidak usah, biarin saja, kata Presiden."

Mahfud MD menambahkan, aparat tidak perlu menanggapi hoaks-hoaks ringan, dan gurauan masyarakat. Meski begitu, Mahfud MD menegaskan bahwa aparat tetap perlu menindak pelanggar hukum dan kriminal.

"Kalau melanggar hukum yang luar biasa, kriminal yang oleh umum dianggap kriminal itu baru ditindak. Kalau cuma bikin hoaks-hoaks ringan, orang bergurau, ya biarin sajalah," papar Mahfud MD.

Ia pun menjelaskan konsep restorative justice. Menurutnya, restorative justice adalah hukum yang digunakan sebagai alat membangun harmoni. Restorative justice bermakna tindakan melanggar hukum guna menegakkan hukum.

Mahfud MD juga menyamakannya dengan konsep affirmative policy dalam konteks birokrasi.

"Nah sama, di Indonesia kita punya restorative justice. Restorative justice itu apa? Hukum sebagai alat membangun harmoni. Sesuatu pelanggaran yang tidak terlalu meresahkan masyarakat selesaikan baik-baik sehingga menjadi baik" jelas Mahfud MD.

Soal Candaan Gus Dur

Diberitakan sebelumnya, seorang warga asal Kepulauan Sula, Maluku Utara, digelandang ke kantor polisi gara-gara unggahannya. Dia mengutip guyonan Mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang berbunyi, "Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng” Namun sayangnya, hal itu berdampak pada pemanggilan polisi karena dianggap telah menghina institusi atau pihak lain.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono mengatakan, Mabes Polri telah meminta Polres Kepulauan Sula, Maluku Utara, untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap suatu candaan yang dilakukan warganya.

Awi pun mengatakan jika pihaknya telah meminta konfirmasi kepada Kabid Humas Polda Malut terkait dengan pemanggilan seorang warganet yang mengunggah guyonan Gus Dur di Facebooknya, dan hasil wawancara, dia (terlapor) tidak bermaksud menghina institusi atau siapa pun terkait dengan candaan itu.

Awi juga berpesan kepada jajaran Polres Kepulauan Sula agar tidak memaksakan pengenaan unsur pidana dalam kejadian ini.

"Kalau memang tidak ada unsur pidananya, jangan dipaksakan, Gitu aja kok repot" 

Sumber : Status Facebook Siti Fatimah

Friday, June 26, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: