Tidak Makan Infrastruktur

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Apakah emak-emak yang ‘tidak makan infrastruktur’ terjadi dengan sendirinya? Tidak! Sebelumnya, pernyataan-pernyataan itu muncul dari para elite, kebetulan saja dari kubu oposisi. Fadli Zon 2015 mengatakan, “Infrastruktur sudah bagus, tapi masyarakat tidak terlalu butuh karena yang dibutuhkan itu adalah makan. Masyarakat mau makan beton?, masyarakat mau makan campuran?, yang dimakan itu nasi,...”

Pernyataan serupa itu Rachel Maryam, kader Gerindra yang kini rajin berhijab, "... Apakah iya anak-anak masyarakat miskin bisa dikasih makan semen, tol? Apakah bisa dikasih makan Aspal?" Vokalis Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, TPN Prabowo-Sandi, ngetuit; “Yg hebat cuma CERITA YG MENDEKATI FIKSI.” Dan ujung dari semua kalimat itu, dalam area kampanye terbuka, akan disaut yel-yel, “Ganti Presiden!”

 

 

Di negeri demokrasi, siapa capresnya tentulah bebas. Juga misal Tukang Ojek Online, dulu ngarep Jokowi tapi lantaran kecewa terus beralih ke Prabowo. Tak peduli bagaimana dulu mereka marah pada Prabowo, karena dianggap profesi remeh. Milih capres boleh tergantung emosi jiwa, disamping pemenuhan kepentingannya tentu. Tak perlu tolok ukur, track record, dan jejak digital. Apalagi ngomong penghargaan reputasi dan prestasi.

Kampanye pilpres yang dimulai 23 September 2018, juga tak memberi pelajaran baik. Yang muncul hanyalah eksploitasi, penjajahan manusia atas manusia. Jika pun disebut-sebut agama, tak berkait nalar, nurani, dan akhlak. Rakyat hanya dieksploitasi keterbatasannya, bukan dieksplorasi dengan tantangan perubahan

“Mereka sekumpulan yoyo,” ujar Saul Bellow, sastrawan AS penerima Nobel melihat politikus. “Merebut posisi presiden sekarang adalah satu persilangan antara kontes popularitas dan debat anak SMA, dengan ensiklopedi berisi kata-kata klise.”

Orang-orang pinter bukannya melakukan pendampingan atau pemberdayaan, tapi justeru penyesatan atau memperdaya. Infrastruktur tentu tidak untuk dimakan, kecuali pemerintahannya korup, semen pun ditilep. Tapi, ketika jembatan ambrol, jalur jalan, distribusi sembako terputus, apakah kemudian mereka itu makan infrastuktur? Tentu tidak.

Infrastruktur tak untuk dimakan. Infrastruktur adalah katalis hak dasar manusia. Dengan infrastruktur (entah berupa jalan, jembatan, saluran irigasi, dlsb) maka bahan pangan bisa tumbuh dan berkembang karena sistem irigasi, dan jalan yang dibangun mampu mengintegrasi semuanya, terdistribusi baik ke konsumen dengan mudah, cepat dan murah.

Jadi sudah benar, emak-emak dan para instrukturnya tak sudi makan infrastruktur. Tapi menolak pembangunan infrastruktur, diiringi yel-yel ‘ganti presiden’, hanya menunjukkan jahatnya mereka, menghalangi yang waras mendapatkan prasarana penunjang.

Untuk apa prasarana? Agar hidup lebih lebih asyoi, karena keterhubungan dengan berbagai kepentingan, saling menopang. Sedang kebencian? Memang tak butuh infrastruktur, karena ia bisa terbang secepat kilat, nyamber jiwa-jiwa baper, berkelojotan.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, December 15, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: