Tidak ada Target Pertumbuhan

ilustrasi

Oleh : Arum Kusumaningtyas

Untuk kali pertama dalam sejarah ekonomi modernnya, China tidak akan menetapkan target pertumbuhan 2020. Tetapi fokus penciptaan 9 juta lapangan kerja baru & penguatan pasar konsumennya, yang semua identik dengan kelompok urban millenial.

Negara ini jelas paham dan segera berstrategi untuk 'NEW NORMAL' pasca covid. Perekonomian global jelas tidak akan lagi sama. Penguatan jejaring ekonomi dan logistik jadi andalan.

Jadi, mengelola dampak covid, pekerjaan-pekerjaan yg harus hilang ya biarkan saja. Termasuk industri-industri yg menopangnya. Tidak perlu stimulus fiskal untuk mempertahankannya. Jelas pertumbuhan ekonomi akan ambruk, karena titik-titik baru ekonomi tumbuh belum optimal. Ibarat bibit, dia sedang memecah diri dan hendak muncul ke permukaan tanah. Alias tahap persemaian. Artinya, Pemerintah China telah melakukan identifikasi pekerjaan-pekerjaan unggulan mendatang, sektor tumbuh negaranya. Bibit-bibit unggul yg disemai lah ya...pelatihannya jelas bukan macam di Pra Kerja kita. Bukan proses instan, tetapi pekerjaan terstruktur dan masif penuh perhitungan. Mirip kebijakan Cipta Kerja dan SKKNI kita sebenarnya

Nah, agar tidak menjadi beban moral bagi pemerintah, kelompok bisnis dan masyarakat, terlebih kaitannya dengan kebijakan pajaknya. Terutama sektor-sektor pekerjaan baru ini, masih memerlukan skema penghitungan insentif dan pajak yg tepat oleh negara agar mampu tumbuh optimal. Pemerintah China, mengubah peranannya.

Stimulasi yg utama adalah penguatan kapasitas Market Intelligent Unit oleh negara dengan mengubah trade show tahun 2019 kemarin dengan IMPORT & EXPORT to China. Menjadikan China sebagai offtaker dunia. Jadi ya ketika Wuhan terjadi Lock Down, wajar yang demam sedunia kan.

Nah, bagaimana New Normal ala Indonesia? Kalau sekedar alih ke onlen-onlen tanpa merubah sistem kerjanya...ya wassalam lah kita mengikuti perubahan sistem ekonomi global pasca Covid 19. Perpu 1/2020 yang sudah disetujui menjadi UU No 2 tahun 2020 tentang KEBIJAKAN KEUANGAN NEGARA DAN STABILITAS SISTEM KEUANGAN UNTUK PENANGANAN PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) DAN/ATAU DALAM RANGKA MENGHADAPI ANCAMAN YANG MEMBAHAYAKAN PEREKONOMIAN NASIONAL DAN/ATAU STABILITAS SISTEM KEUANGAN menjadi tidak cukup. Tentang batasan CAD saja misalnya...sudah mendekati ambang yg dipersyaratkan UU tersebut.

Lagi-lagi, sangat dipengaruhi bagaimana China riding the wave of change. Aaaah, andai kita mau membuka diri, menghilangkan stigma-stigma SARA dan mau mengelola diaspora kita ya 

Sumber : Status Facebook Arum Kusumaningtyas

Saturday, May 23, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: