TGB

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Beberapa kali pernah bertemu dalam event kegiatan dulu di NTB, saya masih belum tau gimana menilai TGB, Tuan Guru Badjang. Hanya pelacakan thd figur beliau menarik.

Lahir sebagai kasta elit golongan kyai di NTB, cucu dari Hamzanwadi (Hajji Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd Nahdlatul Wathan Dīniyah Islāmiyah) pendiri Nahdlatul Wathan, tuan guru kabarnya mewarisi kecerdasan sangat tinggi. Beliau satu dari sedikit lulusan berpredikat Summa Cumlaude dari Kairo, seperti pak Quraish Shihab. Akan tetapi kasta elit dan pencapaian itu tidak merubah pembawaannya yang kalem, sederhana, bicara tenang dan dalam. Beliau kabarnya berhasil menjembatani lagi perpecahan yang terjadi di tengah Nahdlatul Wathan.

Tentang pencapaiannya sebagai Gubernur NTB, terus terang saya tidak bisa menyimpulkan. Soalnya gak mudah menilai kinerja kepala daerah, orang bisa kasih satu dua fakta, tapi menilai kinerja yang bener perlu banyak data yang gak mudah didapat.

Tapi lucunya saya malah banyak melacak cerita pernikahannya. Soalnya kakeknya dikenal punya banyak istri, jadi sebel juga kalau tradisi ini juga diwariskan. Tuan guru bajang kabarnya ‘dijodohkan’ dengan putri cantik pimpinan pesantren As Syafiiyah Jakarta, Rabiatul Adawiyah. Pernikahan ini didorong keinginan kedua keluarga pesantren besar ini untuk mewariskan ilmu dan keturunan yang baik. Pasangan ini dikaruniai 3 anak, tapi nampaknya beliau ‘gak bisa melupakan Melia dari masa lalu’ alias kekasihnya semasa kuliah, yang juga seorang perempuan cerdas, Erica L Panjaitan, mantan reporter SCTV. Tuan guru lalu mengajukan talak terhadap Rabiatul Adawiyah, dan menikahi Melia-nya, diiringi twit2 terluka mantan istrinya yang merasa ada Melia menyerobot Dylan-nya.

Saya belum tau gimana menilai kapasitas beliau, apalagi misalnya digadang-gadang sebagai calon wakil Pakde Jokowi (satu opsi yang menarik untuk menghadapi populisme Islam), tapi cara tutur beliau memang runtun dan baik, pembawaan yang kalem, dan cukup catch up dengan discourse2 terkini.

Sebagai rakyat jelita, eh jelata, saya mah hanya bisa menilai dari gesture dan potongan informasi dari sana sini. Tapi jangan remehkan gesture, cara paling alami rakyat menilai calon pemimpinnya..

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Saturday, April 7, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: