Tidak Ada Fiksi yang Lebih Dahsyat dari Agama

ilustrasi

Oleh : Lutfi Assyaukanie

Beberapa bulan sebelum wabah coronavirus menghantam Iran, Ayataullah negeri itu mengeluarkan fatwa haram membaca buku-buku Harari, khususnya "Sapiens." Alasannya, buku itu beracun, mengandung ajaran-ajaran Darwinisme (teori evolusi maksudnya) yang anti-Tuhan dan anti-agama.

Ayatullah pasti belum baca bukunya. Atau dia tidak paham maksudnya. Sapiens bukanlah buku tentang Darwinisme, apalagi tentang ajakan untuk membenci agama atau Tuhan. Sama sekali tidak. Dalam buku itu, Harari justru mengajak kita untuk menghargai manusia, yang begitu dahsyatnya telah menciptakan berbagai hal yang membuatnya terus bertahan hidup.

Sepanjang sejarah, jutaan spesies hewan punah. Dalam satu juta tahun terakhir, ratusan spesies homo punah. Manusia (Sapien) adalah satu-satunya spesies homo yang mampu bertahan hidup. Bukan karena kita lebih kuat dan berotot. Kalau otot menjadi ukuran, mestinya Neanderthal yang survive, bukan kita. Tapi Neandhertal punah.

Apa rahasia kekuatan manusia? Apa yang membuatnya terus mampu bertahan hidup? Jawabnya satu: kemampuannya membuat cerita.

Sepanjang sejarah evolusinya, manusia telah mengarang beragam cerita, membuat cerita tentang apa saja yang mampu membuat mereka bertahan hidup. Nenek moyak kita menciptakan cerita-cerita tentang hantu pada malam hari, agar anak-anak dan anggota keluarganya selamat dari terkaman macan atau gigitan ular, jika mereka keluar sembarangan pada malam hari.

Seorang ibu yang sibuk keluar-masuk dapur mengarang cerita bahwa anak perempuan akan dilamar urung jika duduk di muka pintu. Padahal, dia hanya tak ingin sang anak menghalanginya ketika ia berlalu-lalang menuju dapur.

Sekitar 70 ribu tahun lalu, seorang kepala suku mengarang cerita tentang kehidupan setelah kematian, karena mendapati salah satu warganya yang hampir gila karena ditinggal mati ayahnya. Ia bermaksud menenangkan sang warga, bahwa suatu saat nanti, dia bisa ketemu lagi dengan ayahnya.

Agama, kata Harari, diciptakan manusia pada saat-saat krusial seperti itu. Agama adalah sebuah cerita tentang hal-hal yang tak bisa ditanggulangi manusia. Ketika manusia merasa lemah, dia menciptakan sebuah cerita tentang suatu yang maha-perkasa. Ketika manusia merasa bodoh, dia menciptakan cerita tentang sesuatu yang maha-tahu. Ketika manusia merasa terbatas, dia menciptakan cerita tentang sesuatu yang maha-segalanya.

Dari abad ke abad, cerita-cerita itu semakin banyak. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan cerita yang telah diciptakan manusia. Gunanya satu: demi survival, keberlangsungan hidupnya. Harari tidak membenci agama atau tuhan. Dia justru menghargai dan kagum dengan kreatifitas manusia yang mampu membuat fiksi yang begitu memukau. Tidak ada fiksi yang lebih dahsyat dari agama.

Sumber : Status Facebook Lutfie Assyaukanie

Sunday, March 22, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: